Templates by BIGtheme NET
Home / Nasional / Hari Film Nasional: Film Indonesia Tak Mampu Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Hari Film Nasional: Film Indonesia Tak Mampu Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

hari-film-nsional

LINTAS NASIONAL – Hari ini, yang bertepatan dengan 30 Maret 2015 adalah hari dimana insan film Indonesia bersukacita. Inilah hari dimana film Indonesia mendapat pengakuan dari pemerintah dan dijadikan sebagai Hari Film Nasional. Sejak tahun 1950, bertepatan dengan syuting perdana film “Darah dan Doa”, setiap tanggal 30 Maret kemudian diperingati sebagai hari untuk menghormati perfilman nasional. Namun ditengah sukacita tersebut, terselip pula rasa miris yang memicu keprihatinan.

Apalagi kalau bukan mengingat fakta bahwa di Indonesia, perfilman nasional justru lesu dan tak bisa jadi tuan di negeri sendiri. Film Indonesia terpuruk pada titik nadirnya dan sulit untuk menyedot penonton dalam jumlah yang besar. Meski ada juga yang beberapa berhasil menyedot penonton dalam jumlah besar, namun sayangnya jadwal tayang dibioskop tidak selama film-film box office Hollywood.

Faktanya, film Indonesia memang kurang mampu guna memancing minat penonton untuk berbondong-bondong datang ke bioskop. Tak pernah terlihat antrian penonton untuk tiket film Indonesia yang diputar di bioskop. Beberapa film baru seperti “Hijab” dan “Habibie dan Ainun”, memang sukses menyita perhatian penonton. Namun hanya ditempat dimana bintang acara tersebut hadir untuk menyapa penggemarnya.
Selebihnya dari itu, ruang teater dimana film Indonesia diputar selalu sepi dan tak pernah terlihat antrian penonton disana. Penonton seolah enggan untuk menonton film produksi negeri sendiri. Mereka justru memilih untuk menghabiskan uang mereka setiap minggunya untuk menonton film Asing yang diputar di bioskop kesayangan.

Kekecewaan mungkin menjadi alasna banyak orang untuk enggan datang dan menonton film Indonesia di bioskop. Maraknya film Horror yang dibumbui adegan semi erotis plus spesial efek yang standar, cerita yang garing serta dipaksakan membuat penonton menjadi judgemental terhadap film-film Indonesia. Sayangnya, justru film seperti ini menjadi lebih terkenal dikarenakana nama bintang sensasional yang menjadi para pengisinya.

Sebenarnya, banyak sekali film Indonesia yang berkualitas dan bermutu serta layak untuk ditonton. Mulai dari “Laskar Pelangi”, “Denias: Senandung Diatas Awan”, “Janji Joni” dan yang paling fenomenal sebagai tonggak bangkitnya perfilman Indonesia, “Ada Apa dengan Cinta”. Namun sayang kesuksesan film-ffilm tersebut seolah hilang gaungnya dan tertelan oleh film-film semi erotis kacangan yang tak layak untuk ditonton.

Sulitnya film Indonesia untuk berjaya di neegri sendiri juga mungkin akibat bombandir film asing yang masuk ke Indonesia. Namun membatasi film import bukan berarti bisa membuat film Indonesia bisa berjaya di negeri sendiri. Yang harus dibenahi tentu saja sumberdaya manusianya. Bagaiman usaha para sineas Indonesia untuk bisa menciptakan film bermutu dan tidak kacangan ,yang mampu bersaing dengan film papan atas Hollywood. Dan tentu saja, yang lebih penting adalah membangun kecintaan masyarakat terhadap film nasional agar berjaya di negeri sendiri.

Sumber Beranda

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful