Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Begitu Sulit Mengenali dan Mengerti Orang Lain?

Begitu Sulit Mengenali dan Mengerti Orang Lain?

Oleh: Melly Ellysa

Dalam kehidupan sehari-hari kita hampir tidak pernah lepas dengan keberadaan orang lain. Ya, namanya juga makhluk sosial tidak bisa hidup sendiri dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki, tetap saja manusia membutuhkan orang lain untuk hidup saling berdampingan. Aristoteles memberikan pendapat akan hal tersebut “ makhluk hidup yang tidak hidup dalam masyarakat ialah sebagai malaikat atau seorang hewan “ dari penyataan tersebut dapat diartikan bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok, bermasyakat dari lahir hingga akhir hayat tidak pernah lepas dengan berbagai permasalahan sosial.

Dalam lingkungan sosial kita dapat menjumpai banyak orang dengan berbagai karakter dan kepribadian sehingga sangat sulit untuk merasa nyaman akan kehadiran mereka. Hal tersebut tidak lepas dengan kenyamanan dalam berinteraksi. Ada orang yang begitu mudah untuk diterima dan dimengerti dalam lingkungan sosial bahkan kehadiran mereka sangat dirindukan, ada juga orang yang sangat sulit untuk dimengerti dan sangat sulit untuk mengenali mereka.  Apa yang salah dengan mereka? Ataukah saya yang salah ? sehingga beberapa pertanyaan sering muncul dalam fikiran dan menerka-nerka

Persepsi sosial menjelaskan dalam arti mengenali dan mengerti orang lain, merupakan aktivitas yang sangat kompleks karena orang lain juga merupakan sesuatu yang kompleks. Tidak mudah mengenali orang lain karena selain karakteristik yang dimiliki setiap orang sangat banyak, orang juga tidak menampilkan diri apa adanya dan bisa jadi menyembunyikan apa yang yang dipikirkan dan dirasakannya ( Sarlito, 2009)

Ada sebagian orang, pada pertemuan pertama memberikan kesan yang berbeda setelah berbulan-bulan mengenalnya. Ada juga sebagian orang yang menunjukkan perilaku yang apa adanya tanpa dibuat-buat. Sehingga menimbulkan berbagai persepsi dalam berinteraksi dengan hal demikian. Persepsi sosial merupakan proses yang berlangsung pada diri kita untuk mengetahui dan mengevaluasi orang lain. Dengan proses itu, kita membentuk tentang orang lain. Kesan itu didapatkan ketika kita berinteraksi pada awal perkenalan. Biasanya, kesan pertama itu membentuk beberapa penilaian tersendiri baik dari berpakaian dan cara bicara. Proses persepsi sosial dimulai dari pengenalan terhadap tanda-tanda nonverbal atau tingkah laku yang ditampilkan orang lain. Kedua hal tersebut dijadikan bahan untuk mengenali dan mengerti orang lain secara lebih jauh.

Asch (1946) menunjukkan bahwa orang melakukan persepsi terhadap sifat-sifat dalam hubungannya satu sama lain, sehingga sifat-sifat itu dipahami sebagai bagian yang berhubungan dengan kepribadian orang yang memilikinya. Pada dasarnya, kita membentuk kesan tentang orang lain, kita cenderung tidak suka mengubahnya bahkan jika kita tidak menemukan fakta yang bertentangan dengan kesan itu. Dalam psikologi sosial, kecenderungan menilai seseorang baik dari penampilan terdahulu yang dianggap baik disebut efek halo, dengan menggunakan informasi-informasi dari tingkah laku nonverbal dan verbal, kita membentuk kesan-kesan tentang orang lain.

Seiring berjalannya waktu, persepsi itu akan melekat dan mempengaruhi perasaan bahkan ketika tidak memberi perhatian kepada hal itu secara sadar. Banyak penelitian psikologi yang membahas tentang hal tersebut. Penelitian tentang tingkah laku dan komunikasi nonverbal banyak dilakukan diantaranya Ekman & Frieson, 1974 penelitian itu diperoleh pemahaman bahwa tanda-tanda nonverbal yang ditampilkan orang lain sangat mempengaruhi perasaan kita. Tidak jarang, kebanyakan apa yang ditampilkan orang lain baik ekspresi wajah, nada suara dan lain sebagainya menunjukkan beberapa respon pada fikiran kita sehingga membentuk sebuah penilaian tersendiri akan hal tersebut. Ilmu psikologi dapat menjelaskan lebih jauh terkait hal tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenali tanda-tanda nonverbal untuk mencari tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan oranglain. Disisi lain, lawan berbicara pun tidak lepas dari penilaian tersebut. Aktivitas saling menilai baik dari tekanan suara, emosi, ekspresi wajah, gestur dan tanda-tanda nonverbal lainnya disebut dengan komunikasi nonverbal. Teori atribus menjelaskan hal tersebut lebih lanjut.Haiderpercaya bahwa orang seperti ilmuwan amatir, berusaha untuk  mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Selain teori Haider, Kelly ( 1967, 1972) mengajukan model proses atribusi yang tidak lagi merujuk pada intensi. Menurut kelly, untuk menjadikan tingkah laku konsisten, orang membuat atribusi personal ketika ketika konsensus dan kekhususan rendah.

Dalam membentuk kesan, dapat menggunakan jalan-jalan pintas mental. Ketika tingkah laku seseorang sulit untuk dinilai, dalam keadaan tersebut kesan bisa jadi ditentukan oleh seberapa mudah kita bisa mengakses katagori sifat kepribadian. Hal tersebut merupakan cara mudah untuk mampu mengerti dan merasakan apa yang difikirkan lawan berbicara. Kebanyakan orang melakukan penilaian dari beberapa perilaku dimasa lalu untuk menentukan perilaku yang ada dimasa sekarang.

Penulis merupakan Mahasiswi Prodi Psikologi Fakultas Kedoktoran Bendahara Umum BEM FK Unsyiah

 

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful