Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Sebuah Catatan Tentang Adat dan Syariat

Sebuah Catatan Tentang Adat dan Syariat

Nelly

Oleh: Yelli Sustarina,S.Kep

Tanggal 7 Oktober 2015 aku mengikuti acara diskusi keputrian yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiwa Aceh Selatan (HAMAS) di Hotel Kula Radja. Aku sangat mengapresiasi acara tersebut, karena sangat jarang dibuat forum seperti itu. Kemudian aku sedikit bertanya terkait penerapan syariat Islam di Aceh, selama ini pemerintah hanya mengobarkan syariat Islam, Syariat Islam di Aceh, tanpa memberikan pengetahuan tentang syariat Islam itu kepada generasi muda. Yang bisa hanya melarang dan melarang, yang namanya pemuda semakin dilarang maka semakin dikerjakan.

Aku sangat setuju akan hukum adat yang berlaku di Aceh pada masa lalu, dimana semua tatanan kehidupan masyarakat mempunyai adat. Tapi sayangnya di era kemerdekaan hukum adat diganti dengan hukum pemerintahan, yang akhirnya hukum adat ditinggalkan dan masyarakat tidak menganut nilai-nilai adat tersebut. Lantas apa yang terjadi, munculah kenakalan remaja, batas dan norma kehidupan tidak menjadi hal yang diutamakan lagi. Akhlak para remaja semakin terpuruk akibat tidak adalagi hukum adat tersebut.

Selepas pertanyaan itu, aku menyapa Ibu Hj. Cut Harnalis, SP sebagai ketua PKK Aceh Selatan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Aku akhirnya bisa ke Semarang. Dan Alhamdulillah sepulang dari Semarang Aku membuat Pilot Project dengan membentuk komunitas sadar budaya dan kearifan lokal daerah yang bernama Colourful Kota Naga. Kemudian Buku yang pernah aku perlihatkan dulu ke Ibu tentang “Makna Pelaminan Kasab Benang Emas Aneuk Jame Tapaktuan Aceh Selatan”, sekarang sudah selesai dan sedang proses editing. Sedangkan buku tentang “Asal Mula Bahasa Aneuk Jame di Aceh Selatan” sudah ada dalam bentuk eBook, dan siap dicetak. Kendalaku saat ini ialah aku tidak mampu membiayai percetakkan buku tersebut, jika Ibu-Ibu yang ada disini mau jadi investor, maka Aku mau bekerjasama untuk hal itu. Begitulah pernyataanku saat di forum tersebut.

Dalam jawaban singkat Ibu Cut, beliau mengakui bahwa Aku pernah mendatangi beliau untuk meminta bantuan supaya bisa diberangkatkan ke Semarang, dalam Even Nasional Future Leader Summit 2015, terkait Kearifan Lokal. Namun saat itu, mereka tidak mempunyai dana untuk kegiatan yang seperti itu. Kemudian terkait dengan buku yang sudah aku buat, beliau mengapresiasi usahaku, namun mereka juga tidak bisa membiayai untuk percetakkan buku itu. Dia juga bertanya kepadaku, setelah buku itu dicetak mau jual ke siapa? Kemudian aku menjawab bahwa aku dudah melakukan survey kecil-kecil terhadap peminat buku tersebut, ternyata banyak peminatnya terutama orang Tapaktuan yang merantau ke luar daerah, karena aku sempat bertemu orang  Aceh Selatan yang sudah jaya di Semarang. Ketika aku perlihatkan buku tersebut mereka  sangat berminat untuk memilikinya. Kemudian Bu Cut menyarankan untuk mencetak 10 buah buku itu terlebih dahulu, dan tawarkan kepada pemerintah pasti kami akan beli. Peryataan Ibu Cut itu disaksikan oleh banyak orang yang ada di forum. Sebenarnya bukan pemasaran kendalanya Bu, tapi biaya percetakkanlah aku tidak punya, kalau seandainya sudah di cetak, aku yakin pemasarannya akan lebih mudah. Begitulah yang ingin ku sampaikan saat itu, namun hanya bisa tersimpan dalam hati karena tidak mungkin aku katakan itu di depan banyak orang.

Aku mengikuti Konferensi Nasional yaitu Future Leader Summit 2015 pada tanggal 19-20 September 2015 di Semarang. Ada 6 isu yang dibahas dalam konferensi ini, yaitu pendidikan, media masa, kearifan lokal, ekonomi kreatif, kebijakan publik, dan lingkungan. Aku termasuk 240 peserta yang terpilih dari 1700 pendaftar di seluruh Indonesia, setelah mengirimkan essay terkait pemaknaan kasab benang emas sebagai bentuk kearifan lokal dalam membentuk akhlak. Aku ditempatkan di room kearifan lokal karena sejalan dengan essay yang aku kirimkan itu.

Perjuanganku supaya bisa menghadiri Konferesnsi Nasional ini, penuh keluh kesah. Konferensi ini tidak menanggung biaya transporatasi ke Semarang, mereka hanya menanggung akomodasi dan transportasi selama di Semarang. Jadi, terpaksalah aku sedikit mengemis mencari sponsor untuk keberangkatanku itu. Bukan mengemis juga sih, karena aku juga menawarkan karya tulisku sebagai bentuk usahaku dalam mendapatkan sponsorship.

Aku menulis terkait makna pelaminan kasab benang emas Aneuk Jame Tapaktuan, dan sejarah bahasa Aneuk Jame sebagai modal dalam mencari sponsorship. Ketertarikanku menulis tentang itu karena aku berasal dari keluarga pengrajin dan juga berprofesi sebagai pengrajin kasab benang emas di Kampung Air Sialang Hilir, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Aku melihat pengrajin di kampungku itu, hanya mengetahui bagaimana cara membuat pelaminan kasab benang emas, sedangkan makna filosofi dari setiap motif, bentuk dan warna yang ditampilkan, mereka tidak tahu. Jadi, inilah saatnya aku mengangkat nilai-nilai budaya yang ada di lingkungan sekitarku dalam bentuk tulisan.

Tidak mudah membuat karya tulis ini, aku membutuhkan waktu selam kurang lebih 3 bulan. Mulai dari wawancara ke narasumber, riset lapangan, pengambilan foto, revisi dan editing aku lakukkan sendiri dan dengan biaya sendiri. Narasumber yang aku pilih ialah salah satu keturunan Raja Tapa’Toen yang ke XI yaitu, T. Laksamana bin Teukoe Fitahroeddin. Setelah jadi karya tulis tersebut, saatnya aku mencari sponsorship untuk membiayai keberangkatanku ke Semarang.

Pertama aku menemui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Selatan tepatnya pada tanggal 03 Agustus 2015, namun beliau malah mengatakan apa yang aku buat ini sudah pernah dituliskan. Padahal jelas-jelas saat aku riset ke Perpustakaan daerah tidak ada yang mejelaskan secara detail tentang pemaknaan tersebut. Jikapun ada, itu hanya bagian luarnya saja. Ibarat buah, itu hanya bagian kulitnya. Jelaslah yang menulis bukan dari pengrajin kasab sendiri, tapi orang luar yang tidak tahu bagaimana proses kasab itu sendiri. Sedangkan aku jelas-jelas terpapar kesehariannya dengan pembuatan kasab dan aku juga termasuk sebagai pengrajinnya, alangkah baiknya jika buku ini diterbitkan dapat memperkaya khasanah kebudayaan kita. Tapi, yang namanya pemerintah, sulit untuk diajak kompromi, taunya dia hanya mengandalkan rekan-rekannya yang bergelar doktor, profesor, master, atau apalah. Beliau menyarankanku untuk membuat surat dengan tujuan ke kantor bupati, karena katanya dari dinas tidak ada anggaran untuk yang seperti ini.

Padahal aku tidak butuh banyak, ikhlaspun dari kantongnya juga tidak apa-apa, karena aku pikir kalau melalui jalur seperti yang disarankan, pasti lama prosesnya. Audiensiku tidak bisa mempengaruhi beliau, mungkin barangkali dia memandang aku masih sebagai mahasiswa dan juga anak kemarin sore dibandingkan rekan-rekannya yang mempunyai gelar tambahan antah berantah di belakang namanya itu. Akupun keluar dengan rasa kecewa, tapi aku yakin suatu saat dia akan mencariku, ketika aku berhasil mengguncangkan dunia. Ini pemuda lo,, Pak! ingat apa yang dikata Soerkarno. Anda pasti menyesal telah menolakku. Begitulah yang ku katakan kepada diriku untuk menyemangatiku.

Lanjut perjalananku ke Dekranasda. Aku bertemu dengan istri Bupati Aceh Selatan yang menjabat sebagai ketua Dekranas Aceh Selatan Pada tanggal 05 Agustus 2015. Kejadiannya juga sama, katanya Dekranas krisis dana. Padahal kerajinan kasab binaan dekranas sendiri adalah kerajinan kasab di kampungku, apasalahnya sedikit apresiasinya untuk pemuda yang mau menuliskan tentang kerajinan daerah untuk mengangkat nama daerah. Padahal aku bermaksud kalau saja buku ku ini mereka terbitkan, paling tidak nama dekranas akan terangkat sebagai wadah dalam pemberdayaan perempuan. Tapi yang aku tangkap dari audiensiku dengan beliau, mereka hanya butuh produk dari pengrajin yang bisa dijual menghasilkan uang, namun tidak untuk memberdayakan SDM nya dalam bentuk peningktan pengetahun. Ya sudahlah, apa boleh di kata. Aku kembali merasakan kecewa yang kedua kalinya.

Anehnya jutru kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan yang tertarik dengan tulisanku itu, katanya gaya kepenulisanku bagus dan rapi, jadi beliau memanggilku untuk menghadapnya. Ternyata Kadis dinkes adalah keponakaan dari narasumber tulisanku, dan dialah yang mempromote tulisanku ke Kadis tersebut. Pak kadis mau membiayai keberangkatanku, namun beliau hanya menangung tiket perginya saja, sedangkan tiket pulang kamu cari sendiri katanya. Dalam hati kecilku “Terimakasih ya Allah, engkau telah mengirimkan orang baik kepadaku”.

Namun ada tapinya, aku harus membantunya menyelesaikan proosal Pembangunan Balai Rehabilitasi Kesehatan Jiwa Kabupaten Aceh Selatan. Karena aku juga terlibat dalam komunitas peduli kesehatan jiwa masyarakat yaitu Griya Schizofrena Aceh, maka aku sanggupi tugas tersebut. Mulai dari, wawancara, turun lapangan, mencari referensi buku dan sampai persentasi di depan beberapa stockholder kesehatan seperti dokter, perawat dan pegawai dinas, aku lalui layaknya seorang profesional yang ahli, padahal masih mahasiswa dari fakultas keperawatan Unsyiah.

Tiket pergi sudah ada, nah..bagaimana tiket pulangnya? Aku bermaksud menemui Bapak Bupati. Tiga hari aku bolak balik ke pondopo dan kantornya, tetapi tidak bisa bertemu. Alasan dari ajudannya, Pak Bupati sedang sibuk, tidak bisa diganggu. Aku bersabar, hingga pada taggal 08 September 2015 aku surati beliau. Aku ceritakan perjuangnku, dan niatku untuk memajukan daerah tercinta dengan mengangkat kembali khasanah budaya dangan tulisan, namun tak ada balasan apapun.

Aku tidak tahu, apakah surat itu sampai ke tangan Bupati atau tidak, karena aku memasukkan suratnya itu melalui bidang umum. H-3 keberangkatan, aku ditelpon oleh Humas Bupati, dan menayakan kapan aku punya kesempatan bisa bertemu untuk audiensi dengan Bupati. Wuis…, senangnya dalam hati, aku melompat-lompat setelah menutup telpon dari beliau. Kemudian aku berlari ke Ibuku, “mimpiku akan terujud mak”.

Sebelumnya aku pernah bermimpi beberapa kali bertemu dengan Bupati, tapi setiap kali dalam mimpiku itu gerakanku sangat lambat seperti slow motion, saat kita memutar kaset, namanya saja juga mimpi. Jam 12.00 wib, aku menelpon Bapak Humas itu kembali, namun beliau katakan Bapak Bupati sedang sibuk. Padahal aku sedang berada di pondopo Bupati saat itu memasang pelaminan benang emas yang dibuat oleh kelompok pengrajin Ibuku.

Bapak Bupati itu lalu lalang dihadapanku, ingin rasanya aku memanggilnya dan menanyakan, “Sudahkah Bapak membaca suratku?” namun badanku seolah kaku untuk bergerak, seperti mimpiku yang bergerak slow motin dalam sebuah kaset. Aku ibarat Cut Nyak Dhien yang sering berlalu lalang di depan para tentara Belanda, namun tentara itu tidak tahu wanita itulah yang sedang dicari. Ajudan Bupati tersebut mengenalku, sebenarnya aku berharap sih, Sang Ajudan memperkenalkanku kepada Bupati, tapi ya., mau gimana lagi, ya sudahlah.

H-2 keberangkatan, aku juga belum tau bagaimana tiket pulang nantinya. Akhirnya dosenku yang baik hati, menghubungiku dan menyuruhku menghadap beliau. Aku pernah mengirimkan surat kepada dia yang menceritakan kisah perjuanganku untuk mengakat nilai budaya ini. Kebetulan beliau juga berasal dari daerah yang sama dengan ku, akhirnya dia menghubungi teman-temannya untuk patungan membiayai tiket kepulanganku. Subhanallah., aku terharu melihat usaha dan kebaikan hati teman-temannya. Semoga Allah swt membalas kebaikan kalian semua, Amin!

Setelah kepulanganku dari Semarang, aku mencoba menghubungi Humas Bupati lewat pesan singkat. Begini pesannya “Assalamualaikum pak, masih ingat saya, Yelli yang seminggu lalu menyurati Bapak Bupati? Alhamdulillah saya sudah pulang dari Konferensi Nasional di Semarang. Biaya transport saya ditanggung oleh Putra/Putri daerah Aceh Selatan yang sedang merantau ke Negeri orang. Saya hanya menanyakan bagaimana kelanjutan dari tawaran buku saya. Kalau pemerintah Aceh Selatan tidak menerima buku-buku saya tersebut,  saya akan tawarkan ke penerbit buku. Namun, jangan bilang saya pengkhianat bangsa jika hak patennya bukan milik pemerintah. Saya sudah berusaha untuk menawarkan semua itu. Tunggulah suatu saat, ketika semangat para pemuda Aceh Selatan bangkit, maka bumi ini akan terguncang, begitulah kata Soerkarno”. Namun pesanku itu tidak ada balasan sampai hari ini.

Usahaku sepertinya cukup sampai disini untuk mengajak kerjasama dengan pemerintahan, namun tidak ada tanggapan. Aku tidak juga bisa menyalahkan mereka, karena aku tahu pasti banyak urusan lain yang menjadi tanggung jawab mereka. Aku hargai mereka sebagai pemimpinku. Apa yang aku lakukan ini, bukan untuk mencari simpatinya pemimpin, tapi murni dari ketulusan hati yang ingin mengangkat daerahnya melalui tulisan. Karena seperti kata pepatah “Mate Aneuk Meupat Jirat, Gadoh Adat Pat Tamita”

Jadi menurutku, ini bukan hanya tugasnya pemerintah saja, tapi juga tugasku sebagai masyarakat dan generasi muda yang ingin bergerak maju. Aku hanya bisa menulis, itulah yang bisa kutuliskan sebagai peninggalan bagi anak cucuku nanti. Tiada lain untuk menambah amalku diakhirat, kecuali ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillah sekarang aku membentuk komunitas sadar budaya dan peduli kearifan lokal. Tujuan dari komunitas ini untuk mengajak anak muda untuk mengetahui, menyadari dan mencintai budaya mereka sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Penulis Merupakan Alumni Ilmu Keperawatan Universitas Syiah Kuala

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful