Daerah  

Diduga Sarat Kepentingan, Irigasi Paya Laot Peudada Kuras APBK 13 Milyar

LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Pembangunan dan rehabilitasi irigasi Paya Laot, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen serupa dilema gadis remaja yang saban waktu perlu merias diri dan diduga Sarat Kepentingan, pasalnya dikerjakan oleh Perusahaan yang sama dalam Dua Tahun terakhir.

Pada 2021 Pemerintah Kabupaten Bireuen kembali menganggarkan dana untuk Rehabilitasi Saluran Suplesi Daerah Irigasi Paya Laot, Kecamatan Peudada dengan Pagu anggaran sebesar Rp. 1.800.000.000,00.

Belum lagi Rehabilitasi Saluran Primer Daerah Irigasi Paya Laot, Kecamatan Peudada dengan pagu anggaran senilai
Rp. 2.500.000.000,00 pada Tahun Anggaran 2021.

Pantauan lintasnasional.com pada Rabu 15 September 2021 Kedua Proyek senilai Miliaran itu sudah mulai dikerjakan seperti proyek siluman tanpa Papan informasi.

Kalau dilihat dari anggaran yang digelontorkan dari tahun ke tahun, Irigasi Paya Laot serupa perawan remaja, perlu didandani setiap tahun untuk selalu tampil mempesona dan terlihat menawan, alih-alih juga menjadi manfaat bagi kebutuhan masyarakat petani di Bireuen

Bagaimana tidak, semenjak dari tahun 2015 sampai dengan 2021 amat banyak Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Bireuen telah dikucurkan untuk kecantikan irigasi Paya Laot tersebut.

Amatan Lintasnasional dilansir https://lpse.bireuenkab.go.id, Selasa 14 September 2021 rehabilitas pembangunan irigasi Paya Laot terhitung sudah dimulai dari Tahun 2015.

Sementara pada 2020 juga terdapat Rehabilitasi Daerah Irigasi Paya Laot Kecamatan Peudada dengan Pagu anggaran sebesar Rp. 3.000.000.000,00.

Di samping itu, pada 2017 terdapat Rehabilitasi Tanggul Embung Paya Laot, Kecamatan. Peudada Pagu sebesar Rp. 2.000.000.000,00, serta Peningkatan Jaringan dan Bangunan D.I Paya Laot Kec. Peudada dari dana OTSUS dengan Pagu sebesar Rp. 1.965.000.000,00.

Selain itu, pada 2016 juga ada Peningkatan Daerah Irigasi Paya Laot Kecamatan Peudada dengan Pagu anggaran senilai Rp. 2.000.000.000,00. Sementara pada 2015 terdapat pula Pekerjaan konstruksi Peningkatan Daerah Irigasi Paya Laot dengan Pagu anggaran Rp. 475.750.000,00.

Dengan demikian, proyek konstruksi Paya Laot Peudada terkesan menjadi objek yang memuaskan nafsu beberapa orang semata, pun Pemerintah Bireuen disinyalir lena dan lalai dalam mendandani irigasi Paya Laot dari tahun ke tahun menggunakan APBK yang terhitung Milyaran Rupiah tersebut, padahal masih banyak daerah-daerah lain yang masih minim pembangunan.

Namun, kasat mata dapat dibandingkan selama 2015 sampai 2021 APBK Bireuen banyak diperuntukan untuk proyek konstruksi (mendandani atau merias Paya Laot) dengan rehabilitasi irigasi ketimbang pembangunan fisik lain seperti jalan lintas kecamatan, jembatan dan rumah layak huni bagi masyarakat miskin.

Selama beberapa tahun belakangan ini proyek rehabilitasi atau normalisasi melulu diperuntukan dititik yang sama, tepatnya di Paya Laot Peudada. Sehingga prospek pembangunan di Bireuen terkesan mandek dan sarat kepentingan.

Diketahui hampir keseluruhan proyek tersebut berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bireuen.

Yang menjadi pertanyaan publik, Rehabilitasi Irigasi Paya Laot pada Tahun 2020 lalu senilai 3 Milyar dikerjakan oleh PT. Putra Perkasa Aceh yang beralamat di Jl Medan-Banda Aceh Meunasah Blang Bireuen.

Namun di Tahun 2021 Rehabilitasi saluran Suplesi juga dikerjakan oleh PT. Putra Perkasa sementara itu untuk Rehabilitasi saluran Primer dikerjakan oleh CV. Bintang Perkasa Utama yang beralamat di Gampong Pulo Kiton Bireuen.

Bila dihitung dari Tahun ke Tahun Irigasi Paya Laot telah menghabiskan Anggaran senilai 13 Milyar lebih.

Sementara itu Kepala Dinas PUPR, Fadhli Amir yang dikonfirmasi terkait Pembangunan irigasi Paya Laot namun hingga saat ini belum mendapat respon. (Reza/Red)