Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Deretan Organisasi Miskin Aksi

Deretan Organisasi Miskin Aksi

Oleh: Tengku Ronny

Oleh: Tengku Ronny

Berbeda dengan sekian tahun sebelumnya, terutama pada masa-masa kritik mulai dibiarkan, gaung organisasi melalui aktivis – aktivisnya sangat riuh terdengar, baik di seputaran lokal maupun kancah nasional pasca masa kelam demokrasi.

Bintang – bintang organisasi menghiasi ruang publik melalui aura intelektualitasnya dengan kritik – kritik bernuansa cadas tanpa mengenal kompromi, membela kepentingan rakyat tertindas.

Namun saat ini, semua itu kian pudar bahkan seolah tenggelam di pusaran arus pragmatisme, aktivis organisasi bagaikan tenggelam ditelan arus zaman dan kehidupan hedonis akut dirasuki hantu borjuisme , pegiat organisasi berhasil terseret gelombang besar arus ekstrim ciptaan Monster Kapitalisme – Neo Liberalisme.

Organisasi terkesan banyak dibaluri kepentingan sempit, hanya sekedar untuk meraih ambisi dan syahwat para elitnya berbekal SK dan mandat. Kini kebanyakan organisasi hanya menambah deretan organisasi tanpa jelas peran dan dampaknya bagi publik.

Untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi seseorang pun diam – diam harus bayar sejumlah uang ,bahkan sudah menjadi rahasia umum jika praktik -praktik terselubung sejenis lainnya, yang aroma busuknya tercium namun jejak praktik culasnya sulit terendus, menjadi permainan biasa dalam setiap kontestasi organisasi, bahkan tiada siapa peduli.

Kekacauan moralitas berorganisasi seperti ini semakin mengkhawatirkan, diperburuk lagi oleh fenomena pencitraan dari para politisi, yang kini mewabah ke para pegiat berbagai organisasi. Spanduk, bilboard dan sebagainya kini kerap menyemak di ruang publik, tanpa dapat dipahami masyarakat apa peran dan konstribusi sosok yang ada di dalam material promosi tersebut bagi pembangunan dan kemajuan bangsa.

Tak jarang sosok pemain politik bersembunyi bak nabi dibalik baju organisasi sosial dan mantel organ sejenisnya.

Publik pun membiarkan orang – orang tidak bermutu terlalu menyemak mengotori ruang publik, sebab tingkat apatisme akut terlalu tinggi.

Dan lucunya, tak jarang ujung -ujungnya, mereka yang tidak berbuat apapun di organisasi tersebut malah jadi calon atau bahkan jadi wakil rakyat, yang juga anehnya tidak juga berbuat di gedung dewan terhormat.

Organisasi juga seolah beralih fungsi menjadi mesin untuk memproduksi orang -orang yang tidak pantas berada pada tenpatnya di ruang publik, menduduki kursi kekuasaan bak warisan orang tuanya.

Tidak sedikit yang mengandalkan pencitraan melalui mekanisme politik bantuan, artinya tidak tulus menolong masyarakat. Maksudnya pegiat organisasi memberi secuil bantuan ke masyarakat miskin, lalu difoto untuk dipamer, padahal yang demikian sangat bertolak belakang dengan semangat pengabdian terhadap rakyat.

Di sisi lain, peran – peran kritis para pegiat organisasi pun terkesan kembali ditekan oleh realitas yang ada, termasuk perselingkuhan elit organisasi dengan kelompok kepentingan misalkan di lingkaran kekuasaan, yang secara tidak langsung membungkam daya kritis.,,siapa diuntungkan dan siapa dirugikan?

Mendingpun jika ada suatu organisasi yang fokus pada pemberdayaan masyarakat atau pun gencar menghasilkan produk – produk tertentu yang sederhana dan sangat berguna bagi rakyat, sayangnya hal itu semakin jarang ditemukan.

Dan alangkah buruknya jika berbagai bentul organisasi -organisasi sosial yang telah ada, hanya dimanfaatkan sebagai alat serta jalur pintas mencapai kekuasaan atau kepentingan sempit lainnya.

Seharusnya organisasi bergerak dinamis, kritis dan progresif…tidak melempem apalagi membeo atau hanya memfasilitasi seragam organisasi bagi pegiatnya hanya sebagai alat gagah – gagahan dan bahkan pencitraan yang mendeso.

Padahal jika direnungkan, sebenarnya peran dan manfaat organisasi sesungguhnya sangatlah besar bagi kepentingan masyarakat dan kemajuan bangsa serta negara, dimana di dalamnya terdapat para putera- puteri bangsa yang berpotensi dan berdaya intelektual tinggi.

Sangat miris jika organisasi hanya sekedar menjadi alat pencitraan elit sebuah organisasi , sosok tanpa konstribusi memenuhi ruang publik, seperti baliho, spanduk dll tanpa jelas apa konstribusi dan partisipasinya bagi rakyat.

Dan lebih ironisnya lagi jika daya kritis seseorang justeru malah jadi mandul ketika ia menjadi anggota organisasi, sangat bertolak belakang dengan semangat kemajuan.

Realitas yang beredar saat ini, Elit organ atau pegiatnya hanya berbicara di ruang publik berdasarkan segan – seganan, materi bahasa ABs, namun miskin makna bagi kepentingan publik dan bertolak belakang dengan kebenaran dan keadilan, bahkan menginjak fakta dan idealitas moralis.

Elit organ hanya berbicara di ruang publik, melontarkan pernyataan -pernyataan yang aman -aman saja, seolah tidak terjadi apa – apa di ruang realitas sosial. Lebih menjaga perasaan penguasa dibanding rakyat.

Dan betapa buruknya lagi, jika semua elemen moralitas dianggap tidak penting dibanding uang dan kepentingan. Hal ini tentunya pola pikir sangat keliru bermotif dangkal .

Coba kita lihat ada berapa ratus organisasi di negeri ini, dan ada berapa besar manfaatnya bagi rakyat?

Penulis merupakan Ketua Forum Press Independen Indonesia Provinsi Aceh (FPII)

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful