Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / OPINI: Nestapa Kebodohan, Sanggupkah Indonesia Hadapi MEA?

OPINI: Nestapa Kebodohan, Sanggupkah Indonesia Hadapi MEA?

Siti Arifa Diana opini

Oleh : Siti Arifa Diana

Indonesia telah menyepakati kerjasama pasar bebas Masyarakat ASEAN (MEA) dalam akhir tahun 2015 mendatang. Wacana yang ditawarkan dalam kesepakatan ini bertujuan untuk merealisasi Integrasi ekonomi negara-negara di Asia Tenggara. Strategi-strategi yang telah dibangun tersebut tentu  membawa banyak manfaat bagi suatu bangsa seperti; turunnya angka kemiskinan dan kesenjangan sosial, meningkatnya pertumbuhan investasi, peningkatan produk domestik bruto, mengurangi pengangguran, serta peningkatan mutu perdagangan dunia.

Dalam hal ini, Indonesia perlu menguatkan berbagai sektor untuk melangsungkan kesiapan dalam menghadapi MEA.  Seperti halnya berkaca pada bentuk mental dan karakter budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya. Masyarakat Indonesia perlu mengenal dan memahami diskursus-diskursus perihal apa itu Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sehingga apabila kerjasama antar negara ASEAN ini dilangsungkan, minimal masyarakat memiliki gambaran dasar dan sedikit mengurangi kegugupan dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi berbasis global ini. Terutama bagi masyarakat yang berada dalam ranah keterbatasan jaringan dan kualitas pendidikan, yang sangat minim tersentuh sosialisasi akan informasi dan keterbukaan-keterbukaan publik.

LEMAHNYA PERSIAPAN

Ibarat seorang anak yang duduk di taman kanak-kanak yang baru akan belajar penjumlahan, perkalian dan pembagian mata pelajaran matematika, namun gurunya terlebih dulu mengajarkan anak muridnya tentang Aljabar yang seharusnya dipelajari oleh anak-anak SMP atau SMA.

Begitulah konteks yang dihadapi oleh masyarakat di Indonesia. Bagi segilintir orang yang memiliki pembekalan yang cukup maksimal menghadapi MEA, tentu bukan menjadi kendala yang rumit dalam menjalaninya. Zona ekonomi global ini tentu memiliki daya yang efektif untuk meraub keuntungan ekonomi yang lebih besar atau untuk memperkayanya dalam pusaran pasar bebas.

Namun tidak bagi kebanyakan masyarakat yang lain. MEA dianggap sebagai suatu dilema yang dapat meredupkan eksistensi mereka untuk bersaing secara ekonomi akan pembekalan yang lemah baik dari segi skill dan mental akan sumber daya manusianya. Mereka yang tergolong dalam realitas ini, tentu sangat lemah bahkan mungkin tidak siap untuk berkompetisi dalam dunia pasar bebas ini.

Impelentasi MEA dianggap hanya untuk menguntungkan tenaga kerja profesional yang memiliki jaringan yang kuat sehingga mereka dapat dengan mudah bersahabat dengan mobilitas ekonomi ASEAN ini.

Sangat disayangkan, karena mayoritas penduduk di Indonesia ini justeru berada dalam Indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) Indonesia yang masih rendah. Ini merupakan potret kelemahan persiapan masyarakat Indonesia untuk terjun dalam loyalitas MEA. MEA hanya akan menjadi suatu keniscayaan yang menghantui masyarakat karena takut akan terjajah dalam bidang ekonomi. Ancaman-ancaman bagi tenaga kasar misalnya yang menjadi “Dominan” bagi kalangan masyarakat di Indonesia yang banyak menyumbang devisa yang cukup besar bagi bangsa ini. Kegalauan mereka justeru memuncak karena sedikit mendapat keramahan  di era MEA.

NESTAPA KEBODOHAN

Ada banyak kecacatan yang menyelimuti bangsa ini yang menjadi sebuah karakter yang membudaya dalam masyaratnya.

Yaitu sikap-sikap yang  kerdil yang terpelihara dan memiskinkan masyarakat itu sendiri. Yakni “KEBODOHAN”.

Perlu digaris bawahi, yang saya maksud kebodohan disini tentu bukanlah suatu sifat manusia yang berdaya lemah dalam konteks pengetahuan, karena pada dasarnya manusia tidaklah bodoh karena apabila mereka memiliki motivasi untuk belajar dan menggali ilmu serta potensi justeru mereka bisa menjadi cerdas dan mendapat derajat yang khusus. Seperti yang terdapat dalam Qs Al Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ

Artinya :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat  (Q.s. al-Mujadalah : 11)

Keutamaan lainnya dari ilmu adalah dapat mencapai kebahagiaan baik di dunia ataupun di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi :

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ (رواه الطبراني)

Artinya

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu (HR. Thabrani)

Dalam penjelasan ayat dan hadits diatas jelas menerangkan manusia apabila ingin mendapat derajat dan kehidupan yang baik tentu perlulah untuk menuntut ilmu. Dan tentunya orang yang berilmu mampu menjembatani arena yang menyesatkan mereka pada suatu sikap-sikap yang bodoh. Tidak ada orang bodoh melainkan mereka sendiri yang menghendaki diri mereka untuk menjadi bodoh.

Persoalan  “Kebodohan” yang saya angkat disini tentu  masih berkesinambungan dalam konteks lemahnya masyarakat Indonesia menghadapi MEA.

Saya mengamati banyak kecenderungan-kecenderungan orang-orang yang menyesati dirinya sendiri dan masuk kedalam lubang buaya buatannya sendiri. Seperti halnya membatasi diri untuk menjadi berkualitas dengan menghalalkan cara-cara yang melanggar kode etik. Belum lama ini  Polres Kota Banda Aceh membongkar sindikat pemalsuan ijazah yang seolah dikeluarkan dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Zulkifli, Jumat 5 Juni 2015, mengatakan, polisi menangkap satu orang tersangka diduga sebagai pencetak ijazah palsu Unsyiah, dan menangkap orang diduga sebagai pemesan ijazah tersebut. (Lintas Nasional)

Sungguh ironi, ditengah seru-seruan planning Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sangat dekat didepan mata, fenomena semacam ini masih merasuki tubuh masyarakat di Indonesia ini. Kejadian tersebut bukanlah yang pertama kalinya pula. Fenomena tersebut dapat diibaratkan seperti teori gunung es, sebagian saja yang terungkap diranah publik namun sebagian besar lainnya Hidden Identification. Tindak pemalsuan ijazah ini seakan sudah menjadi suatu rahasia publik, hanya saja para pelakunya menyadari dalam diam dan  duduk manis sambil merengkul ijazah  palsu mereka dengan rasa bangga dan terhormat, “Alhamdulillah, saya sudah menjadi seorang Sarjana”.

Kesuksesan dalam proses manipulasi dan menutupi rahasia akan Ijazah Palsu seolah menjadi “Prestasi tersendiri” bagi segenap kalangan yang melakukannya. Namun jelas apa yang mereka lakukan tersebut merupakan potret “kebodohan”. Dengan kebodohan itu lantas mereka pun dapat membodohi bangsa ini. Maka jangan heran, apa bila hari ini sebagian kita yang bersusah payah dalam menjajaki badan akademik dengan berusaha untuk belajar dan meraih gelar sarjana yang murni , dipimpin oleh orang-orang berdasi yang menyorakkan kebangkitan bangsanya dengan modal ijazah palsunya dahulu.

Inilah suatu karakter yang masih dimiliki dan diberdayakan oleh masyarakat kita di Indonesia. Bisa dibayangkan, realitas semacam ini pula yang akan turut membawa masyarakat kita dalam perjalanan MEA kedepannya. Kebodohan-kebodohan ini kemudian yang dibawa-bawa nantinya untuk menjadi make-up tebal yang dapat luntur seketika dan akhirnya kebodohan itu sendiri yang akan menjadi tawaan dunia terhadap negara  yang kita cintai ini.

Pertanyaannya apakah Indonesia benar-benar siap untuk ditertawakan oleh dunia dalam menghadapi MEA? Malu atau tidak malunya tentu kita sebagai masyarakat Indonesia benar-benar harus menghadapi MEA. Apapun bentuk ketidaksiapannya, inilah realitas yang akan negara ini tempuh di akhir tahun 2015.

 

Penulis Merupakan Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Jurusan Sosiologi,  Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi   (HIMASOS) Unimal, Peserta Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan V.

Email: arifa.diana94@gmail.com

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful