Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Dayah dan Perdamaian di Aceh

Dayah dan Perdamaian di Aceh

Tgk Mukhlis

Oleh : Tgk. Mukhlisuddin Marzuki (Aktivis Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA), Dosen IAI Al-Aziziyah, Samalanga)

Konflik yang berkepanjangan membuat Aceh kerap menjadi perbincangan di berbagai event global dan selalu menarik untuk dikaji. Penandatanganan Nota Kesapahaman (MoU) antara Pemerintah RI dan GAM yang ditandatangani tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia atau lebih dikenal dengan Perdamaian Helsinki, salah satu amanahnya adalah Penyelenggaraan Pemerintahan Aceh dimana khusus untuk Aceh dalam Pilkada 2006 dibolehkannya hadir calon Independen (kandidat non partai) bagi pimpinan daerah dan juga adanya pembentukan Partai Lokal untuk Pemilu legislatif 2009. Sebagai salah satu kelompok penting dalam masyarakat Aceh, Dayah ikut mengambil bagian dalam dunia ini yaitu keterlibatan alumninya dalam politik praktis, baik dalam Pilkada Aceh 2006, Pemilu legislatif Aceh 2009, maupun dalam Pilpres Indonesia 2009.

Dayah, demikian sebutan masyarakat Aceh kepada Pesantren, msayarakat lebih mengenal istilahdayah ketimbang Pesantren. Dayah sebagai lembaga Pendidikan tradisional memiliki asumsi miring dalam sebahagian pola pikir masyarakat Aceh, asumsi miring itu adalah adanya anggapan bahwa jak beut hana masa depan (Menuntut Ilmu di Dayah tidak memiliki prospek masa depan). Asumsi ini berrmakna bahwa Dayah sebagai lembaga pendidikan belum mampu memberikan jaminan masa depan yang cerah kepada para alumninya, seperti halnya lembaga pendidikan lain semisal Perguruan Tinggi.

Dayah berasal dari kata zawiyah, kata ini dalam bahasa Arab mengandung makna sudut, atau pojok Mesjid. Katazawiyah mula-mula dikenal di Afrika Utara pada masa awal perkembangan Islam, zawiyah yang dimaksud pada masa itu adalah satu pojok Mesjid yang menjadihalaqah para Sufi, mereka biasanya berkumpul bertukar pengalaman, diskusi, berzikir dan bermalam di Mesjid. Dalam khazanah pendidikan Aceh, istilahzawiyah kemudian berubah menjadi Dayah, seperti halnya perubahan istilah Madrasah  menjadi Meunasah. Pada era Islam pertama masuk ke Nusantara yaitu masa Kerajaan Pereulak telah dikenal adanya temapat-tempat untuk menekuni dan mendiskusikan ajaran agama, salah satu tempat yang terkenal kala itu adalah Zawiyah Cot Kala, tempat inilah yang merupakan lembaga Pendidikan Agama pertama di Nusantara.

Peran Dayah Dalam Perdamaian Aceh

Dalam konteks perdamaian di Aceh pasca MoU Helsinki, transformasi peran Dayah dalam keterlibatannya dalam politik di Aceh pasca perdamaian Helsinki tak lain karena kalangan Dayah melihat penyelenggaraan syari’at Islam (SI) di Aceh belum membuahkan hasil yang memadai atau dapat dikatakan masih jalan di tempat, kalangan Teungku Dayah selama ini merasa ditekan, dimarginalkan, bahkan terkesan dianaktirikan oleh pemerintah, Teungku Dayah tidak ada peran secara substansi. Kedekatan Teungku Dayah yang sangat intim dengan masyarakat Aceh kehadirannya sangat dinanti di setiap wilayah yang dipengaruhinya karena mereka dinilai kelompok yang sangat mampu untuk menerapkan syari’at Islam di Aceh. Imam Al-Ghazali merumuskan bahwa agama adalah fundamen (ashlu) dan kekuatan politik adalah penjaganya. Untuk menjaga agama dari kehancuran maka dibutuhkan suatu kekuatan politik. Kekuatan politik takkan mampu menjaga agama kalau tidak diisi oleh orang-orang yang memahami agama. Landasan inilah yang diambil kelompok Teungku Dayah untuk terjun dalam ranah politik, semuanya adalah bagian dari keinginan besar kalangan Dayah dalam mewujudkan syari’at Islam di Aceh secara kaffah.

Selain dari peran praktis tersebut, dalam menjalankan fungsinya, dayah-dayah memberikan berbagai macam Ilmu pengetahuan kepada para muridnya, antara lain: Fiqh (muamalah, munakahah, jinayah dan lain-lain), tauhid., tasawuf/akhlak, ilmu falak, tafsir, hadist, sejarah dan lain-lain. Pengetahuan ini nantinya akan menjadi modal dasar dalam mengkaji hukum-hukum Islam, serta modal untuk menginterpretasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dayah telah mendidik para santrinya untuk terbiasa dengan penerapan hukum Ilahi dalam kehidupan, ini dilatih melalui berbagai aktivitas yang dilakukan para santri semasa meudagang di Dayah, baik itu menyangkut hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan juga interaksi antar sesama (hablum minannas). Latihan di dayah secara tidak langsung akan mendidik para santri terbiasa bergelut dengan nilai-nilai syariat, tidak untuk pribadinya tetapi juga dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat nantinya.

Peranan ulama dayah merupakan satu hal yang memberikan sebuah kontribusi besar dan berpengaruh dalam penerapan hukum syariat dan masyarakat untuk menyukseskan perdamaian di Aceh yang telah diraih melalui MoU Helsinki, serta menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam upaya menyusun qanun yang bertautan dengan pelaksanaan syariat Islam khusunya dalam mengimplementasikan nilai-nilai UUPA di Aceh. Ketegasan para ulama dalam berfatwa juga sangat penting agar terlaksananya hukum Islam seperti yang diharapkan. Segala tindak tanduk para ulama menjadi rujukan masyarakat serta keistiqamahan ulama bahkan juga turut mempengaruhi kebijakan pemerintah. Kemunculan para ulama yang mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah dan memiliki kharismatik merupakan out-put yang dihasilkan dayah sebagai sebuah institusi pendidikan, harus diakui bahwa legitimasi ulama yang diberikan masyarakat hanyalah kepada mereka alumni dayah, kendati pernyataan ini ditentang dengan berbagai argument lain, namun kenyataan bahwa masyarakat mengakui ulama adalah alumni dayah.

Dalam pelaksanaan syariat Islam di Aceh, keterlibatan ulama dalam pembuatan qanun menjadi penting, ini mengingat bahwa materi dari Qanun syariat Islam sebahagian besarnya dikuasai oleh para ulama.bahkan sekarang, Disamping peran ulama, ternyata santri dayah juga melakukan gebrakan mengawal syariat Islam dan menjaga perdamaian di Aceh, ini dibuktikan dengan beberapa kegiatan yang dilakukan santri dayah untuk menumbuhkembangakan nilai-nilai perdamaian di dalam masyarakat Aceh, misalnya kesadaran masyarakat untuk senantiasa menjaga perdamaian melalui ceramah agama, kajian ilmiah dan ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan keagamaan yang bertujuan untyuk selalu terwujudnya perdamaian yang abadi bumi Aceh Darussalam sesuai dengan MoU Helsinki dan UUPA yang telah dicapai, sehingga hal ini telah memberikan tempat tersendiri bagi dayah dalam memainkan perannya sebagai agent of changedan  agent of development dalam masyarakat Aceh.

Peran dayah dalam perdamaian di Aceh selain dari menyukseskan lahirnya perdamaian, dayah juga turut andil menjaga perdamaian hal ini dilakukan dengan menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui mimbar agama yang dilakukan oleh tengku-tengku dayah yang senantiasa mengajak rakyat Aceh untuk senantiasa menjaga nilai-nilai perdamaian yang telah dianugerahkan Allah melalui MoU Helsinki, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara dayah sangat erat terutama dalam kaitan menyampaikan pesan-pesan dakwah perdamaian, selain itu adalah keikutsertaan tengku dayah dalam politik praktis untuk senantiasa menjadi pengawal serta pelaksana perdamaian di Aceh.

Pojok Santri merupakan kerjasama LINTASNASIONAL.com dengan Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA)

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful