Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Kalau Bisa Jadi Superior, Kenapa Harus Inferior?

Kalau Bisa Jadi Superior, Kenapa Harus Inferior?

Oleh: Putri Yuni Humaira

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata “inferioritas”? Perasaan negatif, pengalaman buruk, dan sesuatu yang memalukan? Atau mungkin sebaliknya, Anda justru merasa bahwa inferioritas adalah sesuatu yang wajar dimiliki setiap orang dan bukanlah sebuah masalah? Setiap individu mungkin pernah merasakan hal tersebut, bisa jadi karena adanya tekanan ataupun tuntutan dari lingkungan, merasa banyaknya kekurangan yang ada dalam dirinya, kegagalan dalam suatu pencapaian, pengalaman masa lalu dan alasan-alasan lainnya.

Inferioritas juga kerap dikaitkan dengan orang-orang introvert karena mereka dikenal sebagai orang yang membatasi diri dengan lingkungan sosialnya tanpa tahu penyebab yang sebenarnya membuat mereka berperilaku seperti itu. Lalu, benarkah bahwa inferioritas adalah suatu sifat negatif?

Nyatanya, inferior atau yang lebih dikenal dengan rasa rendah diri tak selamanya merupakan suatu hal yang buruk. Kembali lagi, persepktif atau sudut pandang individu sangat berpengaruh dalam hal menyikapi rasa rendah diri tersebut. Alfred Adler, seorang tokoh psikologi kepribadian yang dikenal teorinya yang menekankan pada inferiotas-superioritas, menemukan hal “berbeda” dalam inferioritas.

Adler (1991, dalam Smith & Vetter) dalam teorinya menyebutkan bahwa, ada enam elemen dasar pembentuk struktur kepribadian individu, yaitu tujuan yang imajiner, upaya untuk mencapai superioritas, inferiority feeling and compensation (perasaan inferioritas dan pelampiasan atas kekurangan), minat-minat sosial, gaya hidup, dan diri kreatif (creative self). Inti dari teori Adler menyatakan bahwa inferioritas bukanlah suatu ciri abnormalitas, melainkan penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, manusia di dorong oleh kebutuhan untuk mengatasi inferoritasnya dan kemudian “memacu” dirinya untuk menjadi superior. Ke enam elemen dasar tersebut merupakan cara-cara yang dapat dilakukan individu untuk mencapai superioritas. Saat Anda sedang dalam keadaan yang membuat Anda merasa inferior, pahami bahwa keadaan tersebut bukanlah sesuatu yang salah dan di artikan sebagai hal negatif.

Cobalah ubah persepsi dan sudut pandang Anda bahwa Anda dilahirkan sebagai seseorang yang hebat. Anda mampu untuk menjadi sosok luar biasa dengan segala hal yang ada pada diri Anda. Jadikan hal-hal yang membuat Anda merasa inferior sebagai batu loncatan, sebagai alasan Anda untuk melapiaskan kekurangan-kekurangan Anda yang dibuktikan dengan sebuah pencapaian luar biasa. Ingatlah bahwa setiap individu itu unik. Surely, others have their own problems but they try the hardest way to cover it with something positive and so do you.

Semua kemajuan manusia, pertumbuhan, dan perkembangan dihasilkan sebagai usaha untuk mengkompensasi inferioritas seseorang, terlepas dari apakah inferioritas tersebut adalah nyata atau hanya imajinasi. Sepanjang kehidupan individu, seseorang dimotivasi oleh kebutuhan untuk mengatasi perasaan inferioritas ini dan untuk berusaha untuk ketingkat perkembangan yang lebih tinggi.  Penting untuk dipahami bahwa perasaan inferior itu tidak dapat dihindari.

Inferioritas memberikan motivasi terbesar untuk berusaha, untuk tumbuh, agar lebih maju dan sukses. Semua kemajuan dan peningkatan dihasilkan dari usaha mengkompensasi perasaan inferior ini. Hal itu sangat berharga dan berguna. Kemudian, keseluruhan proses psikologis dan fenomena dapat dijelaskan dengan konsep “finalism” oleh Adler –pikiran bahwa kita punya tujuan utama, keadaan akhir dari suatu keberadaan, dan kecenderungan sekarang-selamanya atau kebutuhan untuk bergerak dalam tujuan itu. Ada aspek penting dalam pernyataan tentang finalism, tujuan yang kita capai sebagai individual bukanlah merupakan aktualita tapi lebih pada potensialitas. Kita berjuang untuk cita-cita yang ada dalam diri kita secara subyektif.

Anda mungkin pernah melihat atau membaca infomasi mengenai orang-orang dengan “keistimewaan” namun dapat meraih kesuksesan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Hal ini sangat mungkin adalah perwujudkan dari inferioritas yang dipandang secara optimis sehingga berhasil menjadikan orang tersebut berada pada level superior.

Sebuah contoh nyata diangkat dari kisah Mario Teguh. Mungkin kita semua pernah mengenal sosok ini. Ya, Mario Teguh yang dikenal sebagai motivator yang cukup dikenal di Indonesia ternyata dulunya adalah seseorang yang sangat minder dalam menjalani kehidupannya. Om Mario, sapaan akrabnya, dulunya adalah orang yang pemalu, pendiam, dan cenderung menutup diri dari lingkungan sekitarnya saat ia berada diluar rumah, namun saat dirumah ia adalah sosok yang periang.

Alasannya apa? Menurutnya, kehidupannya (saat ia kecil) sangat menyedihkan, ia tumbuh di keluarga yang bisa dikatakan kurang mampu sehingga membuatnya merasa tidak pantas menjadi orang yang terihat bahagia didepan teman-temannya. Setiap hari saat ia berangkat dan pulang dari sekolah, teman-temannya yang merupakan anak pejabat selalu saja menghina kehidupannya. Hal tersebut membuatnya sangat tertekan dan menjadikannya sebagai salah satu siswa paling bermasalah di sekolahnya. Ia malas belajar, sering merenung, dan tidak fokus dalam belajar yang membuatnya memiliki banyak “hiasan merah” di rapor SMP nya.

Mario kecil tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang kaya suatu saat nanti. Ia justru lebih senang membayangkan sesuatu yang menurutnya menarik dan asyik untuk dilakukan. Membuat pesawat terbang bertenaga aki motor, bisa menghilang dalam berbagai situasi, merupakan contoh dari hal-hal yang sering diimpikan oleh seorang Mario kecil.

Menurutnya, orang minder sebenarnya adalah sosok yang memiliki imajinasi yang hebat, namun tinggal bagaimana orang tersebut berhasil mewujudkannya. Titik balik Om Mario terjadi saat ia duduk dibangku SMA. Berbagai cara dilakukannya agar ia bisa terihat ceria seperti anak lainnya sembari terus berusaha untuk memotivasi dirinya bahwa ia bisa jadi lebih hebat dari saat ini melalui berbagai perjuangan panjang yang berhasil dilaluinya. Singkat cerita, sosok Mario yang dulunya adalah orang yang sangat minder, sekarang berhasil “menggoyang” publik dengan kesuksesannya yang luar biasa. Melalui kehebatannya saat ini, siapa yang pernah menyangka bahwa Mario kecil adalah seorang yang minder?

Lalu bagaimana dengan Anda? Anda lah yang berhak menentukan diri Anda menjadi Superiorkah atau tetap duduk menunduk dalam ke-inferioritas-an yang Anda miliki.

Penulis merupakan Mahasiswi tingkat III Prodi Psikologi FK Unsyiah

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful