Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Din Minimi Bantah Ada Yang Bekengi Kelompoknya

Din Minimi Bantah Ada Yang Bekengi Kelompoknya

Din-Minimi

LINTAS NASIONA, LANGSA – Sukriadi alias Gambit menyesalkan sejumlah pihak yang menyamakan dirinya dengan kelompok Din Minimi. Pasalnya, Gambit mengaku tidak terlibat dalam rangkaian aksi kriminalitas bersenjata api terhadap aparat keamanan dan berbagai kasus penculikan yang belakangan ini kerap terjadi.

“Kalau saya jelas, tuntutan saya tidak berbau politik. Saya hanya berharap ada pemerataan ekonomi di kalangan mantan kombatan GAM dan korban konflik,” ungkap Gambit yang secara khusus menghubungi Serambi, Rabu (8/4) sore.

Dalam percakapan per telepon tersebut, Gambit mengatakan bahwa ia dari dulu tidak pernah menyerang aparat dan masyarakat sipil, termasuk menculik orang. “Saya hanya melancarkan aksi konfrontasi terhadap pimpinan saya sendiri yang sudah duduk di pemerintahan,” kata dia.

Ditanya tentang adanya keinginan Komisi I DPRA untuk menemui kelompok bersenjata, termasuk dirinya, Gambit menyatakan, “Untuk apa mereka bertemu saya? Lebih baik mereka mencari solusi kesejahteraan para kombatan GAM dan korban konflik,” tukasnya.

Menurut Gambit, munculnya kelompok seperti dirinya akibat tidak adanya perhatian dari Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang diusung oleh Partai Aceh. “Sekarang bagaimana mau menyejahterakan kami, karena mereka berdua saja tidak kompak,” ujar Gambit.

Ia contohkan, Din Minimi adalah anak dari seorang kombatan GAM dan berstatus korban konflik. “Ya, seperti itulah jika Pemerintah Aceh tidak serius menyejahterakan para korban konflik,” ungkap Gambit.

Selain itu, ia mengaku selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait situasi di Aceh Timur. “Saya tidak ada sangkut pautnya dengan Din Minimi. Saya juga tidak terlibat aksi penyerangan aparat,” pungkas eks kombatan ini.

Sebelumnya, nama Gambit ikut disebut Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh SH untuk ditemui, selain Din Minimi, guna menggali apa masukan dan tuntutan mereka kepada Pemerintah Aceh agar gangguan keamanan, termasuk penculikan tak terjadi lagi di Aceh.

Berbeda dengan Gambit, Din Minimi mengaku tetap pada pendiriannya memperjuangkan hak-hak politik seperti yang tertuang di dalam MoU Helsinki. “Jangan bertemu saya jika masalah MoU Helsinki belum selesai,” tegas Din Minimi per telepon kepada Serambi, Rabu (8/4), via hp Ketua LSM Aceh Human Foundation, Abdul Hadi Abidin.

Ia mengatakan, DPRA sebaiknya fokus kepada upaya memperjuangkan realisasi butir-butir MoU Helsinki. “Sebaiknya mereka berjuang merealisasikan MoU untuk kesejahteraan rakyat Aceh,” kata Din Minimi menanggapi ulang pernyataan Abdullah Saleh yang ingin menemuinya.

Selain itu, Din Minimi juga membantah bahwa kelompoknya dibekingi pihak tertentu. “Yang melindungi saya adalah rakyat kami sendiri,” ungkap Din Minimi.

Sementara itu, Ketua LSM Aceh Human Foundation, Abdul Hadi Abidin kembali menegaskan bahwa ia siap memfasilitasi keinginan pemerintah untuk bertemu dengan kelompok bersenjata di Aceh Timur.

Sementara itu, Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin SH mengatakan kemunculan kelompok bersenjata Nurdin Ismail alias Din Minimi merupakan bentuk kegagalan reintegrasi mantan kombatan GAM pasca-MoU Helsinki.

 

“Kami sudah lakukan investigasi ke lapangan hampir seluruh Aceh. Masih banyak mantan kombatan dan korban konflik yang belum tersentuh dana reintegrasi. Din Minimi salah satu contoh yang menjadi korban gagalnya reintegrasi,” kata Safaruddin kepada Serambi di Banda Aceh, Rabu (8/4).

Menurutnya, Din Minimi merupakan mantan kombatan GAM yang tersisihkan. Ayahnya bersama seorang adiknya juga terbunuh dalam konflik, sementara dirinya tidak mendapatkan apa pun dari program reintegrasi. “Mereka hanya mendengar saja uang reintegrasi ratusan miliar, tapi tidak pernah sampai ke mereka,” ujarnya.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI), Sudirman menyebutkan kehadiran kelompok bersenjata di Aceh mengindikasikan proses reintegrasi mantan kombatan GAM ke dalam masyarakat tidak berjalan maksimal. Menurutnya menangkap Din Minimi, tidak akan menyelesaikan masalah. “Penyelesaian masalah itu harus dari akarnya. Bukan dengan meredam dengan cara-cara kekerasan,” ujarnya.

Anggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky meminta elite di Aceh menghentikan pernyataan yang dapat memperkeruh suasana. Menurutnya, pengalaman sejarah telah membuktikan konflik tidak dapat diselesaikan lewat jalan kekerasan. “Saat ini masih banyak mantan kombatan GAM yang belum tersentuh reintegrasi. Pemerintah harus melihat hal ini sebagai persoalan serius pascadamai,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Gerakan Intelektual Se-Aceh (GISA), Tgk Mukhtar Syafari Husin MA. Dalam enam pernyataan sikap mereka yang dikirim lewat siaran pers ke Serambi kemarin, salah satunya sikap Din Minimi terjadi dilatarbelakangi perlakuan ketidakadilan, reintegrasi yang kurang tepat saran, dan kontrasnya kondisi antara orang-orang berjasa di masa konflik dulu saat sekarang ini. Sebagian sudah mendapat kekuasaan dan kekayaan, sebagian justru tak mendapat apa-apa dari pemerintah.

Sumber:Serambinews.com

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful