Bercermin dari Pengorbanan Ibrahim, Hajar, dan Ismail

Oleh: Dr. Anwar Mujahidin,

Pandemi Covid-19 yang masih mendera negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia membuat perayaan Idhul Adha 1441 H tanpa suasana yang hingar bingar. Satu bulan sebelum memasuki bulan Dzul Hijjah, biasanya pemerintah dan masyarakat sudah disibukkan dengan pemberangkatan jamaah haji.

Masyarakat dari sabang sampai merauke yang masuk daftar calon jamaah haji, dengan penuh suka cita dan semangat menunggu giliran berangkat ke tanah suci sesuai kloter masing-masing. Sanak kerabat tetangga sahabat juga terut meramaikan suasana dengan aneka tradisi upacara pemberangkatan jamaah haji. Tak lupa semua station tv, radio dan media online maupun cetak hadir dengan liputan khusus haji.

Tahun ini suasana itu menjadi tiada, bahkan shalat Idhul Adha dan acara penyembelihan hewan qurban pun dihantui dengan bayang bayang pengawasan protokol kesehatan.

Krisis baik karena faktor ekonomi maupun pandemi adalah cara alami kebangkitan sebuah peradaban dengan munculnya keseimbangan baru dan norma-norma baru. Suasana sepi karena pandemi dalam perayaan Idhul Adha adalah momentum yang tepat untuk mendapat energy kebangkitan tersebut dengan berefleksi lebih mendalam mengenai esensi idhul adha.

Hakekat Haji dan Qurban selau lekat dengan hijrah keluarga Ibrahim ke Makah. Ibrahim dan keluarganya menempati kedudukan yang spesial dalam Islam setelah nabi Muhamad saw, karena umat Islam dalam setiap pelaksanaan ibadah shalat pada bacaan tahiyat akhir membaca shalawat (doa selamat) untuk Nabi Ibrahim dan keluarganya setelah bershalawat kepada nabi Muhammad saw. Qurban dan sebagian besar manasik haji adalah juga mengikuti jejak keteladanan nabi Ibrahim, isteri dan putranya.

Dikisahkan bahwa Ibrahim dan istrinya Siti Sarah lama sekali belum memiliki anak. Cintanya kepada suami membuatnya berpikir untuk bisa memberikan seorang anak laki-laki sebagai penerus perjuangan. Maka, ia pun meminta kepada Siti Hajar sang budak, pembantu rumah tangganya untuk menikah dengan suaminya. Ia ingin Siti Hajar bisa memberikan seorang putra kepada Nabi Ibrahim.

Meskipun Sarah merestui pernikahan Ibrahim dengan Hajar, namun ketika Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, perasaan cemburu sebagai istri tetap tidak bisa dihindari. Ia pun berjanji tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap. Nabi Ibrahim mendapat petunjuk untuk membawa istri keduanya, Siti Hajar, dan bayinya, Ismail, ke tanah Makkah.

Maka, mereka pun berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Pada waktu itu Makkah masih sangat tandus berupa hamparan padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan. Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail di rumah tua (baytul Atiq) yang nantinya dipugar sebagai ka`abah. (Surat Ibrahim: 37)

Setelah Hajar ditinggal berdua di padang tandus, maka mereka mulai merasakan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup seperti air untuk minum. Air susunya pun tidak mencukupi untuk bayinya. Siti Hajar tampak bingung bagaimana mencari air. Dalam kebingungannya ia lari ke atas bukit dan melihat ke bawah. Ia melihat sebuah bukit lain, yang kemudian dikenal dengan Shafa, tampak dekat.

Baca Juga:  Inilah Warisan Sepeninggal Rasulullah SAW

Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa. Dari bukit Shafa, ia melihat bukit lain tampak dekat. Bukit itu kemudian dikenal Marwa. Ia pun berjalan menuju ke sana dan tidak mendapatkan bekas-bekas kehidupan. Ia berusaha bolak-balik di antara dua bukit itu sambil melihat bayinya. Dalam usahanya itu, muncullah tiba-tiba sebuah mata air yang memancar. Sumber mata air itu mengalir hingga sekarang yang dikenal dengan zam-zam.

Bercermin pengorbanan Ibrahim, Hajar, dan Ismail

Suatu peristiwa yang sangat mengejutkan, setelah Ismail mencapai usia yang beranjak remaja, Ibrahim melalui mimpi diperintah Allah untuk menyembelih Ismail. Dengan komunikasi yang baik antara bapak-anak yang diliputi dengan suasana batin yang penuh iman, maka perintah Allah untuk menyembelih Ismail diterima dan dilaksanakan.

Ibrahim sempat diliputi oleh kebimbangan karena bisikan setan di tempat penyembelihan yaitu di Mina, namun karena keteguhan hati, Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah. Tidak sampai pisau tajam itu menggores leher Ismail, Allah menggantinya dengan seokor kambing gibas.

Semua perjuangan Ibrahim, Siti Sarah, Siti Hajar dan Ismail menjadi bagian penting dalam manasik Haji dan rangkaian ibadah qurban di hari hari raya Idhul Adha. Perjuangan Siti Hajar menemukan mata air menjadi ibadah Syai` yakni berlari lari kecil antara bukit shafa dan marwa. Mata air yang ditemukan bersama Ismail menjadi sumber mata air yang menghidupi jamaah haji hingga sekarang, bahkan menjadi oleh-oleh yang bisa dibawa sampai tanah air.

Perjuangan Ibrahim mengalahkan gangguan setan untuk taat pada perintah Allah menyembelih Ismail, diabadikan dalam Ibadah melempar Jumrah. Jejak jejak Ibrahim dan keluarganya lainnya dapat ditemui di sekeliling Ka`bah, mulai dari ka`bah itu sendiri yang dipugar oleh Ibrahim dan Ismail, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim dan Hijir Ismail.

Keluarga yang tidak hanya punya tujuan bilogis sebagai keberlangsungan keturunan tetapi juga ideologis kelangsungan misi kebaikan dan perbaikan kehidupan adalah yang menjadikan keluarga Ibrahim teladan bagi Umat Islam. Keluarga adalah basis pertahanan terakhir di masa pandemi Covid-19 ini.

Ketika pertemuan dan perkumpulan di kantor, disekolah, di tempat ibadah di khawatirkan akan menjadi pusat penyebaran virus Covid-19, maka semua masyarakat diwajibkan mengisolasi diri dalam rumah. Rumah menjadi tempat ibadah, rumah menjadi tempat belajar anak, rumah menjadi tempat bekerja suami dan istri.

Apakah yang terasa asing ketika beribadah, belajar, dan bekerja di rumah. Karena selama ini kita beribadah di masjid, belajar di sekolah dan bekerja di kantor. Banyak orang tua yang bingung karena harus mendapingi anaknya belajar di rumah. Banyak orang yang tidak terima harus berjamaah di rumah bersama keluarga saja, tidak di masjid dengan tetangga. Dan banyak yang bingung bekerja sendirian di rumah hanya terhubung dengan rekan kerja dengan jaringan internet.

Apakah ketika kita beribadah di masjid, rumah bukan tempat ibadah lagi. Apakah ketika anak dikirim ke sekolah, tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak sudah lunas? dan apakah ketika seorang bekerja di kantor, rumah hanya tempat beristirahat?. Selama ini kita telah bersusah payah membangun rumah, tetapi kemudian meninggalkannya.

Baca Juga:  Hidup di Aceh, Sebagai Pemilik, Pengelola atau Gerombolan Pencuri?

Pandemi Covid-19 menyadarkan orang pada fungsi rumah bagi keluarga. Rumah dibangun oleh sepasang suami istri dan anak keturunannya untuk tujuan anggota keluarga melaksanakan ibadah. Orang menikah karena ibadah bukan hanya kepentingan biologis. Anak yang lahir dalam keadaan suci, dia menjadi muslim atau tidak merupakan tanggung jawab orang tua.

Pendidikan anak adalah amanah orang tua. Suami istri wajib berusaha memenuhi kebutuhan rumah dengan bekerja atau berwiraswasta, maka rumah adalah ruang kehidupan bagi keluarga menjalankan visi dan misinya.

Mimpi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, putra tercinta yang telah dibesarkan oleh ibunya di padang tandus sendirian, merupakan ajaran agar kita berusaha keras untuk menghidupkan keluarga dan mengorbannya Seseorang berjuang untuk keluarga namun bukan kejayaan keluarga yang menjadi tujuan.

Kalau kejayaan keluarga yang menjadi tujuan, maka keberhasilan keluarga diukur ketika suami, istri dan anak menguasai sumber –sumber modal, baik modal politik ataupun ekonomi. Ketika penguasaan modal menjadi tujuan keluarga, maka dinasti yang terbangun. Terbentuklah budaya merendahkan Tuhan dan mengangugngkan diri sendiri. Kejayaan ini adalah aku dan keluargaku. Dalam nilai nilai yang mengangungkan keluarga, muncullah tradisi mengorbankan pihak lain bukan mengasihi.

Ibrahim menolak budaya mengorbankan manusia untuk persembahan dan keagungan dinasti. Makna penolakan tersebut sesuai dengan isi surat al-Haj ayat 37 yang menegaskan bahwa tujuan pengorbanan binatang pada hari raya Idhul Adhha adalah bukan darah dan daging binatang itu sendiri tetapi ketaqwaan manusia. Taqwa adalah bentuk ketundukan manusia pada Tuhan dan kesediaan manusia untuk patuh pada Tuhan.

Maka yang perlu dipersembahkan kepada Tuhan adalah jiwa raga manusia itu sendiri dengan mematuhi semua perintah Allah dan menjauhi semua apa yang dilarang Tuhan. Allah swt. tidak membutuhkan pengorbanan berupa manusia termasuk binatang.
Kejayaan keluarga tidak diukur dengan keberhasilan penguasan modal oleh anggota keluarga.

Keluarga yang bertujuan taqwa yang mengorbankan hidupnya untuk Tuhan diukur sejauhmana anggota keluarganya tumbuh kembang menjadi shalih dengan amal shalih dengan mengasihi semesta alam. Kebahagiaan semesta alam dalam bahasa agama disebut bahagia dunia sampai di akhirat. Sebagaimana doa Ibrahim (Surat Ibrahim 40-41)

“Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap melaksanakan shalat; Tuhan kami, perkenankanlah doaku, Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari perhitungan (di hari kiamat)”

Saatnya kita berhenti mengeluh karena harus di rumah, mendampingi anak belajar dan bekerja dari rumah, karena hakekat perjuangan adalah keluarga yang tinggal di rumah. Wallahu A`lam.

Penulis Merupakan Dosen Ilmu Tafsir IAIN Ponorogo