Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Opini: Kuliah Bukan Soal IPK

Opini: Kuliah Bukan Soal IPK

Setiap pulang ke kampung halaman memang sudah tradisi ditanyakan gimana nilainya nak? iPK nya tinggi gak, biasanya sih kalangan ibu-ibu yang suka nanya beginian, pasti kalau wisuda nanti ditanyain gimana kelulusannya cumlaude gak ? memang benar nilai itu kebenaran yang tampak , namun sejak dari jamannya para anbiya ilmu itu gak diukur dengan nilai ataupun IPK, bahkan pada jamannnya imam-imam mazhab ditanyakan bagaimana sudah menguasi ilmu yang di dalami, mungkin tradisi awam ini juga bakalan jadi seperti adat nantinya.

Umumnya kalangan mahasiswa memang menggemari sebuah nilai tak terkecuali mungkin saya sendiri, sekilasnya memang tampak biasa, tapi yakinlah ternyata nilai bukan soal prioritas yang paling menjamin, tapi di dunia perkuliahan kita sangat senang jika akhir dari nilai ujian kita begitu memenuhi kadar maksimal, padahalnya yang harus di prioritaskan itu soal ilmunya, bagaimana seseorang mampu menguasai apa yang di pelajari, soal skill yang di dalami, teori yang akan dipraktekkan. tapi nyatanya mahasiswa sekarang malah sibuk mengutamakan nilai. Harusnya bukan seberapa tinggi nilai yang akan di capai, tapi sejauh mana sudah kita paham soal ilmu yang di terapkan.

Karena sebab budaya lah yang membuat kita cinta sebuah nilai, memang sebenanrnya nilai itu adalah sebuah syarat, tapi jika di sandingkan dengan kesuksesan pastinya akan kalah dan ilmu lah yang menjadi juara, sesuai dengan kalam allah yg berbunyi di penghujung ayat ke 11 surat Al- Mujadalah bahwa allah akan meninggikan beberapa derajat org” berilmu. Ternyata ilmu itu berharga di bandingkan nilai, dia punya harga yang begitu tinggi, bahkan jika seseorang semakin tinggi ilmunya semakin tinggi langkahnya dalam perjalanan. Bahkan Allah juga meninggikan org yg berilmu bukan org yg bernilai sesuai dengan firmanNya.

Bahkan mirisnya mahasiswa jarang mengedukasi diri dengan ilmu yang bermanfaat, bahkan minat belajar mahasiswa semakin menurun, karena sebab nilai yang memanjakannnya akhirnya ilmu bukan soal prioritas, faktanya orang-orang sukses karena mereka yang berusaha menjelajahi ilmu, salah satunya imam syafi’i, ya memang beliau sangat terkenal karna sejak umur 9 tahun beliau sudah menghafal alquran, imam syafi’i mengisahkan perjalanannya pergi untuk menjumpai imam malik.

”Sebelum Imam Syafii mengadakan perjalanan menuju Imam Malik, beliau mengadakan persiapan untuk pertemuan itu. Beliau menghafal Kitab al-Muwaththa. Sebagian riwayat menjelaskan bahwa beliau menghafalnya pada umur sepuluh tahun, pada sebagian riwayat yang lain dikisahkan bahwa beliau menghafalnya pada saat umur tiga belas tahun” bagaimana jarak jauhnya ilmu kita saat ini dengan imam syafi’i itu memang bukan hal layak untuk di sandingkan.

Bagaimana mahasiswa? apa kita masih senang mengandalkan IPK untuk sebuah kesuksesan, Kenapa kita senang bermalas padahal dahulu pun orang menjelahi ilmu tanpa bermotor nah kita ini yang semakin canggih langkahnya, tapi malah semakin malas dalam mencari ilmu. Tapi hakikatnya zaman sekarang belajar untuk menempuh IPK 3,5 coba di ubah aja dulu niatnya barangkali lebih ikhlas dalam mengedukasi diri untuk berilmu, ilmunya juga akan benar-benar terjaga sebagaimana kembali kepada niat kita. Semoga mahasiswa berbenah mengubah niat agar mengedepankan soal ilmu dan menomor duakan niat mendapatkan nilai yang baik.

Penulis merupakan Mahasiswi s-1 Ekonomi syariah UIN Arraniry angkatan 2015.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful