Templates by BIGtheme NET
Home / Dakwah / Safari Ramadhan, Misi Persatukan Umat Islam

Safari Ramadhan, Misi Persatukan Umat Islam

Foto: Ilustrasi

Foto: Ilustrasi

LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Tim Safari Ramadhan Pemko Banda Aceh, 1 Juli 2015 mengunjungi Masjid Taqwa, Seutui Banda Aceh. Walikota Banda Aceh, Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE memimpin tim safari ini bersama dengan Wakil Walikota, Drs H Zainal Arifin dan Sekdako Ir Bahagia Dipl SE. Selain itu dalam tim juga ikut serta para Camat dan seluruh Kepala SKPD jajaran Pemko Banda Aceh.

Seperti biasa, di setiap Masjid yang dikunjungi, tim menyerahkan dana kemakmuran Masjid sebesar Rp. 10 juta, uang ini diserahkan oleh Wakil Walikota kepada Keuchik gampong Seutui T Saiful Banta SE Ak.

Seusai melaksanakan shalat Isya, Ustad Mizaj Iskandar menyampaikan tausyiah singkatnya. Katanya, ceramah disampaikan sesuai dengan misi Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mempersatukan umat Islam.

Cemarah dengan tema ‘menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam’ disampaikan didepan ratusan jamaah agar umat tidak mudah terkotak-kotak hanya dengan persoalan perbedaan hal-hal kecil.

“Tema ini berat, mengingat telah terjadinya perselisihan tata laksana pelaksanaan ibadah shalat Jum’at baru-baru ini di Masjid Raya Baiturrahman,” ujar Ustad Mizaj.

Lanjut Ustad alumni Mesir ini, para ulama, ketika berbicara perbedaan dikalangan umat, ada tiga hal yang mesti dipahami.

Perbedaan pertama di ranah agama, yang benar memilih agama adalah muslim, yang salah pilih agama digolong kafir atau musyrik.
“Konsekwensinya, yang benar memilih agama, yakni Islam nantinya berhak reward, yakni syurga. Sedangkan yang salah, adalah neraka,” ujar sang Ustad.

Yang kedua, perbedaan di ranah keyakinan, konsekwensinya dua, muslim yang baik dan muslim yang sesat.

Perbedaan yang ketiga, pandangan dalam agama yang sifatnya teknis pelaksanaan, seperti tatalaksana memegang tongkat khatib shalat Jum’at, azan sekali dan dua kali hingga jumlah melaksanakan taraweh, seperti 8 raka’at dan 20 raka’at.

“Perbedaan ditingkat ketiga ini tidak menimbulkan muslim menjadi kafir karena hanya masalah teknis (tata laksana saja),” ungkap Usatd Mizaj.

Lanjutnya, seperti dikatakan seorang ulama besar, Ahmad Juwaini, perbedaan teknis dalam pelaksanaan ibadah tidak menyebabkan muslim lain menjadi kafir.

Diakhir ceramahnya, Usatd Mizaj mengajak umat Islam harus memiliki prinsif dalam menyikapi perbedaan.

Katanya, mari kita tolong- menolong dalam hal-hal yang kita sepakati dan ayo kita saling memaafkan dalam hal-hal yang kita selisihkan.

“Seandainya prinsif ini kita capai, maka tidak ada saling menyalahkan dan saling memvonis sesama umat islam, tidak ada lagi istilah mereka sesat, halal darahnya dan lain-lain,” tutupnya.(AN)

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful