Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Rivalitas Arab Saudi dan Iran di Negeri Para Wali

Rivalitas Arab Saudi dan Iran di Negeri Para Wali

Oleh: Tibrani

Ketika Umar Bin Khattab salah satu sahabat Rasulullah SAW menaklukan Kerajan Persia menjadi wilayah kekhalifan Islam, maka secara otomatis maka lenyaplah imperium Persia atau negara adidaya ketika ketika masa itu, runtuhnya kerajaan Persia membuat Bangsa Persia sakit hati dan marah besar terhadap Umar Bin Khatab, sehingga Umar Bin Khattab dibunuh oleh Abu Lu’luah seorang mantan panglima perang Persia yang dijadikan budak pasca penaklukan kekaiasan Persia.

Kemarahan bangsa Persia terhadap Umar Bin Khattab karena menurut mereka sang khilafah telah menghapus jejak peradaban bangsa Persia yang telah disemai dan dibangun ratusan lalu dibawah naungan imperium Persia.

Peristiwa penaklukan Persia yang dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab telah terjadi seribu lima ratus tahun yang lalu jauh sebelum Arab Saudi dan Sekutunya membombardir kelompok Syiah Houthi di ibu kota kenegaraan Yaman yaitu, Sana’a.

Menurut penulis peristiwa penaklukan Persia oleh bangsa Arab telah membuat eskalasi konflik antara bangsa Persia dan Arab mengalami hubungan tumpang tindih pengaruh kepentingan antara sang dua adidaya Timur Tengah yaitu, Persia yang sekarang telah berganti nama menjadi Iran. Dan tempat lahir dan berasalnya Umar bin Khattab yaitu, Arab Saudi. Untuk membahas masalah tersebut izinkan penulis untuk menjelaskan letak geografis dan pengaruh global kedua negara tersebut.

Arab Saudi merupakan negara yang terletak di jazirah Arab. Beriklim gurun dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al-Khali. Bangsa Arab menyebut kata gurun pasir dengan kata sahara.

Pada sistem pemerintahan Arab Saudi menggunakan sistem kerajaan atau lebih dikenal dengan monarki. Sedangkan pada hukum negaranya berlandaskan syariat islam yang berlandaskan ajaran Sunni.
Sedangkan Iran merupakan Negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya. Iran berbatasan dengan Azerbaijan (500 km) dan Armenia (35 km) di barat laut dan Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (1000 km) di timur laut, Pakistan (909 km) dan Afganistan (936 Km) di timur, Turki (500 km) dan Irak (1.458 km) di barat, dan perairan Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.

Secara ideologi Iran berdasarkan Mazhab Syiah Imam 12 (Ja’fari ). Pemimpin kekuasaan tertinggi di bidang politik dan keagamaan dipimpin oleh seorang Ayatullah.

Sebelum revolusi Iran tahun 1979 hubungan bilateral antara kedua Negara menjalin hubungan yang sangat baik. Pada tahun 1960an dibawah kemimpinan Raja Faisal dari Arab Saudi Shah Reza Fahlezi berasal dari Iran.

Terjadi hubungan persahabatan yang harmonis, hal itu sangat berkaitan bahwasanya ketika itu Arab Saudi dan Iran merupakan mitra Amerika serikat di kawasan Timur tengah.

Namun, Setelah Revolusi Iran tahun 1979 “Revolusi Islam” hubungan antara Arab Saudi dan Iran memburuk, Arab Saudi sangat takut Mengespor revolusi tersebut, karena mengancam supremasi kerajaan Arab Saudi.

Iran sangat berperan penting dalam “mengekspor revolusi” atau menyebarkan ajaran Islam Syiah Iran ke Negara-negara lain yang berpopulasi islam.

Kelompok minoritas di Syiah di Arab Saudi berjumlah 10 persen dari populasi total, atau sekitar tiga juta jiwa. Kebanyakan etnis minoritas ini hidup di timur, tepi teluk Persia yang memiliki cadangan minyak terbesar.

Kehadiaran Iran sebagai Republik Islam menambah dinamisnya suasana politik dalam hubungan Sunni dan Syiah. Konflik dengan Iran juga sering berujuk tindakan represif pemerintah Arab Saudi terhadap penduduk Syiah di timur.

Terlalu sering aksi demonstrasi yang dilancarkan oleh kaum Syiah dituding sebagai pemberontakan yang disetir oleh pemerintah yang berada di Teheran.

Perebutan Pengaruh ideologi

Pasukan milisi Syiah Houthi yang di dukung penuh oleh pemerintahan Teheran, beberapa tahun yang lalu, berhasil mengambil alih kekuasaan dari Presiden Islam Sunni Abd-Rabbu Mansour Hadi dukungan Arab Saudi.

Bagi Iran dan Arab Saudi, Yaman merupakan tempat sangat strategis. Khusus Arab Saudi Yaman adalah benteng terakhir untuk mencegah semakin meluasnya pengaruh Syiah Iran ke wilyah monarki Arab Saudi.

Maka untuk mencegah terjadinya perluasaan ideologi Syiah Iran pemerintah kerajaan Arab Saudi membentuk koalisi yang lebih dikenal dengan koalisi teluk tujuan dari pembentukan koalisi tersebut supaya dapat memulihkan pemerintah sah Yaman dibawah kemimpinan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi(Sunni) yang sebelumnya dikudeta oleh milisi Syiah Houthi.

Sedangkan Iran juga berusaha membangun kedekatan dengan Libanon,Suriah dan beberapa pemimpin milisi di Timur Tengah, kekuatan itu akan menjadi tandingan Arab Saudi di kawasan.

Pergolakan di Yaman merupakan pertaruhan rivalitas antara Arab Saudi (Sunni) dan Iran (Syiah). Di sisi lain Arab Saudi merasa diri sebagai negara superioritas, hal itu disebabkan karena Saudi Merupakan pemimpin komunitas muslim seluruh dunia dan bahasa mereka digunakan sebagai bahasa resmi umat islam.

Sedangkan Iran punya supremasi budaya sendiri. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Iran adalah pewaris superpower dunia yang menjadi kompetitor kejayaan Romawi, yakni Persia.

Karena kedua sama-sama merasa sebagai Negara superpower, maka terjadilah persaingan antara keduanya, walaupun tidak pernah terlibat secra perang terbuka, namun cukup mempengaruhi stabilitas kawasaan Timur Tengah.

Dualitas Kepentingan

Sejak Abd-Rabbu Mansour Hadi, digulingkan oleh Milisi Syiah Houthi yang didukung penuh oleh Iran. Aran Saudi merasa dirugikan, hal itu disebabkan karena letak geografis yang sangat strategis sebagai roda jalur utama perdagangan antara Eropa dan Asia dan juga sebagai gerbang utama masuknya laut merah.

Bagi Arab Saudi, Yaman Merupakan teras rumah yang harus dijaga. Posisi geopolitik Yaman yang berbatasan langsung dengan kerajaan Arab Saudi akan berdampak langsung terhadap stabilitas dalam negeri , baik itu di sektor politik maupun perekonomian.

Sedangkan bagi Iran mengusai Yaman, otomatis akan menguntungkan secara ekonomi mengingat posisi strategis sebagai jalurnya masuk pelayaran internasional di Laut merah. Dan yang lebih penting bagi Iran dapat menancapkan hagemoni terhadap Timur Tengah melawan Rivalitas abadinya Arab Saudi.

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala dan juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat FISIP Unsyiah.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful