Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / OPINI: Sebuah Kritik Bagi Saya (Perempuan)

OPINI: Sebuah Kritik Bagi Saya (Perempuan)

asriatun zainal opini

Oleh: Asriatun Zainal

HARI ini, mungkin tidak ada momentum khusus untuk menyajikan wacana tentang perempuan. Namun, momentum tertentu pun, saya rasa juga tidak cukup untuk membahas tentang perempuan. Semisal peringatan Hari Kartini atau Hari Perempuan. Karena pembahasan tentang perempuan selalu menjadi wacana segar untuk didiskusikan.

Perempuan Kekinian

Perempuan, belakangan menjadi suatu trending yang erat kaitannnya dengan kesetaraan, emansipasi dan kebebasan. Ketiga syarat tersebut menjadi semacam isu “tunggal” ketika berbicara tentang perempuan. Saya kerap menjumpai perempuan “perkasa” dalam berbagi organisasi. Bahkan, dalam obrolan antar komunitas, saya kerap kali mendengar berbagai gurauan tentang kehebatan perempuan.

Obrolan ringan dan renyah, tidak jarang bergizi tinggi. Bagaimana perempuan, memotivasi yang lainnya untuk tetap bergerak ruang-ruang kemanusian yang membutuhkan mereka. Perempuan kekinian, mungkin tidak lagi bisa diremehkan keahliannya. Kecangihan teknologi seperti pengunaan gadged, smartphone, dan teknologi mutahir lainnya, ternyata telah membawa perempuan lebih dekat dengan alam sosialnya.

Saya tidak akan mengurai, karna kita sama-sama tahu bahwa tetap saja teknologi punya nilai negatif. Namun, uraian saya tunjukan untuk perempuan  yang secara sadar dan tepat untuk memanfaatkan teknologi yang ada.

Jangan Salah Tafsir

Namun, jangan terlalu “elegen”  mengartikan kesetaraan, emansipasi, dan kebebasan sebagai suatu yang “suci”. Sesuatu yang tanpa cacat.  Kesetaraan, emansipasi dan kebebasan, telah memunculkan watak-watak perempuan “garis keras” yang kemudian menempatkan permusuhan terhadap laki-laki. Kita menjadi antipati terhadap laki-laki dan merasa harus lebih di atas mereka. Tanpa sadar kita ingin menciptakan subordinasi baru.

Kita harus ingat, tujuan utuma dalam perjuangan perempuan adalah menghilangkan subordinasi, bukan menciptakan subordinasi baru. Saya mengatakan ini bukan tanpa sebab. Namun ini adalah bentuk tangung jawab saya sebagai seorang perempuan yang mulai sadar akan adanya ketimpangan. Mengingatkan agar kita tidak terjerambab dalam kemunafikan utopis yang ditawarkan oleh demokrasi, yang telah diyakini oleh sebagian intelektual memiliki “cacat” bawaan.

Dua inti dasar dari demokrasi; kesetaraan (equality) dan Kebebasan (freedom). Demokrasi sendiri telah secara tegas dikatakan oleh Franz Manis Suseno sebagai the best among the worts. Sebuah pilihan yang berada di antara pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak layak untuk dipilih.

Lantas, bagaimana kita bisa mengadopsi secara utuh sesuatu yang masih “setengah matang”. Masih butuh untuk dikoreksi dan dikritik. Namun, jangan salah artikan tulisan ini sebagai suatu tulisan orang yang “murtad” dari memperjuangkan hak-hak perempuan. Tulisan ini, murni lahir dari kehawatiran saya –sebagai perempuan- yang tidak ingin melihat saya sendiri dan juga perempuan lain terperangkap.

Akar Masalah

Persoalan yang kita alami, sejatinya selalu berakar pada konstruksi sosial yang kapitalistik. Demokrasi melahirkan kapitalisme, kapitalisme menciptakan kelas, dan kelas menciptakan penindasan? Penindasan tidak mengenal jenis kelamin, tidak mengenal tua-muda. Penindasan selalu menekan siapa yang berada dalam kelas-kelas paling bawah. Inilah yang mendorong perempuan berjuang. Melawan setiap penindasan. Dan laki-laki adalah mitra dalam memperkuat perjuangan ini.

Feminisme jangan hanya dipandang sebagai perempuan yang memperjuangkan hak-haknya, tapi juga laki-laki yang berjuang terhadap pemenuhan hak-hak perempuan. Bukti kemajuan dalam perjuangan perempuan bukan hanya dilihat dari jumlah perempuan yang menempati posisi strategis-publik yang sebelumnya lebih banyak didominasi oleh laki-laki.

Kemajuan perjuangan perempuan rasanya terlalu sempit untuk dimaknai dengan bertambahnya jumlah anggota parlemen perempuan. Berhasilnya perempuan menjadi Wali Kota, Bupati, Gubernur atau bahkan menjadi menjadi Presiden. Karna jika itu parameter yang digunakan, maka pastilah hanya sebagian kecil yang merasakan manfaat dari perjuangan itu sendiri.

Banyak perempuan pertama kali menyadari kebutuhan untuk mengubah masyarakat melalui perjuangan. Termotivasi oleh rasa amarah akibat ketidakadilan dan prilaku non-manusiawi oleh elite-borjuis atau politik- yang munafik, yang mengklaim tunduk pada kepatuhan atas demokrasi dan kebebasan.

Kita harus sadar benar, emansipasi yang kebablasan adalah salah satu produk dari sekian banyak yang diciptakan sebagai bagian dari akumalasi kapital. Emansipasi kebablasan telah menyeret perempuan ke lembah “kematian”. Dalam ruang lingkup politik, komesial dan indutrialisasi yang semakin maju, perempuan tetap hanya dijadikan sebagai “bumbu” pemanis.

Perempuan hanya jadi syarat terpenuhinya kuota politik, menjadi daya jual produk kapitalis, dan menjadi buruh-buruh dengan bayaran murah. Apakah kemudian perjuangan hanya sekedar meracuni pikiran kita dengan doktrin-doktrin kebencian terhadap laki-laki? Apakah perjuangan hanya sebatas pada naik sebagai caleg dan duduk manis dikursi parlemen? Apakah perjuangan perempuan mengantikan posisi-posisi sentral di ruang publik yang kerap didominasi oleh laki-laki?

Saya rasa tidak! Perjuangan perempuan jauh lebih sulit ketimbang itu semua. Perjuangan perempuan itu adalah ketika kita, dengan jiwa kesukarelawanan menjadi pengajar-pengajar di pelosok desa tertinggal. Mengajarkan dan mendidik calon pemegang amanah masa depan, mengubah cara pandang dan prilaku sebagai visi dan misi memanusiakan manusia. Menjadi pendidik yang sabar dalam mengajar, penuh rasa kasih sayang. Bukan menjadi pendidik karna uang sertifikasi tenaga pengajar lebih menjanjikan.

Perjuangan perempuan adalah menjadi mitra laki-laki bukan hanya dalam keharmonisan rumah tangga. Seperti mendidik anak-anak dan membatasi segala hal negatif. Namun juga keharmonisan dalam dimensi sosio-kulturalnya. Bagimana membangun relasi yang baik dengan para tetangga, sanak-saudara dan sesama masyarakat. Serta menjaga dan mempertahankan nilai-nilai luhur. Bukan malah mendoborak tataran kearifan lokal sebagai bentuk kemodernan.

Perjuangan perempuan adalah menjadi mitra semua elemen masyarakat dalam kontruksi-konstruksi ruang publik, sebagai perpaduan seni yang menciptakan tatakelola ruang-ruang publik tertata rapi. Menjadi mitra kaum buruh dan tani yang tanahnya dirampas dalam perjuangan sengketa lahan melawan kapitalis.

Perjuangan perempuan adalah memberikan pendampingan pada anak-anak korban kekerasan seksual, kriminalitas dan pemberian serta pengawasan terhadap anak yatim dan fakir miskin. Ini yang saya rasa perjuangan sebenarnya.

 

Penulis Merupakan Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful