Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / 87 Tahun Usia Nek Brahim, Berjuang Bersama Air Mata di Kota Madani

87 Tahun Usia Nek Brahim, Berjuang Bersama Air Mata di Kota Madani

Nek Brahim yang sedang berjualan di Simpang Surabaya Kota Banda Aceh (Kota Madani).

Nek Brahim yang sedang berjualan di Simpang Surabaya Kota Banda Aceh (Kota Madani).

LINTAS NASIONAL –  BANDA ACEH, Panas, hujan dan debu, sudah menjadi sarapan paginya setiap hari. Inilah perjuangan hidup sang Kakek, yang sehari-harinya berdagang di pinggiran Kota Madani (Banda Aceh). Ia terus maju dengan semangat “45” yang masih ia tanamkan sampai saat ini. Sabtu, 10 Oktober 2015.

Nek Brahim, kini usianya menginjak 87 tahun. Bukan usia yang produktif bagi seorang manusia untuk mencari nafkah di usia yang sudah begitu renta, seharusnya ia sudah tidak harus bekerja lagi, dengan menikmati hari-hari tuanya bersama anak dan cucu di rumah.

Tetapi, kata-kata menikmati masa tua tidak mungkin ia lakukan, sampai hari ini ia harus terus berjualan di pinggiran jalan untuk mencari sesuap nasi, untuk keberlangsungan hidup sang Kakek.

Nek Brahim, setiap harinya menjakan dangan dari pukul 06.00 pagi di Simpang Surabaya Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Ia tidak perduli dengan resiko yang akan menimpanya, yang ia harap dangangannya laku untuk bisa membeli sedikit kebutuhan hidup hari ini.

Untuk menuju lokasi tempat ia berdagang, Nek Brahim harus berjuang mendayung seperda tuanya, dari Blang Bintang Kabupaten Aceh Besar Menuju Pusat Kota Banda Aceh di Simpang Surabaya.

Ketika diwawancarai oleh LINTASNASIONAL.com, kenapa Nek Brahim nekat berjualan di persimpangan jalan di Simpang Surabaya yang selalu dipadati kedaraan dari pagi sampai sore, ”Nek Brahim hanya menjawab dengan senyuman, air mata pun jatuh dengan tidak ia sadari di atas pipi yang sudah sangat mengkerut dan kusam”.

Dagangan yang ia jajakan sangatlah sederhana, seperti buah pisang dan sayur-mayur dengan alakadarnya. Perjuangannya sangat menarik hati masyarakat, yang melintas ditempat sang Kakek berjualan.

Selain menghidupi dirinya ia juga harus menghidupi keluarga yang ia punya saat ini, jiwa besar sang Kakek perlu kita hargai dan patut kita jadikan contoh tauladan kehidupan.

Sebesar apapun pahitnya hidup, ia terus berusaha dangan keyakinannya, ia tidak pernah mau meminta-minta atau mengemis untuk mengharap belas kasihan orang lain. Dengan kebesaran jiwa yang ia miliki, sebagai mantan pejuang Negeri ini, ia tetap melanjutkan semangat juangnya sampai detik ini.

Semoga saja, Pemerintah Kota Banda Aceh atau yang biasa disebut Kota Madani, dapat membuka mata hatinya untuk orang-orang seperti Nek Brahim. Walau ia tidak membutuhkan bantuan belas kasih, setidaknya ia mendapat tempat berdagang yang layak, sehingga kesehatan dan keselamatannya dapat terjamin.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Simpang Surabaya Kota Banda Aceh adalah tempat yang sangat sentral, dan kendaraan begitu padat setiap waktunya, hal seperti ini dapat mengancam keselamat Nek Brahim. (Iskandar.Pb)

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful