Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Anak dari Korban Salah Transfusi Darah Tulis Surat Terbuka Kepada Irwandi Yusuf

Anak dari Korban Salah Transfusi Darah Tulis Surat Terbuka Kepada Irwandi Yusuf

Assalamualaikum wr wb

Salam hormat

Sebelumnya, saya minta maaf, jika lancang menulis surat untuk orang yang saya hormati di Aceh, Bapak Gubernur Irwandi Yusuf adalah kebanggaan kami sebagai putra dan putri Aceh. Bapak gubernur adalah anugerah kami dalam keteladanan, kami selalu bangga sebagai rakyat bapak.

Bapak gubernur sangat luar biasa mengawal pemerintahan dan kesejahteraan rakyatnya, pun kepada masyarakat kecil, Bapak Gubenur mempelopori pendidikan dan kesehatan gratis di Indonesia. Kami bangga pada bapak!

Saya sudah tidak tahu lagi harus memulai darimana untuk bercerita. Sungguh derita ini sangat menyiksa. Andaikan air mata bukanlah ciptaan Allah, sungguh sudah keringlah Krueng Pasee, bersebab di tiap doa yang saya panjatkan, selalu berharap hadirnya keadilan untuk kami, khususnya untuk ibu saya.

Perkenalkan, nama saya Musliadi, anak dari seorang ibu bernama Badriah Daud, korban salah transfusi darah di RS Arun, Lhokseumawe, yang kini harus menderita karena kesalahan oknum paramedis disana. Baiklah saya akan bercerita sedikit tentang kisah pilu itu:

Setahun yang lalu, ibu saya (Badriah Daud) berobat ke RS Arun. Namun ketika itu terjadilah kemalangan, paramedis disana melakukan kesalahan fatal. Mereka salah mentranfusi darah ke tubuh orang tua kami. Beliau bergolongan darah O, tapi yang ditranfusi adalah darah B. Peristiwa itu terjadi pada 29 Februari 2016 sekitar pukul 14.00 WIB, ibunda dibawa ke RS Arun atas keluhan diabetes. Hasil pemeriksaan, ibunda harus dirawat inap. Beberapa hari dirawat, jempol kaki ibunda makin membengkak. Hasil konsultasi, dokter bedah menyatakan harus dilakukan operasi untuk pembersihan. Pada 3 Maret 2016, Ibunda dioperasi.

Dua jam setelah di operasi, tanpa konfirmasi pada pihak keluarga, dilakukan transfusi darah. “Saat itu keluarga sempat melihat, darah yang ditransfusi golongan B. Keluarga tidak tahu saat itu sudah terjadi kesalahan, karena keluarga belum tahu golongan darah ibu ternyata O.

Saat proses transfusi berlangsung, ibunda langsung kejang-kejang, menggigil kedinginan dan keluar keringat hingga pingsan. Tapi saat itu transfusi darah tetap dilanjutkan hingga habis satu kantong. “Besoknya, kondisi ibunda masih lemah, mual, dan terus muntah-muntah. Tanggal 7 Maret, ibu diintruksikan pulang walaupun masih mual dan muntah-muntah,”

Setelah pulang, pada 8 Maret 2016 pukul 20.30 WIB, ibunda kembali kejang-kejang hingga pingsan, dan langsung dibawa kembali ke RS Arun. “Saat diperiksa lagi, dikatakan gula drop sehingga dirawat di ruang Kondesat. Selama dirawat di situ kondisi ibu makin lemah, bahkan sempat muntah darah.

Kemudian esoknya, Ibunda harus dirawat di ICU. Sehari kemudian kembali mengalami kejang-kejang hingga pingsan lagi. “Pada malam 10 Maret itulah datang petugas medis dan meminta kami mempersiapkan ibu untuk menjalani cuci darah dengan darah O. Saat itulah keluarga baru tahu, ternyata saat transfusi pertama kali salah karena dengan golongan B,”

Saat mengetahui ada perbedaan antara golongan darah yang diminta pertama dan untuk kebutuhan cuci darah, keluarga langsung mengcek ke UTD PMI Aceh Utara. Di sana kami mendapat informasi bahwa darah yang diberikan pertama kali untuk ibunda golongan darah B. “Atas dasar itu, tanggal 13 Maret 2016 kami melapor ke polisi didampingi LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe,”

Sementara itu, dalam kasus tersebut, polisi telah menetapkan tiga tersangka, dua petugas Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Aceh Utara, dan seorang petugas/perawat RS Arun, namun sungguh terlalu walau sudah berlangsung nyaris dua tahun, tak kunjung datang pertangung jawaban dari mereka. Berkali-kali kami sudah berteriak, namun semua teriakan itu raib bersama angin yang menghempas “kemunafikanya” manusia

Disaat kondisi kesehatan beliau kadang menurun. terpaksa keluarga memilih untuk merawat Ibunda sendiri di rumah walaupun ilmu dan peralatan medis yang masih sangat terbatas. Rasa sedih melihat kondisi ibunda terus begini selaku anak sudah sangatlah pasti. namun apa boleh buat tiada tempat untuk kami mengadu dan berharap belas kasih. Karena keluarga kami bukan dari lingkar kekuasaan. maka jalannya tidaklah selalu mudah, untuk berobat saja harus dengan kartu BPJS miskin yang dibagikan dikampung tempat tinggal kami.

Segala usaha dan upaya sudah kami tempuh demi untuk kesembuhan ibunda yang kami cintai. namun Allah Swt belum memberikan mukjizatnya kepada kami dan kondisi beliau semakin hari semakin-kian melemas

Hari-hari ini, ibu saya sudah tidak mampu lagi pulih seperti sediakala. Ia sudah harus menghabiskan hari-hari tuanya di tempat tidur. Bilapun hendak melangkah, itupun sudah tidak bisa hanya mampu berdoa semoga keadilan itu datang kepada nya.

Kami hanya rakyat kecil, kami tak tau kepada siapa kami mengadu segala harapan dan tumpuan kami kepada bapak selaku pemimpin kami.

Aceh Utara 06 Oktober 2017

Musliadi Salidan,

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful