Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Ketika Islam Di Trom oleh Trump

Ketika Islam Di Trom oleh Trump

 

 

LINTAS NASIONAL  – Dunia baru-baru ini sedang dihebohkan dengan kebijakan Donald Trump tentang pemindahan ibukota Israel  dari  Tel Aviv  ke Yerusalem (al-Quds) yang diikuti dengan pemindahan kedubes Amerika ke kota suci tersebut, kabar ini dalam waktu yang singkat viral bahkan  menjadi headline diberbagai media cetak maupun online, tak sedikit dari kita yang “hipertensi dadakan” tatkala mengikuti berita tentang kebijkan trump.

Semenjak tongkat estafet kepresidenan  berpindah dari Obama kepada Donald Trump acap sekali kita melihat kebijakan kontroversial yang dilakukan  oleh presiden Amerikat Serikat  ke 45 itu, salah satunya adalah pemindahan Ibukota  Israel ke Yerusalem. Demo dan kecaman mengalir begitu deras baik dari Negara-negara Muslim maupun non Muslim diberbagai penjuru dunia, namun bagi Trump itu semua sepertinya tidak menjadi hambatan berarti untuk melanjutkan langkah gilanya itu.

Yerusalem merupakan wilayah tertua di dunia yang terletak di sebuah  dataran tinggi pegunungan Yudea antara wilayah  Laut Tengah dan Laut Mati, wilayah ini dianggap suci oleh tiga agama yaitu Yudaisme, Nasrani dan Islam. Bukti suci tempat ini dapat kita lihat ketika orang Yahudi melakukan ziarah ke Yerusalem tepatnya pada tempat dibangunnya tembok barat (tembok ratapan) yang menurut kepercayaan bagsa Yahudi adalah fondasi penciptaan bumi. Bagi kepercayaan orang Kristen Yerusalem merupakan tempat  disalibnya Yesus bahkan disana terdapat gereja al kudus yang menjadi situs penting umat kristen. Tidak terkecuali bagi umat Islam dimana disana terdapat situs suci yaitu Masjid Al-Aqsa, selain itu wilayah ini juga menjadi kiblat pertama umat Islam.

Dibalik banyaknya situs-situs bersejarah yang penuh dengan nilai-nilai spiritual yang masih tertancap utuh di Yerusalem lantas tidak membuat kota tersebut aman, damai, tentram sebagaimana kita inginkan, sikap  saling klaim kepemilikan kota suci itu telah menoreh sejarah panjang dan menyedihkan terutama bagi saudara kita di Palestina, mengutip data dari Tirto kota Yerusalem pernah hancur 2 kali, dikepung 23 kali dan diserang sebanyak 52 kali.

Israel pada tahun 1967 pernah mencaplok seluruh bagian Yerusalem kemudian pada tahun 1980 menyatakan bahwa Yerusalem sebagai ibukota Israel namun PBB tidak mengakuinya. Ketegangan antara Israel dan Palestina semakin panas ketika zionis berusaha menguasai Al-Aqsa dan mencoba untuk merebut dari pihak Islam, konflik berkepanjangan telah membuat Yerusalem menjadi kawasan zona merah yang menakutkan, sampai saat ini kedua Negara itu masih dalam keadaan berperang (tidak aman), tentunya dibalik perang kedua Negara tersebut terdapat Negara-negara yang mensponsorinya, Palestina didukung oleh negara timur tengah seperti Qatar, Yordania dan lainnya sedangkan Israel salah satunya didukung oleh Amerika.

Ketika dunia sedang sibuk mencari resolusi konflik Palestina-Israel yang memakan waktu puluhan tahun lamanya, tiba-tiba saja Donald Trump mengambil  kebijakan secara sepihak yang mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel, sehingga secara tidak langsung kebijakan Trump semakin memperuncing keadaan. Penulis melihat bahwa ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kebijakan tersebut.

Pertama, Pada masa kampanye Trump pernah berjanji jika ia terpilih nantinya maka akan memindahkan kedubes Amerika ke Yerusalem, wacana ini sebenarnya sudah dikeluarkan sejak tahun 1995 oleh Presiden sebelum Trump tapi tidak mampu diwujudkan, oleh sebab itu ia mencoba merealisasikan janji politik yang pernah dilontarkan saat kampanye. Kedua, Sebagaimana kita ketahui bahwa Amerika merupakan negara super power yang memiliki kuasa dan mampu mempengaruhi negara-negara lain, untuk itu kebijakan trump dinilai sebagai bentuk mempertegas kembali bahwa negeri Paman Sam saat ini benar-benar masih menjadi negara adidaya. Ketiga,kebijakan Trump bisa jadi untuk mengalihkan ketegangan antara Amerika  dengan Korea Utara, inharmonisasi ini jika dijawab dalam bentuk perang maka akan sangat merugikan Amerika, dikarenakan kekuatan perang Korea Utara tidak boleh dinafikan. Untuk itu mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dinilai langkah tepat yang dilakukan Amerika guna mendinginkan suasana antara Korea Utara-Amerika.

Pun demikan kita sebagai umat Islam memandang kebijakan Trump sebagai jalan untuk bermuhasabah, paling tidak dengan Islam ditrom (tendang) oleh Trump lewat kebijakannya itu  menjadi barometer untuk mengukur  persatuan umat Islam. Hari ini kita harus mengakui bahwa negara-negara Islam tidak mempunyai balance of power untuk menyaingi negara-negara non Islam terutama sekali Amerika, kita disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Untuk itu negara-negara Islam harus bersatu padu menentang kebijakan Trump, apalagi tanggal 13 Desember dikabarkan OKI (Organisasi Kerjasama Islam) akan mengadakan pertemuan di Istanbul Turki guna menyikapi masalah yang terjadi, Penulis pikir ini menjadi momen tepat untuk menggalang persatuan umat Islam melawan kejahatan politik yang dilakukan oleh Amerika.

PENULIS : AMARULLAH YACOB

ALUMNI JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UIN ARRANIRY

 

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful