Dari Dakota RI 001 Seulawah Hingga Menjadi Masjid Nyak Sandang

Dari Dakota RI 001 Seulawah Hingga Menjadi Masjid Nyak Sandang

Oleh: Lisdayanti


Pada tanggal 16 Juni 1948 di Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Melalui sebuah kepanitiaan yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara dengan 20 kg emas.

Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli sebuah pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat Dakota RI 001 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Itulah sejarah besar yang telah dicatat oleh kakek nenek kita dahulu.

Salah satunya adalah Kakek kita yang akrab di kenal dengan panggilan “Nyak Sandang”.

Pada tanggal 3 maret 2018 kami merilis kisah beliau pada halaman www.act.id tujuannya bukanlah untuk menuntut balik hartanya, bukan pula untuk advokasi atas ketidakadilan. Bukan. Tapi kami ingin menginformasikan pada dunia bahwa ada seorang pahlawan yang sudah berusia 91 tahun saat itu tapi kecintaannya pada bangsa masih seperti beliau dimasa Indonesia baru merdeka.

Spirit perjuangannya untuk bangsa masih menyala merah dimatanya yang tidak lagi jelas melihat karena katarak dan pengaruh usia kala itu.

Sekilas beliau menceritakan spirit keikutsertaannya pada masa lalu

Baca Juga:  (1) Menertawakan Kengerian Masa Konflik Aceh

Ureung Lamno, menye ka geukheun le Abu Disabang bantu, nyan meu lumba-lumba bantu. Na yang pueblo itek, manok, lampoh bahkan na yang pueblo rumoh. Ureung jameun menye ka ulama titah, nyan hana preh singeh le. Kadang menye geuyu grob lam krueng, di grop cit. Dumnan keu sayang ureung awai keu ulama” (Orang lamno, kalau Abu Disabang bilang bantu, semua berlomba-lomba bantu. Ada yang jual itik, ayam, kebun bahkan ada yang jual rumah. Orang dulu kalau perintah ulama tidak nunggu besok lagi. Mungkin kalau ulama suruh loncat ke sungai, loncat juga),”

Masya Allah Tabarakallah Nyak Sandang,
Tentu bukan beliau seorang diri yang telah ikut andil dalam bagian Dakota RI 001 Seulawah. Pesawat pertama Republik Indonesia yang disumbangkan oleh rakyat Aceh.

Ya, benar, sumbangan beliau mungkin terhitung masih dalam hitungan kecil. Masih ada penyumbang lain dengan nominal jauh lebih besar.

Pun, bukan beliau seorang diri yang masih memiliki sertifikat atau bukti andil yang tercatat rapi hitam diatas putih yang kini telah berubah warna menjadi coklat.

Masih banyak anak-cucu pejuang yang lain juga masih memilikinya. Bahkan telah memperlihatkan itu kemana-mana sampai ada yang menuntut balik karena merasa bahwa itu adalah pinjaman yang seharusnya dikembalikan

Dan beliaupun ketika ditanya apakah ingin menuntut balik harta tersebut?

Baca Juga:  Part II: Menertawakan Kengerian Masa Lalu

Jelas sekali beliau katakan tidak “biarlah anak-anak cucu kami menikmati kemerdekaan Indonesia ini”

Itulah yang menjadi spirit bagi tim ACT mengangkat kisah beliau ke publik untuk menjdi inspirasi, untuk menjadi semangat perjuangan bangsa.

21 maret 2018 Nyak Sandang di undang ke Istana oleh Bapak Presiden Jokowi sekaligus mengutarakan keinginannya agar di operasi katarak agak bisa membaca alquran lagi, bisa ke masjid seorang diri, dan agar dibangun sebuah masjid di kampung halamannya.

Tanggal 14 Oktober 2020, tepatnya kemarin, masjid Nyak Sandang telah dilakukan peletakan batu pertama. Akan dibangun sebuah masjid megah yang diberi nama Masjid Nyak Sandang.

Masya Allah Tabarakallah Kakek, setelah puluhan tahun akhirnya doa beliau di ijabah olehNya dengan cara cukup indah. Beliau telah operasi katarak, rumahnya telah di renov, telah umroh beberapakali yang juga ikut memberangkatkan anak menantu bahkan relawan yang mengangkat kisah beliau pertama kali ke kami. dan tentu semua itu adalah buah keikhlasan beliau selama ini. Jalan indah yang sudah Allah lukiskan untuknya.

Maka, siapapun kita, milikilah sebuah karya dan pertahankan niat tulus tanpa mengharap balasan. Nanti, pada saatnya tiba, biarlah Allah yang melukiskan kisah hidup kita dengan cara terbaik Nya.

Penulis merupakan Aktivis Kemanusiaan serta menjabat Head Marketing Communication ACT Aceh