Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Opini: Universitas Kehidupan

Opini: Universitas Kehidupan

Tibrani Opini
Oleh: Tibrani

Universitas Kehidupan Pernahkah anda membaca dan mendengar secara langsung bahwa orang terkenal di dunia ini, seperti para jutawan, penemu berbagai macam ragam teknologi, pengusaha sukses berasal dari kalangan yang tidak menamatkan jenjang pendidikanya secara formal di institusi sekolah maupun universitas. Anda mungkin sulit untuk mencernanya secara akal sehat dan cenderung mengatakan mustahil itu terjadi.

Namun realita dan fakta seolah mematahkan berbagai macam teori yang menyebutkan bahwa semua keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupan ditentukan oleh universitas modern atau perguruan tinggi. Banyak sekali, pengusaha-pengusaha sukses, penemu berbagai macam ragam teknologi dan ilmu pengetahuan modern tidak mengenyam pendidikan di universitas modern, bahkan sebagian mereka dropout dari dunia perkuliahan, sebut saja diantara mereka seperti, Thomas Alfa Edison penemu lampu pijar, yang temuannya telah dipakai untuk menyinari kehidupan manusia di seluruh belahan manusia, Bill Gates pendiri raksasa perangkat lunak Microsoft dan menempati rangking teratas orang terkaya di dunia untuk beberapa tahun terakhir. Bill Gate memilih drop out dari universitas setelah membaca artikel tentang komputer micro Altarir dalam majalah Popular Electronics. Di negara Indonesia tercinta ini, ada juga seorang tokoh wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan pada universitas modern, namun berhasil menjadi pengusaha sukses dengan mendirikan PT Asi Pudjiastuti Marine dan memilik maskapai penerbangan Susi Air. Itu merupakan contoh segelintir manusia yang tidak mengenyam pendidikan dan droput dari kampus, namun berhasil menjadi ilmuan dan pengusaha sukses.
Pada konteks dunia kampus, kadang kala banyak sekali mahasiswa terlena akan dunia gemerlap cahaya dunia kampus saja, dan hanya terfokus pada keadaan universitas saja, tapi lupa akan permasalahan sosial masyarakat dan bagaimana cara mengasah soft kill yang dimilikinya supaya ketika keluar dari universitas modern menuju universitas kehidupan telah mempuyai kemapanan berbagai ilmu pengetahuan untuk dipraktekkan pada hakikat kehidupan sebenarnya.
Menurut Ketua Presidium Majelis Nasional Korp Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan juga mantan Hakim Mahkamah Konstitusi Mahmud MD mengatakan bahwa kebanyakan mahasiswa sekarang hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi.

Menariknya, pernyataan Mahmud MD memang benar terjadi pada dialematika dunia perkuliahan sekarang ini. Mahasiswa sekarang hanya mengejar nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saja, tapi sudah melupakan apa makna dari sebuah nilai itu sendiri. Sebagian diantara kita memang sudah terpatri kedalam pikiran alam bawah sadarnya bahwa IPK adalah tujuan akhir dari sebuah universitas modern.

Padahal belum tentu mahasiswa yang memiliki IPK Sum Clumlaude, Cumlaude, dan lain sebagainya, akan memiliki jaminan kesuksesan ketika menuju bursa dunia kerja. Banyak sekali mahasiswa yang memilik IPK tinggi ternyata ketika menuju gerbang universitas kehidupan harus kandas di tengah perjalanan alias gagal menuju hakikat sebenarnya dari sebuah univeritas kehidupan.

Dalam sebuah film Wahai Pengejar IPK (Wahai Para Pengejar IPK) yang diterbitkan oleh channel youtube isigood.com. Film pendek ini menceritakan mahasiswa yang hanya mengejar IPK selama dalam perkuliahannya.

Diawal cerita mahasiswa ini terpuruk karena memiliki IPK yang rendah, kemudian dia terus belajar bagaimana supaya dirinya dapat memperbaiki nila IPK, alhasil, dia Cuma hanya fokus bagaimana cara mendapatkan nilai yang tinggi saja, tapi telah lupa untuk melatih kemampuan lainnya seperti, softkill dan berorganisasi.
Singkat cerita setelah menyelesaikan jenjang pendidikan di universitas modern, dia kemudian ingin mengikuti seleksi bursa ketenagakerjaan. Saat diberikan tugas untuk mempresentasikan visi-misinya kedepan jika seandainya dia diterima di perusahaan, karena tidak terbiasa dengan dunia public speaking atau kemampuan mempresentasikan dan berbicara di depan khalayak ramai, maka dia gemetar dan terbata-bata ketika menjelaskan visi-misinya.
Akibat tidak bisa mempresentasikan secara sempurna,maka berdampak terhadap dirinya dengan konsekuensi tidak diterima di perusahan tersebut. Dia kemudian baru sadar bahwa kuliah bukan hanya mengejar IPK tinggi tetapi juga harus memiliki softskill.

Dunia pekerjaan bukan hanya membutuhkan mahasiswa yang memiliki nilai akedemis yang tinggi akan tetapi harus memiliki softskill yang bisa didapatkan melalui organasi eksternal maupun internal kampus. Hal itu tidak pernah didapatkan di dunia kegiatan belajar di univeristas modern.

Berangkat dari sebuah film tadi, kita dapat mengambil sebuah pembelajaran bahwa IPK yang tingi tidak akan menjamin sebuah kesuksesan. Tetapi kesuksesan akan datang jika dibarengi dengan kemampuan softkill yang dimiliki oleh setiap invidu para mahasiswa.

Oleh karena itu di era globalisasi ini, setiap mahasiswa dianjurkan untuk tidak berpikir pragmatis saja, tapi harus mulai mengubah pola pikir dari sebelumnya hanya mengharapkan IPK tinggi saja menuju kesempurnaan akan nilai-nilai akedemis itu sendiri, karena jika seandainya kita hanya mengejar IPK saja tapi tidak dibarengi dengan kemampuan lainya niscaya akan menimbulkan malapetaka itu sendiri, ketika telah menyelesaikan pendidikan di sebuah universitas modern.
Paradigma mahasiswa sudah suatu keharusan untuk bermetamorfosis untuk tidak berpikir sesaat saja ketika, dia sedang belajar di universitas modern tapi harus mencanangkan konsep jelas mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk masa depannya ketika telah menyelesaikan pendidikan di universitas modern.

Oleh karena itu, marilah bercermin dari tokoh-tokoh dunia yang sukses dalam kehidupannya namun gagal di universitas modern, mereka bisa mencapai kesuksesan dan kesempurnaan dalam kehidupan tanpa adanya suatu gelar atau title.

Kesuksesan yang telah dimiliki oleh para tokoh dunia maupun nasional sebagaimana telah saya jelaslan diatas, ternyata tidak datang dari sebuah khalayan, berhura-hura,dan tanpa ada kesukaran dalam menempuh sebuah kesuksesan, namun banyak pengorbanan, mulai dari kegigihan untuk terus bertahan ketika diterpa badai hingga berhasil melewati berbagai badai dan tantangan kehidupan.
Para tokoh-tokoh tersebut berhasil dengan manusia yang mencapai kesempurnaan dalam kehidupan,bagaimana dengan kita lulusan universitas modern yang konon, merupakan agen of change (agen perubahan bagi bangsa).
Sudah suatu keharusan bagi alumni universitas modern untuk terus berpacu untuk mencapai kesuksesan dengan tidak mengejar IPK saja, tapi harus mulai mencari kesempurnaan dari sebuah ilmu yang kemudian diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita para lulusan universitas modern harus lebih maju dengan tokoh-tokoh dunia dan nasional untuk mencapai kesuksesan dalam hidup.

Penulis merupakanMahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala dan juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP.

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful