Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Jika Persoalan di PT Investa dan PDPA Tak Kunjung Selesai, Tiga Tim Migas Aceh Mengundurkan Diri

Jika Persoalan di PT Investa dan PDPA Tak Kunjung Selesai, Tiga Tim Migas Aceh Mengundurkan Diri

anggota-tim-migas-aceh-dr-ridwan-nyak-baik_20150709_085616

Anggota Tim migas Aceh, Dr Ridwan Nyak Baik, Ramli Jafar dan Muhammad Abdullah, menjekaskan program migas Aceh ke depan kepada Komisi III DPRA pada pertemuan di Gedung Dewan, Banda Aceh, Rabu (8/7).SERAMBI/HERIANTO

LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Tim Migas Aceh terancam lumpuh karena tiga anggota timnya yaitu Ramli Jafar, Ridwan Nyak Baik, dan Muhammad Abdullah menyatakan akan mundur dari keanggotaan jika masalah internal di perusahaan daerah, PT Investa dan PDPA tidak segera diselesaikan oleh Pemerintah Aceh.

“Kami merasa malu dengan perusahaan yang telah menyatakan siap menjadi mitra kerja PT Investa dan PDPA untuk mengelola aset bekas PT Arun dan kontrak migas baru karena masalah internal di kedua perusahaan daerah itu sampai kini belum tuntas,” ungkap Ramli Jafar dibenarkan Ridwan dan Muhammad Abdullah dalam pertemuan dengan Komisi III DPRA, Rabu 8 Juli di Ruang Badan Anggaran DPRA.

Menurut Ramli Jafar, dirinya bersama Muhammad Abdullah, Dr Ridwan Nyak Baik, dan lainnya mau bergabung sebagai anggota Tim Migas Aceh yang baru bukan ingin mencari gaji besar apalagi kekayaan. “Uang pensiun kami dari Pertamina dan Exxon Mobil sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami yang kini sudah berusia di atas 60 tahun,” tuturnya.

Ramli mengemukakan alasannya mau bergabung menjadi anggota Tim Migas Aceh karena merasa masih bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk kepentingan masyarakat Aceh. Misalnya, aset bekas PT Arun yang benilai triliunan rupiah itu, kalau diolah masih memberikan keuntungan bagi masyarakat dan Pemerintah Aceh. “Kenapa Pemerintah Pusat mau melaksanakan program regasifikasi gasnya di bekas kilang Arun, karena kilang Arun itu bisa dimodifikasi untuk memproses berbagai produk gas,” ujar Ramli.

Kilang Arun yang ada sekarang ini, kata Ramli Jafar, meski telah berusia 40 tahun lebih, jangan dianggap barang rongsokan atau besi tua. Aset itu masih memiliki nilai ekonomis tinggi yang bisa menumbuhkan berbagai industri di kawasan ekonomi khusus (KEK) Lhokseumawe.

Begitu juga dengan pelabuhannya. Pelabuhan Arun, menurut Ramli kondisinya lebih bagus dari Pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta. Empat unit kapal berkapasitas 40.000 ton bisa masuk ke dalam pelabuhan itu tanpa bersinggungan atau bertabrakan. “Pada waktu Exxon Mobil masih mengekspor gasnya ke Jepang dan Korea, setiap bulan empat tanker bersandar dalam waktu bersamaan, tidak bertabrakan,” katanya.

Contoh lain, lanjut Ramli, tanki-tanki gas di kawasan pelabuhan masih bagus. Bahkan, sejumlah perusahaan migas dari luar negeri dan nasional ingin menyewa tanki gas Arun untuk menyimpan LNG sebelum diekspor ke negara konsumen atau memenuhi kebutuhan pembelinya di kawasan Eropa dan Asia.(serambi)

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful