Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Editorial: Sepang, Asap dan Pansus

Editorial: Sepang, Asap dan Pansus

 

Sirkuit Sepang kembali menjadi topik pembicaraan ‘panas’ dunia. Setelah geger dengan tewasnya Simoncelli pada 2011 silam, sirkuit di Malaysia ini kembali menyajikan ‘senggolan maut’ Valentino Rossi terhadap Marc Marquez pada Minggu, 25 Oktober 2015, yang menjadi headline berita jagad olahraga dunia balap. Yang paling menariknya, bagi para penonton yang menyaksikan langsung balapan Motogp tersebut di Sepang, tentunya dapat merasakan langsung bagaimana asap alias jerebu bergantungan memenuhi udara Malaysia. Bagi penonton dilayar kaca pun seakan dapat merasakan bagaimana terganggunya pandangan mata. Disaat tontonan menarik itu disajikan.

Beberapa warga Indonesia asal Aceh yang turut hadir langsung di Sepang, Malaysia, sempat dicandain oleh beberapa sohibnya yang merupakan warga Negara Malaysia. “Banyaknyeu jerebu Indon cek ya..’ begitulah ucapan mereka dengan sedikit mengejek. Asap yang berasal dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan Indonesia, telah dirasakan oleh negeri para tetangga, misal Malaysia, Thailand, Philipina dan Singapura.

Masih untung asap kiriman negeri kita tidak menghambat perhelatan ajang Motogp Malaysia yang merupakan penghasil devisa tahunan bagi ‘sang tetangga’. Kasus ‘senggolan maut’ pembalab di Sepang, sejenak menjadikan kita lupa bahwa Indonesia sedang berasap. Bagaimana mungkin meyakinkan pihak lain, untuk menyelenggarakan Motogp di Indonesia, jikalau kita belum mampu mengurusi secara cepat terhadap hal seperti ini. Khawatirnya kita, ‘orang-orang’ Eropa itu pesimis terhadap komitmen Negara kita untuk menjamin keselamatan para tamunya, karena udaranya saja masih kotor dan berpolusi.

Inilah Negara Indonesia kita tercinta. Percaya atau tidak, kadangkala pemerintah tidak fokus, bukan malah berkomit untuk memadamkan api, tapi sibuk berwacana me reshuffle kabinet dan pihak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI sedang berwacana membentuk panitia khusus (Pansus) untuk menangani asap. Kita, terlebih pemerintah harus sadar, asap di Indonesia telah menjadi ‘musibah’ bagi negeri ini dan bahan olokan dari bangsa lain. Masyarakat di Sumatera dan Kalimantan, contohnya telah dikepung asap, hingga Ispa melanda seantero Negara.

Berbulan-sudah kabut asap akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan belum bisa dipadamkan. Pada awalnya optimis mampu dengan usaha sendiri, akhirnya menerima bantuan Negara tetangga untuk memadamkan api yang melanda hutan lebat Indonesia. Malah dengan kiriman kabut asap, beberapa Negara di Asia Tenggara, misal Thailand dan Singapura memprotes keras bahkan sempat memboikot produk Negara kita. Singapura, hampir saja kelabakan kalau saja asap kiriman Indonesia mengganggu penyelenggaraan olahraga Formula One (F1) di Negara mereka beberapa bulan lalu. Lihat juga bagaimana dilangit-langit sirkuit Sepang tempat Motogp berlaga minggu kemarin turut dipenuhi dengan asap. Benar, asap itu berasal dari Negara kita Indonesia. Dengan asap itu juga, Aceh juga berdampak nyata. Penerbangan-penerbangan komersil dibeberapa bandara di Aceh gagal mendarat karena tebalnya kabut asap dari provinsi tetangga jauh. Aceh beberapa hari ini semakin gelap dengan kepungan asap pekat.

Dalam menanggapi hal ini, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah untuk bekerja konkrit terhadap upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan ini. DPR RI juga sedang siap siaga, dan sepertinya siap membentuk Panitia Khusus (pansus) asap, yang nantinya bertugas untuk menyelidiki kasus kebakaran hutan dan lahan yang memicu munculnya bencana asap dan mengontrol proses pemadaman kebakaran yang dilakukan oleh pemerintah serta Pansus ini juga harus mendorong pemerintah untuk mengatur peraturan soal pelestarian lingkungan hidup. Namun, wacana pembentukan Pansus asap sedikit terhambat, karena para wakil rakyat di senayan sedang disibukkan membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2016. Mereka menargetkan RAPBN 2016 harus diketok palu sebelum tanggal 30 Oktober ini sebelum masuk masa reses.

Pansus memang kiranya dibutuhkan dalam hal ini, guna mengawasi kinerja pemerintah yang khususnya tentang kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. Namun, tentunya kita sepakat bahwa yang paling penting saat sekarang ialah bagaimana titik api itu padam. Asap musnah tidak berbekas. Tidak ada lagi korban berjatuhan dengan terganggu saluran pernafasan dan paru-parunya. Ini pelajaran penting bagi pemerintah, agar optimisme masyarakat terhadap semangat kerja kabinet Jokowi-JK terus terjaga.

 

Redaktur: Nazar Ashy

 

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful