Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / 2019 Dilema Mencari Legislator yang Bermutu

2019 Dilema Mencari Legislator yang Bermutu

Oleh: Musliadi Salidan

Saat ini diskusi mengenai Pemilihan Umum (Pemilu) Indonesia yang digelar tahun depan mulai mengemuka. Selain isu calon presiden, tidak kalah penting adalah calon-calon legislator yang akan menjadi representasi rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat, dan keterwakilan masyarakat dalam lembaga tersebut.

Di Aceh sendiri Daftar Pemilih Tetap (DPT) Provinsi Aceh kurang lebih sebanyak 3.434.722 orang yang tersebar di 6.477 gampong (desa) 289 kecamatan, di 23 kabupaten- kota Provinsi Aceh. Jumlah pemilih laki-laki 1.688.103 orang dan 1.746.619 pemilih perempuan, yang nantinya akan memberikan suaranya pada 9.592 TPS di seluruh Aceh, Suara yang terkumpul kemudian dibagi dengan jumlah pemilih dan total suara sah dengan total kursi yang ada di suatu daerah pemilihan (dapil). Partai yang mampu mencapai kuota suara dalam BPP dapat kursi. Misalnya, BPP 10.000 suara maka partai yang mencapai suara 10.000 dapat satu kursi. Begitu seterusnya pada hitungan kedua dan ketiga hingga kursi terbagi habis.

Lalu, benarkah orang-orang yang sekarang ingin maju ke gelanggang Politik itu dengan niat tulus untuk menjadi penyambung lidah rakyat atau perwakilan rakyat agar bisa memperbaiki keadaan.? Jawaban ada pada diri masing-masing
Jikapun jawaban kita iya, sebaiknya mari kita mengkaji ulang sekali lagi tentang apa itu Fungsi Legislatif.

Fungsi DPR yaitu; (1) Legislasi, (2) Budgeting, dan (3) Controling. Legislasi maksudnya membuat perundangan. Fungsi budgeting yaitu mengesahkan anggaran. Fungsi controling yaitu pengawasan. Secara pribadi, apakah para calon yang hari ini ingin mencalonkan diri sudah mafhum atas tugas-tugas yang akan mereka emban? Saya tidak yakin kalau semua paham atas hal itu. Bukan saya meremehkan, tapi ini berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan hari ini bahwa; yang terjadi hari ini adalah, partai sebagai pengusung para kandidat hanya berkontestasi pada jumlah massa atau berapa dana yang kandidat itu miliki. Tidak pada kualitas, namun lebih kepada kuantitas yang dapat diraih oleh masing-masing kandidat yang diusung oleh partai.

Pertanyaannya?

Apakah mereka akan rajin ikut dalam pembahasan dan pengsahan UU? Apakah mereka juga akan selalu hadir dalam pengesahan APBN? Apakah sudah mengawasi kegiatan pemerintah?

Saya berharap, niat dari orang-orang yang ingin mengajukan diri maju mencalonkan diri sebagai calon DPR dalam perhelatan 2019 nanti bukan karena dorongan partai atau masyarakat semata. Tapi mereka juga sudah benar-benar mem(ba)ca kemampuan diri masing-masing. Baik secara kemampuan intelektual maupun jaringan. Tidak membaca diri berdasarkan kemampuan finansial.

Melihat kontestasi hari ini, banyak masyarakat yang ingin mengajukan diri menjadi calon. Bahkan, ada juga yang beberapa kali gagal dalam pertarungan ditingkat Desa sekalipun. Jika demikian, apa lagi ada sebagian yang kita dengar tidak mampu untuk membaca Al-Qur’an sebagai salah satu syarat yang telah diwajibkan oleh KIP Kabupaten-Kota yang ada di Aceh. Lalu apakah mereka tidak memiliki rasa malu atas ketidak mampuan tersebut.? memang benar amanat dalam UU mengatakan bahwa; siapapun berhak memilih atau dipilih. Tapi apakah otak tidak digunakan untuk berpikir? Jika hanya berlandaskan kepada “berhak memilih dan dipilih” maka, kegagalan dalam memahami politik sudah begitu nyata.

Jika Ada yang sudah percaya diri berdasarkan kemampuan, baik secara intelektual dan jaringan maka mari kita pilih . Tapi jika mereka maju hanya berlandaskan modal tanpa pemahaman yang baik, maka. Saya usulkan, untuk mundur secara perlahan, dan juga baiknya, dana-dana kampaye yang akan di gunakan itu lebih baik digunakan dengan baik, buka bisnis atau hidupilah anak-anak yatim dan fakir.

Bukan pula karena niatan melihat jumlah gaji atau program-program yang akan saudara dapatkan nantinya. Jika hal semacam itu yang menjadi niat utama maka, saudara akan memperpanjang garis kemiskinan.

Lebih baik memilih mati berdiri dari pada hidup bertekuk lutut dalam kebodohan (Red)

Penulis merupakan Mahasiswa Agroekotektnologi Universitas Malikussaleh serta pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe – Aceh Utara.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful