LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Tingginya intensitas curah hujan yang terjadi sepekan terakhir, membuat hampir seluruh pelosok desa di Kabupaten Bireuen dilanda banjir. Parahnya, dampak bencana alam ini bukan hanya merendam pemukiman, serta luapan arus ikut menyeret puluhan rumah, puluhan warga dikabarkan meninggal dan menghilang, belasan ribu orang harus menyelamatkan diri.
Bahkan, ribuan hektar sawah siap panen dan tambak, ikut rusak hingga menyebabkan kehancuran sektor ekonomi rakyat.
Akses jalan Banda Aceh – Medan lumpuh total karena jembatan Kutablang, Pante Lhong ambruk, begitu juga akses utama jalan Bireuen Takengon lumpuh total karena jembatan Cot Mane juga ambruk.
Musibah banjir yang memuncak sejak Rabu 26 September 2025 juga menyebabkan listrik padam total, jaringan internet juga kolap, suplai air bersih PDAM terhenti, kendaraan tak dapat mengisi BBM di SPBU, ruas jalan negara ikut tergenang dan jalur transportasi darat tertutup genangan air setinggi 80 centimeter. Kantor pemerintahan, swasta, Bank, ATM juga tidak dapat beraktivitas. Sejumlah jembatan ruas jalan nasional, maupun jalan propinsi hancur diterjang air bah hingga jalur Medan-Banda Aceh putus total, sehingga masyarakat kini terisolasi.
Pemkab Bireuen bersama Forkopimda telah mengumumkan darurat bencana, Basarnas dibantu Polres dan Kodim bersama masyarakat masih melakukan pencarian korban yang hilang dibawa arus.
Kondisi itu, menyebabkan Bireuen lumpuh ekses banjir yang terjadi sejak Kamis pekan lalu, serta semakin parah setelah hujan deras terus mengguyur tanpa henti mulai Senin-Rabu. Hingga berita ini ditulis, belum diketahui pasti jumlah korban jiwa dan kerugian materi yang dialami masyarakat, dalam musibah ini. Tapi diprediksi mencapai ratusan miliar rupiah akibat bencana alam terburuk sepanjang sejarah.
Pantauan media ini, warga yang rumahnya kebanjiran terus berusaha mengamankan harta benda mereka, agar tidak terendam air. Namun, ada sebagian lainnya terpaksa harus keluar dari rumah, mengungsi ke mesjid dan mushala ataupun ke rumah-rumah saudara serta kerabat dekat.
Selain seluruh perkampungan di 609 desa, termasuk kawasan pesisir yang terkepung banjir, pusat kota Bireuen juga terendam air. Semua ruas jalan tergenang setinggi 40-70 centimeter, sehingga sulit dilalui kendaraan bermotor. Seluruh pertokoan serta warung kopi mulai Rabu pagi ditutup.
Seluruh wilayah Bireuen dilaporkan tak luput dari kepungan banjir tersebut. Kondisi buruk itu, kian diperparah dengan pemadaman aliran listrik dan terhentinya suplai air bersih, serta putusnya jaringan seluler.
Jembatan rangka baja Teupin Mane yang menghubungkan Bireuen-Takengon, amblas dihantam air yang muncul Rabu dini hari, serta jembatan Kutablang penghubung jalur Medan-Banda Aceh, ikut terdampak hingga akses jalan darat itu tak bisa lagi dilalui. Puluhan unit rumah, di Kecamatan Juli dan Peusangan Siblah Krueng dilaporkan hancur terseret air bah. Bangunan gedung tiga lantai pesantren di Samalanga, juga ambruk dan ikut dibawa derasnya arus air yang meluap.Ruas jalan Medan-Banda Aceh ditutup total, akibat genangan air hampir mencapai satu meter.
“Musibah banjir kali ini, benar-benar terparah sepanjang sejarah Kabupaten Bireuen, akibat hujan deras yang terus menerus turun tanpa henti selama lima hari.
Sementara, ratusan desa lainnya dikabarkan mengalami musibah serupa, bahkan hujan deras yang terus melanda belum terlihat reda hingga menyebabkan air tak kunjung surut, malah makin parah menggenangi rumah, sekolah dan fasilitas kesehatan di setiap kecamatan. Awak media ini, belum berhasil mengkonfirmasi BPBD Bireuen, maupun pihak terkait untuk mendapatkan informasi resmi seputar bencana alama itu, karena akses komunikasi masih terputus. (AN)








