Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Kekerasan Perempuan di Abdya Meningkat, Ini Harapan ALPERA

Kekerasan Perempuan di Abdya Meningkat, Ini Harapan ALPERA

LINTAS NASIONAL – ABDYA, Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) meningkat drastis di tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 lalu.

Hal ini diutarakan Dian Guci, Juru Bicara Aliansi Peduli Perempuan dan Anak (ALPERA) Abdya menggelar diskusi perempuan dengan tema “Perempuan Abdya Sadar Kekerasan Dalam Rumah Tangga’ di Cafe Nongkrong pada Minggu 3 Desember 2017.

“Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2017 ini sangat tinggi, catatan kami berada di kisaran 75 sampai 80 persen dibandingkan tahun 2016,” sebut Dian Guci.

Menurutnya, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak berbagai jenisnya di Abdya sangat banyak dan tergolong parah, seperti kasus pemukulan dan pelecehan secara lisan.

“Kasus yang paling parah di “lacur” kan oleh suaminya,” ujarnya.

Dian mengaku, sejauh ini ada beberapa masalah yang menjadi hambatan pihaknya dalam melakukan pendampingan terhadap korban perlakuan tak senonoh itu sehingga ada kasus yang bisa langsung ditangani dan ada yang hanya bisa dilakukan mediasi saja dengan pelaku.

“Yang gak bisa kita tangani, misalnya kejadian kelakuan tahun lalu dan kasusnya baru mencuat saat ini, tentu kita tidak punya bukti lagi, terlebih tidak bisa dilakukan visum,” kata Dian.

“Ditambah lagi saat polisi melakukan BAP, butuh pakar psikologi dan itu belum ada di Abdya, itu yang menjadi kesulitan korban dan kami dalam melakukan pendampingan,” sebutnya menambahkan.

Menurutnya, kerap dilakukan penyelesaian suatu kekerasan terhadap perempuan baik itu kasus pemerkosaan, pemukulan atau kasus kekerasan lainnya dengan menggunakan hukum adat gampong, sehingga tidak efektif, seharusnya memikirkan psikologi korban sebelum diambil tindakan.

“Menggunakan hukum adat gampong (menikahkan) dalam penyelesaian kasus seperti pemerkosaan, itu tidak memikirkan psikologi korban, sebenarnya harus dipikirkan juga psikologi korban,” kata Dian lagi

ALPERA berharap Rumah Sakit di Abdya membuat kebijakan membantu korban pelecehan seksual atau kekerasan untuk bisa dilakukan visum, tanpa harus meminta izin dulu kepada pihak kepolisian, lantaran untuk mengurus surat izin itu korban harus di BAP dulu.

“Kami sering membawa korban ke rumah sakit untuk di visum tapi tidak bisa, harus ada izin terlebih dahulu, Ini yang menjadi kesulitan kita dalam hal mengumpulkan bukti,” keluhnya.

Dian menyebut, pihaknya akan terus berupaya semaksimal mungkin memberikan pendampingan terbaik terhadap korban untuk setiap kasus-kasus kekerasan yang dialami warga Abdya baik perempuan dan anak.

“Kita akan terus berupaya bagaimana korban tidak disudutkan dalam proses pemeriksaan. Kami harap dikungan Pemkab,” tutupnya. (JIMI)

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful