Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Solusi Polemik Dunia Literasi

Solusi Polemik Dunia Literasi

Oleh : Raihanal Miski

Menghadapi era globalisasi, Indonesia diberitakan menjadi negara dengan minat membaca terendah kedua dari 65 negara yang disebutkan di dalam salah satu riset. Budaya minimnya minat membaca dapat memengaruhi kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang dihasilkan. Masalah ini juga akan merembes ke jalur pendidikan dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, sehingga untuk penangananannya dibutuhkan sinergi yang serius dan berkesinambungan baik dari keluarga, sekolah, universitas dan sinergi lainnya dari berbagai lapisan masyarakat termasuk penulis buku yang menghasilkan sumber bacaan (Suragangga, 2017).

Terlebih di dunia yang kian kompetitif inigenerasi pada masa yang akan datang diharapkan terus bertumbuh menjadi individu yang cerdas, kreatif dan inovatif. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah menumbuhkan kebiasaan membaca, namun pada zaman sekarang membaca tidak dijadikan kebiasaan yang penting untuk dilakukan karena membaca dianggap sebagai kegiatan yang membosankan dan membuat jenuh.Padahal membaca dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengoptimalisasikan kemampuan seseorang dalam memahami konsep dan berpikir kritis, dimana hal tersebut dapat menunjang seseorang untuk mencapai kesuksesan(Suragangga, 2017).

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat membaca adalah menyediakan kebutuhan literasi yang memadai dan berkualitas karena literasi dapat menjadi salah satu alat untuk mencerdaskan bangsa. Untuk menghasilkan kebutuhan literasi dengan kualitas yang memadai maka dibutuhkan banyak penulis yang telaten dan handal yang dapat menghasilkan buku-buku dengan kualitas yang baik, namun berbeda dengan negara ini (Indonesia), buku tidak dijadikan sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa namun dianggap sebagai komoditas yang mempunyai nilai ekonomi, akibatnya produksi buku pada penulis buku dikenai pajak pertambahan dan menjadi suatu polemik yang tidak kunjung usai. Pajak yang dikenakan pada penulis buku menyebabkan menurunnya kualitas dialog secara tekstual yang secara otomatis juga menurunkan kualitas program literasi yang ingin dicapai oleh pemerintah(Suryopratomo, 2017)

Salah satu permasalahan yang muncul ke permukaan terkait isu pajak penulis dalam dunia literasi datang dari seorang penulis kondang Tereliye. Penarikan publikasi buku Tereliye mengundang perhatian berbagai lapisan masyarakat hingga direktorat pajak dan menteri keuangan. Polemik pajak penulis dan gugatan yang kemudian juga disuarakan oleh beberapa penulis ternama lainnya akhirnya mengulik bahwa permasalahan pajak penulis telah terjadi dari beberapa tahun silam, yaitu sejak tahun 1957(Hutari, 2017).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tertegun mengetahui permasalahan penulis Tereliye yang memutuskan berhenti menulis buku karena persoalan pajak. Diketahui, Tereliye sempat menuliskan keluh kesahnya di sosial media lantaran tingginya pajak buku dan royalti bagi penulis. Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri bagi menteri keuangan tersebut karena kebijakan pajak tidak bisa diubah secara serta merta hal tersebut harus melalui proses yang panjang.Menteri keungan tersebut juga mengetahui untuk menciptakan sebuah karya, dibutuhkan jerih payah yang tidak mudah dan disertai modal yang tidak sedikit. Sehingga, ia meyakini bahwa buku yang bagus tidak ditulis secara asal-asalan.Permasalahan penarikan publikasi buku tereliye juga  menarik perhatian diktorat jendral pajak, sehingga memunculkan suatu kebijakan untuk mengatasi permasalahan ini yaitu mengadakan sosialisasi terkait tarif pajak penulis terhadap masyarakat (Gumelar, 2017).

Sejatinya bendahara negara itu merasa,untuk mengatasi keluhan-keluhan penulis yang disampaikan kepada pihak pemerintah terkait pajak penulis terjadi karena kurangnya informasi terkait pajak, sosialisasi mengenai pajak dapat menjadi salah satu solusi untuk penanganan karenapada hakikatnya keakuratan informasi mengenai pajak menjadi hal yang siginifikan penting untuk mendapatkan loyalitas dari masyarakat dan dapat mendorong masyarakat dari semua lapisan termasuk penulis buku untuk membayar pajak (Fauzi, 2017).

Sehingga pembayaran pajak yang dilakukan secara tertib dengan masyarakat dapat menjadi solusi untuk menutupi anggaran belanja negara. Selain tertutupinya anggaran belanja negara, bagi para penulis sendiri, hal ini akan berdampak pada tidak menurunnya semangat dan kualitas dalam menciptakan buku sehingga denganterciptanya buku-buku dengan kualitas yang baik juga akan menunjang untuk terbentuknya generasi penerus bangsa yang baik pula (Fauzi, 2017).

Penulis Merupakan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala

 

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful