Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Zakaria Saman Telat Menikah Karena Memikirkan Ideologi Aceh Merdeka

Zakaria Saman Telat Menikah Karena Memikirkan Ideologi Aceh Merdeka

@cdn-2.tstatic.net/

@cdn-2.tstatic.net

LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH,  Ada yang menarik dari paparan kisah hidup yang disampaikan oleh Zakaria Saman, Senin malam, 3 Agustus 2015 ketika bertandang ke Kantor DPD KNPI Aceh untuk berdiskusi dengan perwakilan pemuda yang ada di Banda Aceh.

Dia mengutarakan, karena memperjuangkan ideologi Aceh Merdeka (AM) menyebabkan dirinya terlambat menikah. Mungkin karena sudah berumur gaek ketika membina biduk rumah tangga- walau istrinya berusia muda- membuat dia tidak subur lagi, sehingga sampai sekarang belum mempunyai keturunan.

“Akan tetapi semua itu ada hikmahnya. Dengan tanpa memiliki keturunan, saya bisa fokus mengurus Aceh. Tidak lalai dengan memperjuangkan aspirasi keluarga,” ujarnya.

Apa Karia, panggilan akrab kepada Zakaria Saman, juga menyebutkan dirinya pulang ke Aceh pada tahun 2003. Sebelum GAM dan RI menandatangani MoU Helsinki di Finlandia. Ketika hendak pulang dia meminta izin kepada Hasan Tiro.

Mengetahui dirinya akan balik ke Aceh, Zaini menelpon dan meminta jikalau dirinya pulang, segera mengabarinya.

Untuk menepati janjinya, ketika hendak pulang, dia mengabari Zaini. Menteri Kesehatan GAM tersebut menangis di ujung telepon dan meminta Karia tidak kembali ke Aceh. Hasilnya, handphone milik Zakaria masuk ke dalam air.

“Saya campakkan hp ke dalam air. Saya tidak mau lagi dibujuk. Perjuangan Aceh harus dibantu dari dalam negeri,” kisahnya.

Dia juga berkisah, jelang beberapa hari penandatanganan MoU. Pihak Marti (CMI-red) tidak mau memfasilitasi, bila GAM di dalam negeri tidak ikut menyetujui perjanjian tersebut. saat itu petinggi GAM di luar negeri segera memberitahu bila mereka punya Menteri Pertahanan di dalam negeri.

Kemudian Pieter Feith dan beberapa rekannya berkunjung ke pegunungan Pidie untuk bertemu seseorang yang bernama Karia Bangkok. “Saya beberapa kali mengubah nama sandi,” terangnya.

“Kami bicara sampai tiga jam lebih. Saya berkali-kali menerima telepon dari Sweden. Akhirnya saya sampaikan bahwa prinsipnya, sebagai anggota GAM, saya sepakat dan se ide dengan petinggi di luar negeri,” sebutnya mengulang sejarah.

Teman se angkatan Muzakir Manaf ketika mengikuti latihan di camp Tajura, Libya itu juga berkisah, saat hendak turun gunung, dia sempat menitipkan jabatan Menhan kepada sebatang pohon kayu.

“Saat turun gunung saya berpesan pada sebatang kayu: wahai batang kayu, jabatan Menhan yang saya sandang, saya serahkan kepada kamu. Peganglah jabatan ini. Kelak, bila saya kembali naik gunung (berjuang-red) jabatan ini akan saya ambil kembali,” ujarnya mengenang dialognya dengan pohon di hutan.

Kini, ada gurat kekecewaan di dahinya. “Sekarang udep beusare mate beusajan, na sabe na, tan sabe tan,” katanya dengan nada kecewa. Makna kalimat tadi adalah hidup bersama, namun yang kaya berkawan dengan sesama kaya, yang miskin berkawan sesamanya pula. Tidak ada yang peduli satu sama lainnya.(Tgj)

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful