Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Semangat Wirausaha Dalam Secangkir Arabica

Semangat Wirausaha Dalam Secangkir Arabica

Oleh: Rachmadi

Suatu ketika penulis sedang menghabiskan waktu sendiri dalam riuh ramainya kedai kopi sembari menikmati secangkir arabica nikmat dan terus bergelut dengan alam pikiran yang berat. Banyak hal yang menjadi titik perhatian mulai dari dunia pendidikan, sosial dan budaya. Namun akhirnya tertaut pada kondisi generasi muda Indonesia terkhusus Aceh yang menggantungkan nasib kepada instansi pemerintahan. Yang penulis maksud disini adalah cita-cita menjadi pegawai negeri sipil (PNS) namun tidak ada keinginan untuk maju dengan berwirausaha.

Fakta dan data yang teramat sering kita temui ialah lulusan-lulusan dari universitas yang keluar dengan predikat Cumlaude pun meletakkan PNS pada urutan nomor satu dalam daftar mimpi yang ia tuliskan di dinding-dinding kamar nya. Terbukti pada waktu perekrutan CPNS jumlah peserta yang akan bertanding berbanding sangat jauh dengan jumlah yang diminta. Artinya kecintaan terhadap profesi pegawai negeri sipil ini sungguh besar dan terlalu sulit untuk dilupakan.

Dibandingkan dengan dorongan menjadi PNS , perguruan tinggi kita memang masih sangat minim dalam mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi seorang entrepreneur (wirausahawan). Akibatnya setelah meraih gelar sarjana maka mereka pun kembali dihadapkan dalam situasi layaknya perang dunia ke II. Mengikuti ujian dengan bersenjatakan ilmu pengetahuan, dan kemudian berharap namanya tercantum dalam peserta yang lolos ujian.

Para pejabat daerah juga bukanlah golongan yang gemar berwirausaha. Sedikit sekali kita dapati kepala-kepala dinas atau anggota DPR menjalankan bisnis guna memajukan perekonomian daerah. Tak salah jikalau buaya yang datang lebih agresif dari buaya didalam sungai. Kini pasar telah dikuasi hampir seluruhnya oleh pengusaha dan investor asing, pribumi hanya menjadi buruh kasar yang menanti upah setelah keringatnya bercucuran lalu kering.

Perhatikanlah bagaimana pedagang-pedagang dari luar Aceh yang begitu gencarnya memasarkan produk di negeri serambi mekkah ini. Dikhawatirkan hal tersebut akan berdampak pada pengaruh budaya-budaya asing yang dibawa oleh mereka. Tetapi kita tidak usah memperdalam hal itu, yang paling utama adalah bagaimana menanamkan jiwa entrepreneur dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) pada akhir tahun 2015 lalu, telah memudahkan suatu negara dalam memasarkan produk dan jasanya ke negara lain di seluruh Asia Tenggara. Tidak hanya sampai disitu, para tenaga kerja professional juga akan dengan leluasa keluar masuk Indonesia. Hal ini bukanlah guyonan semata, melainkan ancaman serius bagi masyarakat Indonesia karena apabila tidak mampu menyeimbangi negara lain maka akan seperti singa ompong di kandangnya sendiri. Oleh sebab itu menjadi pengusaha ialah salah satu solusi yang tepat guna mengantisipasi hal tersebut.

Berdasarkan realita yang kita temui, semangat untuk menjadi entrepreneur ini belum mengakar ke semua kalangan khususnya bagi kaum terpelajar Aceh. Mungkin ada beberapa stigma negatif dalam benak orang yang menganggap bahwa menjadi wirausahawan itu rawan ‘kecelakaan’. Padahal Allah SWT telah menurunkan Rahmat-Nya ke bumi dengan berbagai bentuk, dan salah satunya terdapat dalam berniaga (berwirausaha).

Menumbuhkembangkan jiwa entrepreneur hendaknya dimulai dari diri sendiri, keluarga dan teman dekat. Ubahlah mindset buruk terhadap dunia usaha dan tanamkan semangat kewirausahaan dengan slogan ‘one village one product, one family one entrepreneur’. Kita memang tidak sedang berada di Jepang yang anak kecilnya saja sudah mampu menciptakan mainan untuk mereka sendiri, atau di Amerika Serikat yang para pengusahanya jauh lebih kaya raya dari pemerintah. Namun kita dapat meneladani prinsip ATM dari mereka. Amati bagaimana orang di belahan bumi yang lain itu menciptakan produk, tiru kebiasaan-kebiasaan kreatif mereka, kemudian modifikasi dalam bentuk yang berbeda .

Saat Gubernur Irwandi Yusuf mencanangkan program aceh carong, harapan kita bersama masyarakat Aceh tidak hanya cerdas dalam akademis namun juga lebih mengoptimalkan kerja otak kanan dalam melakukan inovasi dan meng-upgrade potensi diri. Kampus-kampus ternama juga harus mensyaratkan bagi semua lulusannya agar membekali diri dengan keahlian khusus yang tersertifikasi agar dapat menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi angka pengangguran.

Mengutip kata-kata dari Rahmad Rioneer Adam ‘bukan salah pendidikan menciptakan pengangguran’ tapi pandangan buruk tentang dunia usaha lah yang seolah membatasi diri kita untuk menjadi sarjana penghasil lapangan kerja. Bahkan seorang pengusaha bukan berarti tidak bisa menjadi pegawai negeri sipil. Bila keduanya dapat berjalan seirama maka akan menciptakan harmoni yang indah bagi kehidupan dan perekonomian manusia.

Penulis Merupakan Mahasiswa S1 Perbankan Syariah UIN-Arraniry

Share it!
  • Twitter
  • Facebook
  • email
  • More

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful