Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Dampak Psikologis Wanita Bercadar

Dampak Psikologis Wanita Bercadar

 

Oleh: Nur Ainun Selasari

Niqab (Arab: نقاب‎, niqāb‎) adalah istilah syar’i untuk cadar yaitu sejenis kain yang digunakan untuk menutupi wajah. Niqab dikenakan oleh sebagian kaum perempuan Muslimah sebagai kesatuan dengan jilbab (hijab).

Terdapat perbedaan dalam mazhab-mazhab fikih Islam mengenai hukum penggunaan cadar bagi wanita. Perselisihan pendapat antara ahli fikih umumnya hukum pengunaannya, Dalam mazhab Syafi’i, mazhab yang dianut oleh mayoritas umat muslim di Asia Tenggara, memiliki pendapat yang mu’tamad yang menyatakan bahwa aurat perempuan dalam konteks yang berkaitan dengan pandangan oleh bukan muhrimnya adalah semua badannya termasuk kedua telapak tangan dan wajah. Konsekuensinya adalah ia wajib menutupi kedua telapak tangan dan memakai cadar untuk menutupi wajahnya.

أَنَّ لَهَا ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ عَوْرَةٌ فِي الصَّلَاِة وَهُوَ مَا تَقَدَّمَ، وَعَوْرَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْاَجَانِبِ إِلَيْهَا جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ

“Bahwa perempuan memiliki tiga aurat. Pertama, aurat dalam shalat dan hal ini telah dijelaskan (sebelumnya). Kedua aurat yang terkait dengan pandangan orang lain terhadapnya, (auratnya) yaitu seluruh badannya termasuk wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad…”

para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

Bagi sebagian umat muslim, bercadar itu konsekuensi logis dari proses pembelajaran lebih intens mengenai hakikat perempuan. Namun, ini kembali pada keyakinan kita. Bercadar seringkali diasosiasikan dengan atribut organisasi Islam yang fanatik, fundamental, dan garis keras. Ini karena adanya fatwa bahwa mayoritas istri dan keluarga dari para pelaku bom bunuh diri dan para teroris yang selama ini menjadi terdakwa teror peledakan di Indonesia merupakan wanita bercadar. Sehingga dari masalah tersebut, muncul stigma negatif masyarakat mengenai wanita bercadar. Selain itu, cadar kini juga menghadapi penolakan teknis terutama dalam pelayanan public.

Wanita bercadar rentan terhadap kondisi penyesuaian karena dihadapkan pada berbagai situasi, seperti dalam interaksi sosial wanita bercadar kehilangan petunjuk wajah sebagai identitas dan faktor penting dalam komunikasi non verbal, serta tugas perkembangan usia dewasa muda yang penuh dengan pola-pola kehidupan dan harapan sosial yang baru.

Dalam tahap perkembangan psikososial Ericson, intimacy vs isolation menjadi persoalan utama pada masa dewasa awal. Menurut Ericson, jika pada usia tersebut individu (khususnya wanita) tidak dapat menjalin komitmen pribadi dengan orang lain, mereka berisiko menjadi terlalu terisolasi dan terpaku pada diri sendiri. Ketika wanita menginjak masa dewasa, muncul kebutuhan seksualitas yang mendalam, dimana ini tidak dapat terpenuhi jika ia tidak mampu menarik perhatian lawan jenisnya. Hal ini tentunya menuntut wanita bercadar menunjukkan caranya sendiri atas segala keterbatasan yang dimiliki.

Ditengah fenomena sosial yang menempatkan wanita bercadar sebagai minoritas yang bahkan masih terasa asing dengan segala problematikanya, wanita bercadar juga harus dihadapkan dengan benturan terhadap berbagai tuntutan interaksional.

Dari Kacamata psikologi, penyesuaian diri punya banyak arti, seperti pemuasan kebutuhan, ketenangan pikiran atau jiwa, atau bahkan pembentukan simtom.  Dapat di simpulkan penyesuaian diri merupakan proses yang melibatkan respon mental dan tingkah laku yang menyebabkan seseorang berusaha untuk memenuhi kebutuhan, tegangan, frustasi, dan berbagai konflik. Serta menyelaraskan tuntutan batin ini dengan tuntutan yang ada padanya oleh dunia dimana ia hidup.

Penyesuaian diri wanita bercadar diantaranya dalam hal perkembangan kognitif dan moral, hubungan intim dengan lawan jenis, dan physical appearance. Kondisi eksternal meliputi judgement sosial, penolakan teknik pelayanan umum, sulit untuk dikenal karena kaburnya identitas fisik, dan sulit untuk berkomunikasi.  Proses penyesuaian diri dapat dilakukan dengan motivasi, sikap terhadap realitas, dan pola-pola penyesuaian diri (tergantung pada individu).

“ Jadi, ada banyak faktor yang menjadi alasan wanita untuk bercadar, seperti dominasi orang lain, keimanan, dan faktor internal yang merasa risih jika wajahnya dilihat orang lain. Berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya ketegangan adalah kondisi internal dan eksternaln pada diri wanita bercadar. Wanita bercadar juga memiliki tuntutan yang harus dipenuhi, yaitu hubungan dan peran sosial di masyarakat, tuntutan pendidikan dan pengembangan karier, hubungan dengan lawan jenis, perkembangan kognitif dan moral yang matang, serta tuntutan penampilan fisik yang menarik.” Ujar Nur Ainun Selasari, salah satu mahasiswi psikologi fakultas kedokteran UNSYIAH.

Oleh karena itu, wanita bercadar harus siap dan mampu dengan segala konsekuensi atas keputusannya bercadar, sehingga dapat membuat strategi penyesuaian diri yang baik agar tetap dapat menjalankan keyakinan iman yang dimiliki, namun tidak mengabaikan kebutuhan dan peran lainnya. Dan Masyarakat diharapkan bisa membuka pandangan baru terhadap wanita bercadar. Bahwa wanita bercadar merupakan bagian dari keberagaman masyarakat yang memiliki kebutuhan untuk diperlakukan sama seperti individu lainnya.

Penulis merupakan Mahasiswi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful