Datuk Mansyur: Pemerintah Aceh Memang Tidak Punya Niat Membantu

LINTAS NASIONAL – MALAYSIA, Presiden Komunitas Aceh-Malaysia Datuk Haji Mansyur Bin Usman menilai jawaban Pemerintah Aceh terkait penyaluran 10 ribu Sembako untuk warga Aceh di Malaysia dapat memperburuk Citra Plt Gubernur dan memperkeruh suasana.


Hal itu disampaikan Datuk Mansyur menjawab pernyataan Plt Gubernur melalui Juru bicara Saifullah Abdul Gani atau SAG yang mengatakan Ir Nova Iriansyah. MT tidak pernah janjikan bantuan Sembako untuk masyarakat Aceh terimbas Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Malaysia.

Padahal kata Datuk Mansyur pada bulan April lalu Pemerintah Aceh melalui Asisten II Setda Aceh, HT Ahmad Dadek, mengatakan, paket sembako untuk warga Aceh di Malaysia sudah disiapkan, itu dilakukan Pemerintah Aceh menyahuti seruan bersama masyarakat Aceh termasuk terkait pemulangan mereka PMI ke daerah masing-masing.

“Alasan Pemerintah Aceh waktu itu belum mendapatkan surat balasan dari Kemenlu dan BNPB yang dikirim tertanggal 27 April 2020. Isi surat tersebut Pemerintah Aceh menyatakan ingin menyalurkan sembako sebanyak 10.000 paket dengan nilai RM50 (50 ringgit Malaysia) per paket. Bantuan itu akan disalurkan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur,” kata Datuk Mansyur

Menurut KMAM itu merupakan alasan yang tidak masuk akal sudah hampir empat bulan Pemerintah Aceh belum mendapatkan surat balasan, masalah teknis penyaluran juga sudah final yaitu Pemerintah Aceh akan menyalurkannya melalui KBRI Kuala Lumpur.

Baca Juga:  29 Jenazah WNI Tertahan Pemulangannya dari Malaysia

“Perlu kami luruskan, kami tidak pernah minta Pemerintah Aceh menyalurkan bantuan melalui KMAM, tetapi sebagai tanggung jawab moral sebagai orang tua disini kami siap membantu, KMAM juga sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pihak KBRI mereka menyambut baik,” jelas Datuk Mansyur

Datuk Mansyur menganggap jawaban Pemerintah Aceh yang mengatakan tidak pernah berjanji itu sangat menyakitkan warga Aceh di Malaysia dan akan memperkeruh suasana.

“Itu pernyataan bunuh diri pemerintah Aceh karena jejak digital tidak bisa dibohongi, silahkan di Cek di berbagai media pernyataan sebelumnya apa yang telah dijanjikan,” tegas Datuk Mansyur

Baca: Plt Gubernur Aceh Bantah Janjikan Sembako untuk Warga Aceh di Malaysia

KMAM menilai Pemerintah Aceh tidak serius untuk membantu warganya yang berdampak Covid19 di Malaysia, buktinya untuk satu surat izin saja berbulan-bulan tidak sanggup diurus.

“Seandainya Pemerintah Aceh Peduli dengan warganya disini, kirim aja perwakilan untuk menyalurkan lansung, untuk apa izin Pemerintah Pusat, hanya memerlukan pemberitahuan ke KBRI dan kerajaan Malaysia dan itu sudah kami lakukan, mereka juga menyambut baik tanpa kendala apapun” lanjutnya

Jadi dalam hal ini KMAM menganggap ini hanyalah pengalihan isu ataupun tidak ada dana supaya kedepan timbul keraguan bahwa masalah pemulangan PMI juga akan terhalang dengan regulasi nantinya.

Baca Juga:  Detik-detik Pengurus APDESI Menyergap Tiga Oknum LSM KPK yang Diduga Memeras Keuchik di Bireuen

Perlu diketahui KMAM sejak 18 Maret sampai 23 Mei 2020 mereka sudah mendistribusikan 117,500 paket barang makanan masing-masing senilai RM50 per paket, sehingga jumlah bantuan keseluruhan bernilai RM5.875.000.00 atau sekitar 19.9 miliar rupiah.

“Sumber dana untuk keseluruhan bantuan berasal dari para pengusaha kedai runcit berketurunan Aceh di Malaysia, pengusaha keturunan Aceh yang lain baik di Malaysia ataupun Indonesia, masyarakat Aceh baik di Indonesia dan Malaysia serta donatur yang berasal dari Malaysia baik individu ataupun badan-badan yang bergerak di bidang amal dan kemanusiaan dan itu tidak ada kendala apapun kami hanya meminta surat Izin dari KBRI, Tidak sedikitpun bantuan dari Pemerintah Aceh” jelas Datuk Mansyur

Jadi, Ia meminta Pemerintah Aceh jangan mencari alasan kalau memang punya niat membantu banyak cara yang bisa dilakukan, yang perlu dipahami pekerja asal Aceh di Malaysia juga berhak menikmati dana APBA apalagi dalam kondisi seperti ini.

“Ratusan Ribu warga Aceh yang bekerja di Malaysia hanya untuk memperbaiki nasib keluarga, mereka merupakan pahlawan devisa, bayangkan berapa uang yang mengalir ke Aceh per tahunnya yang dikirim ke Aceh,” Pungkas Haji Mansyur (Red)