Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Irwandi, Diantara Jatuh dan Bangkit

Irwandi, Diantara Jatuh dan Bangkit

Oleh: Auzir Fahlevi SH

Pilkada Aceh telah usai dan mengantarkan pasangan Calon Gubernur Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah sebagai gubernur/wakil gubernur terpilih untuk periode 2017-2022.

Pra Pilkada banyak pihak memiliki beragam prediksi dan asumsi bahwa prosesi pelaksanaan pilkada dikhawatirkan penuh dengan eskalasi konflik kekerasan seperti pilkada tahun 2012. ‎Tapi alhamdulilah situasi yang dikhawatirkan tidak terjadi dan ini tentu buah dari upaya semua pihak terutama aparat keamanan TNI Polri yang dengan sigap/cekatan melakukan antisipasi supaya pelaksanaan pilkada berlangsung kondusif. Walaupun ada beberapa gesekan tapi semua itu bisa diselesaikan dengan baik oleh aparat keamanan.

Kemenangan Irwandi-Nova dalam pilkada kemarin menunjukkan adanya pengaruh atau efek dari beberapa program Irwandi saat menjabat gubernur Aceh periode 2007-2012. Program populer dan terkesan dimata publik diantaranya adalah program layanan kesehatan yaitu Jaminan kesehatan Aceh(JKA), disadari atau tidak, JKA inilah yang menjadi magnet politik dan simpatik rakyat aceh memilih Irwandi. Kemudian soal Beasiswa Anak yatim dan fakir miskin 1,8 juta per tahun. Pada masa pemerintahan Irwandi sebelumnya, beasiswa anak yatim ini diberikan sekaligus tapi pada masa pemerintahan Zaini Abdullah/Muzakkir Manaf diberikan dua tahap sebanyak 900 ribu terlebih dahulu. Kita tidak tahu apakah dana beasiswa itu didepositokan sehingga tidak diberikan sekaligus kepada anak yatim/fakir miskin, doa-doa anak yatim dan anak-anak dari keluarga miskin inilah yang tidak bisa kita ragukan atas kemenangan Irwandi, Secara langsung maupun tidak langsung Irwandi telah mampu memposisikan dirinya sebagai Gubernur yang memiliki basis orientasi kebijakannya terhadap anak-anak yatim dan anak-anak fakir miskin di Aceh. Kebijakan beasiswa anak yatim/fakir miskin itu sedikit banyaknya mampu menunjang biaya pendidikan sehingga mampu menekan angka/persentase anak-anak putus sekolah akibat ketiadaan biaya.

Terlepas dari itu semua, sebagai mantan Ahli Propagandis GAM tentunya tidak susah bagi Irwandi membangun komunikasi dengan jajaran eks kombatan GAM yang masih sehaluan dengannya untuk proses pemenangan dirinya dalam pilkada. Irwandi mampu membuka diri dengan semua kalangan eks kombatan GAM, tanpa ada sekatan sedikitpun. keterlibatan Eks kombatan GAM secara dominan memang diperlukan dalam tim pemenangan, kenapa? karena mereka inilah yang kemudian menjadi tim anti teror/intimidasi dari lawan politik mereka yang suka melakukan teror/intimidasi sekaligus menjadi pengawal suara ditingkat KPPS dan KIP kabupaten/Kota se-Aceh.

Tim pemenangan Irwandi tidak terblok dalam satu skop kelompok saja, banyak tim pemenangan terdiri dari kelompok civil society dan aktivis. mereka bekerja dalam ruang senyap, membaca gerak langkah lawan dan banyak pula yang menjadi spionase didalam tim pemenangan calon gubernur lainnya.

Penulis melihat bahwa cara-cara kerja pemenangan Irwandi kali ini sangat menarik. Gerakan politik yang dijalankan Irwandi tidak mudah dibaca oleh pihak lawan, gamblangnya ingin penulis katakan kerja-kerja pemenangan irwandi kali ini nyaris mirip dengan cara-cara kerja “intelijen”, senyap dan pasti.

Yang menarik disini adalah sejauh mana peran suara pendukung dari Pihak Cawagub Irwandi yakni Nova Iriansyah yang notabene adalah ketua DPD Demokrat provinsi Aceh, dalam konteks pemenangan dan soliditas dukungan riil maka dapat dipastikan bahwa populasi pemilih yang tersebar di sejumlah Kabupaten/Kota di Aceh itu memilih pasangan No urut 6 ini karena faktor Irwandi Effect seperti yang penulis sebutkan diatas, secara politik bisa dilihat bahwa Nova Iriansyah digaet Irwandi sebagai salah satu kompensasi atas kesediaan Partai demokrat melabuhkan dukungannya kepada Irwandi sehingga secara quota kepartaian‎ Irwandi dengan didukung oleh beberapa partai lainnya dapat mendaftarkan diri ke KIP Aceh.lalu kenapa Irwandi tidak memilih maju melalui calon independen sebagaimana yang pernah ia umbar? penulis melihat jika Irwandi maju via calon independen maka kondisinya cukup rawan, kenapa? karena bisa saja dia dijungkal dalam proses verifikasi KTP karena KIP Aceh kita tahu dekat dengan salah satu partai lokal.beda halnya kalau kemudian Doto Zaini, Apa Karya dan Abdullah Puteh maju melalui jalur independen dan lolos verifikasi karena memang mereka “disiapkan” untuk meramaikan bursa pilkada sekaligus untuk memecah suara pemilih saja.

Maju melalui dukungan partai politik setidaknya memuluskan langkah Irwandi untuk “menang” pada tahap awal termasuk “menang” alias tidak menjadi tersangka dalam kasus BPKS Sabang di KPK.‎Pada saat itu banyak pihak yang melakukan serangkaian lobby dan dengan cara apapun ke KPK supaya irwandi dapat dijadikan tersangka. Dukungan dari PDIP yang diperoleh Irwandi menjadi satu imunitas politik tingkat tinggi bahwa ia berada didalam naungan partai penguasa. doa-doa anak yatim dan fakir miskin pulalah yang menjauhkan Irwandi dari “naas”nya jeratan hukum ala KPK.sebagai lembaga super body sangat susah bagi kita melepas diri dari proses penegakan hukum KPK,terlepas kita bersalah atau tidak.

Lika-liku pihak yang mencoba menzalimi Irwandi terakhiri sudah, Irwandi hanya sebatas menjadi saksi dalam kasus BPKS Sabang, mereka menghadang irwandi dari proses Irwandi hendak mencalonkan diri sebagai calon gubernur‎.mereka hendak membabat habis irwandi karena “hanya” Irwandi sajalah yang dianggap pesaing kuat.

Terbukti dan akhirnya Irwandi adalah pemenang dari proses selebrasi demokrasi dan pemilik legitimasi suara rakyat Aceh yang mengantarkannya menjadi gubernur aceh kembali periode 2017-2022. Irwandi memang nyentrik dan menggelitik karena pesona kebijakan simpatiknya(JKA dan beasiswa anak yatim).lawan politiknya pun tak berkutik akibat taktik Irwandi.

Meminjam kata tokoh dunia Nelson Mandela “The greatest glory‎ in living lies not in ever falling, but in rising every time we fall”, kemuliaan terbesar dalam hidup adalah bukan karena tidak pernah jatuh tetap bangkit setiap kali jatuh.

Irwandi pernah “jatuh” di Pilkada 2012, tapi lima tahun kemudian dan kini ia kembali bangkit menjadi gubernur dambaan rakyat Aceh.‎ Selamat Tgk Agam!

Penulis Merupakan Advokat Muda Ikadin Aceh.

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful