Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Catatan Mahasiswi Kedokteran Unsyiah: Cinta Pembawa Perselingkuhan

Catatan Mahasiswi Kedokteran Unsyiah: Cinta Pembawa Perselingkuhan

Oleh: Yana Humaira

Cinta adalah perasaan suka, sayang dan keinginan untuk bersama. Hubungan yang terjalin selama masa perkenalan dan merasa cocok satu sama lain maka mereka memutuskan untuk menikah. Menikah merupakan suatu tahap kehidupan manusia dimasa dewasa, wanita dan laki-laki saling memilih pasangan yang menurutnya nyaman, merasa dihargai, aman dan saling mengerti., agar hubungan mereka diakui secara hukum dan diketahui oleh kelurga besar.

Ketika pernikahan sudah terjadi maka pernikahan memiliki ikatan yang kuat untuk membesarkan anak-anak mereka. Suatu perkawinan yang sehat dan bahagia apabila masing-masing pasangan memperoleh dukungan emosional, pemenuhan kebutuhan seksual, memiliki teman bertukar pikiran yang sangat menyenangkan.

Pernikahan sejatinya merupakan ikatan suci yang menyatakan dua ikatan pribadi melalui komitmen hidup bersama sepanjang masa. Kehidupan yang harmoni sangat didambakan oleh setiap pasanangan.

Hasil penelitian membuktikan mereka yang mampu bertahan dalam perkawinan lebih bahagia dari mereka yang tidak memiliki pasangan dan berumur lebih panjang, (Gottman & Silver dalam Soekandar, 2007). Dukungan pasangan sangat penting dalam masa-masa sulit dan menghindari konflik ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Perselingkuhan merupakan disharmoni dalam keluarga seperti umah tangga kacau, ada pihak yang disakiti sehingga menyebabkan penyakit menular seksual dan peilaku pimitif, namun kebahagiaan tidak dapat terwujud dalam seketika karena setiap individu yang menikah akan dihadapkan pada masalah yang membuat konflik.

Daniel (dalam Kosasih, 2009) mengatakan bahwa perselingkuhan adalah perbuatan layaknya suami istri yang sah seseorang dengan orang lain, tetapi bukan pasangan resminya, sifatnya lebih kepada memenuhi perasaan senang bagi sang pelaku. Tahun 2005 di Jawa Timur diperoleh 13.779 kasus perceraian yang dapat dikategorikan kibat dari perselingkuhan. Sebanyak 9.071 kasus karena gangguan orang ketiga dan 4.708 karena cemburu. Presentasenya mencapai 9,16% dari 150.395 kasus. Hal ini berarti satu dari sepuluh keluarga yang bercerai satu diantaranya karena perselingkuhan yang jika dirata-rata setiap dua jam terdapat tiga pasangan suami istri bercerai akibat perselingkuhan.

Perselingkuhan yang tidak diketahui pasangan dapat memberikan efek negative. Mereka berselingkuh dengan memperoleh pengalaman bahagia, ketika perselingkuhan terungkap maka mulailah pasangan menjadi curiga dan protektif terhadap pasangan. Ketika perselingkuhan terungkap maka masa-masa sulit terjadi didalam rumah tangga. Baik yang menjadi korban selingkuh atau yang melakukan perselingkuhan (Glass & staeli,2003).

Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami dapat mengakibatkan efek negative jangka panjang ( Moore, 2002). Perasaan seperti marah, sedih, kesal,kecewa, tidak dihargai menjadi perasaan oleh para istri yang mendominasi. Bercerai merupakan hal yang biasa yang diucapkan istri ketika pertama ketahuan selingkuh. Bila suami mengakui perselingkuhannya dan menghentikan perselingkuhannya pemulihan dapat terjadi dengan cepat apa lagi keduanya mengikuti terapi motivasional (Wainer, 1992).

Istri mengetahui suami berselingkuh maka istri lebih banyak menanyakan hal secara detail karena takut dibohongi. Istri menjadi sangat wasapada dan merasa tidak sempurna. Ketika suami mengaku beselingkuh istri marah dan berusaha untuk bersabar dan mempertahankan rumah tangga.

Ketika memperoleh terapi pasangan lebih dapat memahami dan menerima kekurangan dan kelebihan pasangan sehingga perselingkuhan dapat teratasi.

Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Psikologi, Kedokteran Unsyiah

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful