Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Perayaan Milad GAM Ditengah Sinisme Pemerintah Indonesia

Perayaan Milad GAM Ditengah Sinisme Pemerintah Indonesia

Peringatan Milad GAM ke 42 di Kabupaten Bireuen

Oleh: Zulkarnaini (Zoel SoPAN)

Milad atau Ulang Tahun Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang selalu diperingati pada 4 Desember merupakan dasar dari Perjuangan panjang GAM yang merupakan orang-orang yang telah disumpah (Bai’at) untuk setia terhadap cita-cita perjuangan, Milad itu sendiri bagi mereka yang telah di Bai’at dan rakyat Aceh merupakan sebuah acara sakral yang tidak boleh dianggap sepele.

42 Tahun lalu sang Deklator Hasan Tiro memproklamirkan GAM secara sembunyi-sembunyi sehingga melahirkan ratusan ribu anak ideologisnya di Aceh, Hasan Tiro bukan hanya jadi tiang pancang berdirinya GAM pada 4 Desember 1976 di Gunung Halimun beliau juga merupakan simbol perlawanan rakyat Aceh yang patut dikenang sepanjang masa.

Gerakan Aceh Merdeka sendiri adalah sebuah gerakan perlawanan bangsa Aceh yang menuntut Kemerdekaan dari negara Indonesia. Puluhan tahun mereka berjuang ditengah gempuran serdadu Indonesia, mereka meninggalkan orang-orang yang mereka cintai demi mewujudkan Cita-cita perjuangan. Ribuan anggota GAM meninggal (Syahid), ribuan wanita menjadi janda dan anak-anak menjadi yatim.

Sejarah panjang konflik kemudian berakhir dengan kesepakatan perdamaian di Helsinki Finlandia antara GAM (Mewakili Bangsa Aceh) dengan Pemerintah Indonesia yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 yang di Fasilitasi oleh mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari.

Perdamaian bukanlah sebuah hal yang gampang diraih, butuh proses panjang dan berliku sehingga kesepakatan tersebut bisa digapai, ada kesedihan, gelisah, galau,namun kesedihan itu juga dapat diturunkan dengan adanya rehabilitas pasca konflik mendesain ulang wajah Aceh, sampai di koridor isi perjanjian GAM dan RI bahkan ada hak-hak istimewa yang diberikan untuk Aceh, yang pasti perdamaian telah menurunkan sedikit tidaknya penderitaan Rakyat Aceh.

Banyak Pihak Masih Khawatir

Meskipun sudah 13 Tahun semenjak penandatanganan MoU Helsinki namun masih banyak pihak yang masih khawatir dengan keberadaan GAM sehingga pihak RI memainkan politik pecah belah dikalangan mantan kombatan GAM melalui peran intelijen.

Hal itu bisa kita lihat dari sikap sinisme aparat keamanan yang begitu ngotot dan kaku pada perayaan MILAD GAM ke 42 di Kabupaten Bireuen, maka hampir bisa dikatakan bahwa Pemerintah Indonesia sudah setengah hati dalam menjaga dan merawat Perdamaiaan di Aceh.

Beberapa orang yang diduga Intelijen yang melakukan penyemprotan logo Burak Singa (Logo GAM) dan Bendera Bintang Bulan (Bendera GAM) dengan cat semprot pada papan Ucapan Selamat Milad yang terpajang di sepanjang jalan di depan Kantor Partai Aceh Bireuen.

Selain itu ketika anggota KPA Wilayah Bate Iliek yang berusaha membangun negosiasi dengan damai untuk bisa menaikkan Bendera Bintang Bulan beberapa saat pada perayaan Milad GAM,ditanggapi dengan sikap ngotot dan kaku oleh aparat Keamanan Bireuen, hal itu sangat mencerminkan sikap sinisme dan setengah hati Pemerintah Indonesia dalam menjaga perdamaiaan di Bumoe Aceh.

Mungkinkah pemerintah Indonesia menganggap kekuatan mantan GAM sudah melemah karena Partai Aceh (PA) yang merupakan Alat Politik mantan GAM kalah pada Pilkada tahun 2017 silam.? Sehingga mereka berani ngotot dan kaku dalam membangun komunikasi dengan KPA yang merupakan lembaga konsolidasi mantan GAM.

Kalau demikian adanya maka menurut penulis pemerintah Indonesia sedang membangun jembatan penghubung menuju konflik. Kenapa demikian, karena bagi bangsa Aceh Agama dan Bangsa adalah dua hal yang akan selalu mereka jaga hidup dan mati.

Maka sebagai anak Bangsa kita berharap Pemerintah Indonesia untuk lebih mengedepankan pendekatan fleksible dan tidak kaku dalam merawat perdamaian di Aceh. Menaikkan Bendera Bintang Bulan bergandengan dengan bendera Merah Putih di alam damai pada Perayaan Milad GAM bisa menghilangkan dahaga dan mengobati kerinduan mereka dalam mengenang masa-masa perjuangan.

Pertanyaannya apakah dengan berkibarnya Bendera Bintang Bulan akan membuat Negera Indonesia Rugi Besar, atau dengan berkibarnya BB akan mengakibatkan konflik kembali berkobar. Tentu tidak, tidak ada yang perlu ditakuti , tidak ada yang menginginkan konflik kembali terjadi, mereka hanya mengobati kerinduan, meraka akan merasa senang dan puas menyaksikan BB berkibar walau hanya sesaat.

Penulis merupakan Jurnalis yang juga Caleg Partai Aceh Dapil 3 Bireuen

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful