Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Falsafah Panjat Pinang

Falsafah Panjat Pinang

Oleh: Tibrani

Tidak terasa pada tahun 2017 ini, usia kemerdekaan Indonesia telah mencapai usia 72 tahun. Usia yang sudah lumayan renta dan tua bagi seorang anak manusia, tapi masih terlalu mudah untuk menjadi sebuah negara yang berdaulat dari segala aspek pembangunan.
Sudah menjadi tradisi rutin bagi masyarakat Indonesia, pada setiap perayaan hari kemerdekaan Republik ini berbagai aneka perlombaan hiburan rakyat dilaksanakan dari pelosok Sabang sampai Marauke.

Tujuan dilaksanakan aneka lomba dan hiburan rakyat adalah untuk memeriahkan hari jadinya bangsa ini. Salah satu tradisi yang telah mendarah daging bagi segenap bangsa Indonesia dengan diadakannya lomba panjat pinang.
Biasanya dalam perlombaan panjat pinang, badan pohon pinang itu memilik tinggi 10- 15 meter telah menjulang. Seluruh badanya dileburi minyak pelumas atau oli, dan bagian puncaknya tersebut teradapat beranekaragam hadiah.

Para peserta berlomba-lomba untuk mendapatkan hadiah itu, maka para peserta lomba akan menggatasinya dengan kekompakan dan kerja sama team untuk melawan licinnya batang pohong pinang itu sendiri.
Panjat pinang pada dasarnya merupakan salah satu permainan warisan kolonial Pemerintahan Hindia Belanda. Lomba panjat pinang diadakan oleh orang-orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain sebagainya.
Namun yang menjadi peserta mengikuti lomba ini adalah penduduk pribumi. Berbagai hadiah yang berakaneragam telah disiapkan, biasanya hadiah tersebut berupa gula, keju serta pakaian kemeja, maklum saja karena bagi kalangan pribumi bahwa hadiah seperti itu termasuk barang mewah.
Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, orang-orang Belanda hanya menonton sambil tertawa terbahak-bahak melihat perjuangan pribumi yang bersusah payah untuk memperebutkan hadiah yang disediakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Cerminan Sebuah Bangsa

Sebuah potret suatu bangsa dapat dilihat dengan sebuah tradisi atau permainan rakyatnya, bagaimana tidak, suatu tradisi warisan Pemerintahan Kolonial Belanda yang tujuan sangat jelas menghina para pribumi dengan memberi sedikit hadiah tapi sudah saling menginjak untuk mendapatkan hadiah tersebut.

Alangkah sayangnya, lomba yang rutin dilaksanakan pada HUT kemerdekaan Republik ini, dengan biaya cukup mahal hanya untuk menertawakan saudaranya sendiri ketika melihat wajah dan tubuh saudara-saudara kita terekena corengan arang dan minyak.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya tradisi panjang pinang yang diadakan dalam setiap even HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang rutin dilakasanakan setiap tahunnya untuk dihapus karena falsafah yang terkandung dalam tradisi ini kita diajarkan bagaimana untuk senang dan tertawa atas penderitaan orang lain dalam mencapai tujuannya.
Sementara itu, para peserta lomba panjat pinang kebanyakan berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah harus bersusah payah dan menanggung berat orang lain, hanya untuk mencapai tujuan merebutkan hadiah yang berada diatas puncak pohon pinang.
Sudah menjadi keharusan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat untuk menghapus warisan tradisi penjajah yang dulunya dilombakan sebagai sarana hiburan kolonial Belanda untuk menghina pribumi.

Penulis Merupakan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala juga Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful