Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Rohingya dan Sejarah Masuknya Islam di Myanmar

Rohingya dan Sejarah Masuknya Islam di Myanmar

LINTAS NASIONAL – JAKARTA, Orang-orang Rohingya memang berbeda dengan orang Myanmar. Sejak Myanmar masih berupa kerajaan, ketegangan memang sudah terasakan. Di kemudian hari, perbedaan fisik, bahasa, budaya lalu agama dijadikan dasar untuk mengecap Rohingya yang sudah ratusan tahun berada di Arakan itu sebagai pendatang ilegal.

Menurut Human Right Watch, antara 2012 hingga 2014, 300 ribu orang Rohingya terusir. Menurut pemerintah Myanmar, pengusiran orang-orang Rohingya yang terjadi pada 2012 itu karena adanya pembunuhan, perampokan dan perkosaan terhadap seorang perempuan Budha pada 25 Mei 2012 di Yanbye.

Setelah kejadian itu, menurut versi pemerintah, sepuluh orang Muslim Rohingya di sebuah bis di Taungup dibunuh pada 3 Juni 2012. Alasannya: balas dendam. Pemerintah Myanmar bukannya memberi pengamanan bagi mereka yang terancam, aparat keamanan Myanmar menurut Human Right Watch justru ikut serta menyerang orang-orang Rohingya.

Keterlibatan Biksu Ashin Wirathu dari kelompok Budha Arakan yang memiliki laskar bernama Gerakan 969, berperan aktif menebar teror dan kebencian. Mereka mulai menebarkan kebencian terutama setelah Taliban menghancurkan Patung Budha di Bamiyan (Afghanistan) pada 2001.

Menurut Siegfried O. Wolf, seperti dirilis dw.com (31/8/2015), Pemerintah Myanmar adalah biang kerok atas derita orang-orang Rohingnya di Myanmar. Orang-orang Rohingya itu dianggap saingan tambahan oleh pihak penguasa dalam kehidupan sosial politik di sana. Orang-orang Rohingnya dianggap bukan pendukung pemerintah yang berkuasa. Pemerintah pun juga mendukung fundamentalis Budha, untuk  menjaga kepentingannya atas kekayaan yang ditinggali orang-orang Rohingya itu.

Junta militer Myanmar dianggap secara sengaja memelihara kebencian massa terhadap Rohingya untuk mengalihkan sorotan publik kepada mereka. Kehidupan sosial politik yang tertutup, pengelolaan pemerintahan yang otoriter, sampai pelanggaran HAM memang membuat junta militer Myanmar dikecam. Junta secara sengaja mengobarkan kebencian kepada Rohingya untuk menciptakan musuh bersama.

Menciptakan sosok musuh bersama adalah siasat lama untuk membangun persatuan dan kesatuan. Diharapkan, jika kebencian terhadap Rohingya bisa digerakkan dengan massif, maka rakyat Myanmar tidak akan terlalu peduli pada desakan demokratisasi yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Untuk itulah dikampanyekan tentang bahaya Rohingya di kawasan-kawasan tertentu. Rohingya dikesankan sebagai calon penguasa baru yang akan menguasai sumber-sumber ekonomi sehingga penduduk “asli” Myanmar akan banyak kehilangan sumber-sumber penghidupan.

Kampanye macam itu tidak sepenuhnya salah untuk kawasan-kawasan tertentu yang memang banyak diisi oleh orang-orang Rohingya. Misalnya di Arakan yang luasnya mencapai 20 ribu mil persegi. Beribukota di Akyab, kawasan tersebut memang didominasi orang Rohingya. Pada 2002, populasi di Arakan mencapai 4 juta jiwa, 70 persen di antaranya adalah Muslim.

Tapi secara keseluruhan, “politik ketakutan” semacam itu sama sekali tidak berdasar. Jumlah penduduk muslim di Myanmar sebenarnya tidak terlalu signifikan.

Islam masuk ke Myanmar sekitar 1055. Pedagang-pedagang Arab memperkenalkan Islam kepada mereka saat mendarat di delta Sungai Ayeyarwady, Semenanjung Tanintharyi, dan daerah Arakan yang yang terletak di sisi barat Myanmar. Gunung Arakan memisahkan wilayah daerah Arakan dengan daerah-daerah lain Myanmar yang mayoritas menganut Budha. Selain etnis Arakan, etnis Shan juga dikenal sebagai penganut Islam.

Orang-orang dari Persia sampai Myanmar saat menjelajahi kawasan selatan Cina. Orang-orang Islam yang merupakan penduduk asli Myanmar disebut Pathi, sedangkan orang-orang Islam yang berasal dari Cina disebut Panthay. Dari sana, Islam menyebar ke berbagai daerah, seperti Pegu, Tenasserim, dan Pathein.

Dulunya, menurut catatan Apiko Joko Mulyono di act.id (07/06/2016), Raja Arakan punya sejarah tak akur dengan Raja Myanmar pada 1406. Kebetulan Raja Myanmar dan pengikutnya adalah Budha. Kuatnya Raja Myanmar membuat Raja Arakan Naramakhbala tersingkir dari wilayahnya dan mengungsi ke Bengali. Penguasa Bengali, Sultan Nasiruddin dimintai bantuan oleh Naramakhbala. Naramakhbala lalu mengucapkan Syahadat dan ganti nama jadi Suleiman Shah.

Atas bantuan Penguasa Bengali Sultan Nasiruddin, Naramakhbala yang sudah ganti nama menjadi Suleiman Shah itu akhirnya berhasil merebut kembali wilayahnya dari kekuasaan dari Raja Myanmar. Pada 1420, Arakan memproklamirkan diri sebagai kerajaan Islam merdeka di bawah Raja Suleiman Shah.

Kekuasaan Arakan yang Islam itu bertahan hingga 350 tahun. Pada tahun yang naas, 1784, Arakan kembali dikuasai oleh Raja Myanmar. Pada 1824, Arakan menjadi koloni Inggris juga. Populasi Islam di kawasan itu pun perlahan-lahan berkurang.

Sumber: tirto.id

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful