Templates by BIGtheme NET
Home / BERITA TERKINI / Mengenal Makna “Troen U Blang” Masyarakat Aceh Melalui Persepektif Psikologi

Mengenal Makna “Troen U Blang” Masyarakat Aceh Melalui Persepektif Psikologi

@google

Oleh: Reni Ferida, Milazia Putri, Syarifah Rhaudina, Yuli Astuti

Salah satu upacara adat yang masih dilaksanakan dan terus dilestarikan khususnya di Aceh adalah Upacara Turun ke Sawah (Tron U Blang). Upacara ini merupakan suatu tradisi adat tahunan dalam pengerjaan sawah yang dilaksanakan di areal persawahan oleh kaum petani, perangkat adat dan masyarakat terutama petani yang mempunyai lahan persawahan untuk memberkati sawahnya.
Meugou merupakan sebuah nama pekerjaan bagi petani penggarap sawah. Petani ketika hendak peupohon meugou , terlebih dahulu menunggu perintah dari Keujreun Blang tentang pelaksanaan peuphon meugou mulai dari membajak sampai panen raya. Keujreun Blang sebelum memberi arahan kepada petani terlebih dahulu mendengar pendapat dari seorang ahli cuaca yang disebut “malem”. Orang ini memiliki ilmu spiritual atau ilmu tentang “keuneunong”, dan juga memiliki ilmu ramalan tentang perkiraan gangguan hama yang dikaitkan dengan musim. Waktu musim menanam padi biasanya dilakukan setelah musim hujan atau sekitar bulan desember. Langkah-langkah turun ke sawah (tron u blang) adalah sebagai berikut :

1. Pembersihan Saluran air (peugleh lueng)
Peugleh lueng terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

Pembersihan aneuk lueng dikoordinasikan oleh Keujreun Blang di Gampong masing-masing dengan membagi habis menurut luas sawah.

Pembersihan lueng dara (lueng induk) tingkat keMukiman. Dikoordinir oleh Keujreun Chik KeMukiman dan dibagi habis kepada Gampong yang memakai air persawahan.

Selesai lueng Gampong dan lueng keMukiman dalam wilayah Keujreun kecamatan, pelaksanaan penggalian maupun pembersihan luen induk yang disebut babah krueng (pintu air) yang lokasinya di Muenasah Pante.

Setelah selesai pekerjaan keujruen blang memberitahukan kepada masyarakat untuk mengadakan Khanduri secara bersama-sama dengan menyembelih kerbau dan dagingnya dibagi kepada petani yang ikut melaksanakan penggalian babah krueng melaui Imeum Mukim masing-masing.

2. Membajak sawah (peutreun langai)
Adapun urutan kegiatan peutron langai sebagai berikut:
Peusijuk langai serta perkakas lainnya dilakukan secara simbolis
Dilanjutkan dengan membajak tanah dengan menggunakan tenaga kerbau dengan alatnya langai yang dipasang pada kerbau dilakukan dengan tujuh kali keliling (tujuh urat istilah Aceh) dari sudut ke sudut sawah. Setelah selesai keliling kerbau dilepaskan dari peralatan langai dan sebelumnya kerbau disuapi dengan nasi pulut sekepal. Hal ini menandakan bahwa telah mulai untuk menarik bajak.

Kata-kata arahan dan pengumuman yang disampaikan oleh imum mukim yang berkaitan dengan tahapan-tahapan selanjutnya.
Sebagaimana penutup kegiatan ini pembacaan doa oleh imum chik atau yang mewakilinya.

3. Memilih benih
Pada zaman dahulu memilih benih dengan cara memperhatikan dari seluruh petak sawah yang mau dipanen padinya, diperhatikan atau dilihat mana diantaranya yang terbaik padinya, maka ditinggalkan satu petak sawah yang terbaik untuk dijadikan benih, ditunggu sampai benar-benar masak baru dipotong dan disimpan dijadikan bibit unggul. Benih tersebut diambil dan dijemur terlebih dahulu, kemudian dihari atau malam yang dipandang baik direndam dalam air selama beberapa malam yang dikenal dengan istilah “Reundram bijeuh”. Setelah itu baru dilakukan tabur benih.

4. Menabur benih
Sebelum dilakukan tabur benih padi disiapkan “neudeuk” atau “neulhong” yaitu tempat menabur padi yang dijadikan bibit diusahanya. Sebelum pelaksanaan tabur benih, yang pada hari menabur benih dibuat “kanji”dibawa ke sawah tempat tabur bibit, terlebih dahulu diadakan kegiatan doa untuk meminta berkah kepada Allah SWT, yang dihadiri oleh camat, mukim dan keujreun blang serta masyarakat dan tokoh.
Tata cara pelaksanaan menabur benih adalah sebagai berikut :

Bibit yang telah dipersiapkan dipanaskan (jemur), pada malam hari direndam satu malam dalam karung, besok harinya diangkat dari air dan dibiarkan hingga kering. Pada malam ketiga bibit dikeluarkan dan ditutup rapi, agar suhunya tinggi ditutup dengan daun belimbing, malam keempat bibit disiram kembali agar panasnya merata dan akarnyapun keluar (mumieng) esok harinya dibawa kesawah untuk ditabur.
Cara kedua bibit dipanaskan, akan tetapi langsung dibawa ke tempat penyamaian lalu ditutup dengan tanah yang gembur agar mudah tumbuh. Cara ini dinamakan penyamaian kering (tabu di tho).

Pada kegiatan penaburan terlebih dahulu ditabur sedikit pada pagi hari, bila perlu menanam disudut tempat menabur yaitu pohon anak pisang, daun kunyit, dan daut seunijuk. Pada jam 3 sore dilanjutkan dengan menabur semua bibit yang dilakukan oleh orang lain.

5. Menanam padi (seumula)
Peuhon semula ditandai dengan membaca Bassamallah lalu ditanam 7 batang bibit padi ditengah sawah yang disebut “inoeng pade” yang diambil dari tempat persemaian, ketujuh batang itu ditanam disekililing sebuah tiang bambu yang sudah dipersiapkan. Penanaman inong pade disebut peusujeuk, padahal penanam tujuh batang padi sebagai simbolis mulai penanam padi. Walaupun diketahui “inong pade” tidak akan tumbuh normal karena tanam satu berkas, namun dipercayai akan membawa pengaruh pada pertumbuhan pada padi yang akan ditanam. Menurut kepercayaan masyarakat peuhon ngoen inong pade, mengikuti langkah Siti Hawa, pulang dari sawah membawa 7 tangkai padi sebagai ungkapan rasa rindu pada anaknya yang sudah berubah ujud menjadi padi (dikisahkan dalam hikayat Asay Pade).
Musim tanam umumnya dimulai pada musim keunong 5 dan 3, jika hujan terlambat datang bisa jatuh pada keunong 1, pedoman yang dipakai untuk menanam adalah perhitungan kalender yang baku pada masa itu yaitu musim “keuneunong”. Pada keunong 11 tabu jareung pada musim bibit ditabur dalam jarang tertentu, musim ini diperkirakan sekitar bulan Juni, keunong 9 tabu rata, pada musim ini penyemaian dilakukan secara merata dan musim ini berlangsung sekitar bulan Agustus, keunong 7 neuong kana lam umong, pada musim ini saat yang baik untuk menanam bibit dari tempat semaian, karena hujan sudah mulai turun, musim ini berlangsung sekitar bulan September, keunong 5 kajeut pula, dalam musim ini mulai menanam bibit pada sawah-sawah, musim ini berkisar sekitar bulan Nopember, keunong 3 hana peukarat peunyaket ulat keunan diteuka (sekitar bulan januari) keunong, pada musim ini orang akan berhenti hati sekali untuk menanam bibit karena dimusim ini serangan hama diperkirakan akan meningkat. Pada musim ini keunonong 1 (musim keumeukoh) pada musim ini padi sudah dapat dipanen karena “ pade ka roh”. Perhitungan musim masyarakat percaya bila menanam padai menyalahi musim padi akan mendapat serangan hama yang berakibat gagalnya panen.

6. Khanduri Ie Bu
Setelah kegiatan menanam padi secara keseluruhan, ketika umur padi 20-30 hari, keujreun blang memberitahukan kepada petani penggarap untuk melakukan khanduri ie bu. Kegiatan tersebut dilakukan pada masing-masing Gampong dengan cara berdoa dimalam hari. Tempat kegiatan dilaksanakan di meunasah maupun mesjid atau tempat yang telah disepakati. Khanduri tersebut bertujuan agar padi yang baru tumbuh itu dipelihara dari gangguan hama. Pelaksanaan berdo’a ada yang sampai 3 malam berturut-turut, besok harinya ie bu (air nasi) ditambah kanji dan dipercik di babah meuneukah petak sawah. Seluruh doa yang dibacakan menjadi peunawa dalam menangkis segala macam penyakit.

Keujreun Blang mengumumkan pada seluruh petani penggarap tidak boleh melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu, seperti mengail dan menjala ikan, menambang bubu, dan lainnya dalam irigasi maupun kolam di area persawahan. Kegiatan tersebut tidak boleh dilakukan selama 3 hari setelah khanduri ie bu.

7. Memanen (koh pade)
Menjelang panen pada ada beberapa kampung menyebut upacara “jak ba bu pade” dan ada juga disebut “meuninem”, upacara dilakukan secara individu oleh petani. Makanan yang dibawah berju,lah tujuh macam terdiri dari ketan, ayam panggang, kueh, buah-buahan dan uang sekedarnya. Makanan dimasukkan dalam sebuah “reungkan” keranjang makanan itu digantung tepat ditengah-tengah sawah pada sebatang bambu. Pada waktu padi sudah mulai berisi yang disebut “bunteng” diletakkan berbagai makanan yang enak-enak dipematang sawah. Dengan tujuan padi akan mencium bau aroma dari makanan itu dan selanjutnya dijadikan makanan satwa yang ada disekitar itu.

Sebelum panen dilakukan, satu hari sebelumnya dilakukan pemotongan secara simbolis yang dilakukan secara diam-diam tidak boleh ada liat. Dilakukan pemotongan tujuh tangkai (mu) padi disebut “ peu phon keumeukoh”, sambil membaca doa. Kemudian ke tujuh tangkai diikat dalam satu berkas, lalu dibungkus dengtan kain putih diasapin keumenyaan dan digantung didalam rumah. Pada waktu padi dimasukkan dalam kroung, dengan ditambah sebutir telur ayam dan seberkas daunan yang sering dipakai pada upacara seunijuk yang diletakkan dekat semangkok air kedapan diatas penutup kroung pade. Tangkai ini akan diambil kembali pada waktu musim tanam tiba berikutnya dicampur dengan bibit padi yang akan disemai.

8. Asal Kenduri (Kenduri blang)
Awal mulanya kenduri blang bukan untuk menyembah jin atau makhluk halus. Tetapi makanan itu diberikan kepada satwa yang ada disawah, seperti dalam Hikayat pade (1206 M), oleh Teungku Pakeh. Jenis makanan yang dibawa kesawah untuk menjamu satwa bermacam jenis mengisyaratkan satwa juga butuh berbagai zat makanan yang dibutuhkan berbagai zat makanan oleh makhluk hidup termasuk binatang perluka. Dari kisah tersebut terkandung makna memberi makan satwa dengan mengundang satwa seperti yang dilakukan Siti Hawa, menunjukkan kepada kita pada sipreuk breuh pade dalam upacara peusijuk dilakukan oleh para indatu sejak seabad-abad yang lalu, terdapat kesamaan dengan riwayat Siti Hawa mengundang satwa dan menjamunya.

Kenduri blang disediakan makanan berupa nasi yang sudah dibungkus dengan daun pisang yang diasapi “bu kullah” yang diikat dengan daun pandan kering. Selesai makan dilanjutkan pembacaan doa selamat agar dimudahkan rejeki.

Teori Psikologi Tentang Troen U Blang

Teori Interaksi Sosial

Menurut Gilin (1982) interkasi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang perorangan, antar kelompok, dan antara orang dengan kelompok. Apabila dua orang atau lebih bertemu maka interkasi sosial dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur/berkomunikasi, berjabat tangan atau saling berbicara. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan interaksi sosial.
Soekanto (2002) mengemukakan aspek interaksi sosial yaitu:

Aspek kontak sosial

Merupakan peristiwa terjadinya hubungan sosial antara individu satu dengan lain. Kontak yang terjadi tidak hanya fisik tapi juga secara simbolik seperti senyum, jabat tangan. Kontak sosial dapat positif ataunegatif. Kontak sosial negatif mengarah pada suatu pertentangan sedangkan kontak sosial positif mengarah pada kerja sama.

Aspek komunikasi

Komunikasi adalah menyampaikan informasi, ide, konsepsi, pengetahuan dan perbuatan kepada sesamanya secara timbal balik sebagai penyampai atau komunikator maupun penerima atau komunikan. Tujuan utama komunikasi adalah menciptakan pengertian bersama dengan maksud untuk mempengaruhi pikiran atau tingkah laku seseorang menuju ke arah positif.

Teori Kebersyukuran/Gratitude
Gratitude merupakan suatu bentuk emosi positif dalam mengekspresikan kebahagiaan dan rasa terimakasih terhadap segala kebaikan yang diterima (Seligman, 2002). Individu bersyukur karena menyadari bahwa dirinya banyak menerima kebaikan, penghargaan dan pemberian baik dari Tuhan, orang lain dan lingkungan sekitarnya sehingga terdorong untuk membalas, menghargai dan berterimakasih atas segala sesuatu yang diterimanya dalam bentuk perasaan, perkataan dan perbuatan. Kebesyurukan dapat dilihat dari bagai mana masyarakat memaknai prosesi adat tron u blang, dimana mereka memaknai nya sebagai suatu bentuk rasa syukur atas rezeki yang diterima serta memiliki harapan agar diberi kelancaran dan keberhasilan dalam melaksanakan rangkaian tahapan tron u blang hingga masa panen tiba.

Teori Dukungan Sosial

Dukungan sosial menurut Gollieb adalah sebagai informasi verbal atau non verbal, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subyek didalam lingkungan sosialnya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan yang berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dapat dilihat dari bagaimana masyarakat disekitar gampoeng tersebut mengikuti rangkaian kegiatan tron u blang dan ikut membantu tahapan dalam kegiatan tersebut.

Kepemimpinan

Menurut Edwin A. Locke terdapat empat kunci untuk memimpin dengan sukses yang ditunjukkan dalam model kepemimpinan. Empat kunci ini adalah:

1. Alasan dan sifat-sifat pemimpin.
2. Pengetahuan, keahlian, dan kemampuan
3. Visi
4. Implementasi dari visi

Kepemimpinan didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan orang lain melakukan tindakan untuk mencapai tujuan bersama. Dari adat troen u blang pada masyarakat adanya pemimpin yang mengatur kapan turun kesawah yaitu perintah dari Keujreun Blang. Dengan adanya keujreun blang maka petani akan melakukan dengam tertib adat troen u blang.

Penulis Merupakan Mahasiswi Psikologi Universitas Syiahkuala angkatan 2015

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful