Gerilyawan GAM Linge, Lemah di Senjata Kuat di Propaganda

Oleh: Fauzan Azima


Medio Desember 1999, saya masuk Aceh, dengan tugas khusus dari Panglima GAM Wilayah Linge, Tengku Ilham Ilyas Leube menghubungi dan meminta tokoh-tokoh Gayo mendukung perjuangan kemerdekaan Aceh.

Di antara tokoh Gayo yang saya temui; Bupati Aceh Tengah Bapak Mustafa M. Tamy, Ketua DPRD Aceh Tengah Bapak M. Din AW, Kepala PU Aceh Tengah Bapak Hasanuddin, Ketua MPU Bapak Tengku Muhammad Ali Djadun, Sekda Aceh Tengah Bapak Ibnu Hajar Laut Tawar, Tengku Ali Husni (Tengku Kali Tama Kebayakan), Tengku Maddin Pas, Bapak Manteri Tajud dan beberapa tokoh penting lainnya.

Sebelumnya di Jakarta, saya juga sudah bertemu dengan tokoh-tokoh untuk menyampaikan dan meminta saran mengenai GAM Wilayah Linge, di antaranya; Bapak A. K. Jakobi, Bapak Kasim Jangkrik, Bapak Chairul Bahri dan tokoh-tokoh Gayo lainnya di perantauan.

Setelah menyampaikan misi perjuangan kepada para tokoh, saya mulai masuk ke wilayah pasukan bersenjata yang masih bergerak secara sporadis. Tidak ada base camp khusus untuk pasukan bersenjata GAM Wilayah Linge.

Saya pertama kali mendatangi tempat Tengku Amri dengan sandi Pang Ama Burak di daerah Cabang Due, Kampung Kem, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah. Kami bercerita panjang lebar mengenai perjuangan; dari struktur sampai dengan jumlah senjata.

“Berapa jumlah senjata kita sebenarnya?” tanya saya.

“Kurang dari sepuluh, ini salah satunya, Zan” katanya Pang Ama Burak sambil menunjukkan satu pucuk senjata jenis “sten gun” atau pasukan menyebutnya “jenggel” dengan beberapa butir peluru.

Saya terdiam! Fikiran saya melayang ke sana ke mari. Beribu pertanyaan muncul di dalam benak saya. Apa yang bisa dilakukan dengan jumlah senjata seperti ini. Jangankan menyerang, bertahan saja tidak cukup. Tebakan saya jauh meleset, saya kira paling kurang senjata GAM beredar di Gayo ada seratus pucuk senjata serbu jenis AK-47, AK-56, M-16 dan SS-1.

Pasukan GAM Wilayah Linge pada waktu itu sangat tidak teratur. Mereka tidak saja punya tugas berperang, tetapi juga mengkampanyekan ideologi dan mencari dana. Tidak fokus sehingga siapa pun bisa masuk kepada masyarakat mengatasnamakan perjuangan untuk meminta dana. Akibatnya banyak dana sumbangan masyarakat jatuhnya ke tangan yang salah untuk kepentingan pribadi, bukan kepada perjuangan.

Saya dan pasukan harus berfikir panjang dan bekerja ekstra; membangun struktur perjuangan, mencari dana, menambah senjata, sosialisasi ideologi di tengah-tengah gencarnya operasi bersenjata dari pihak TNI/Polri.

Kegiatan sporadis GAM di Wilayah Linge yang dimulai awal tahun 2000 dengan aksi penembakan dan perampasan senjata milik Brimob di Relung Gunung, Kecamatan Bukit, Bener Meriah oleh pasukan Pang Jaka Badak dan Pang Win Bintang telah menyebabkan aksi balas dendam dengan operasi untuk mencari dan menangkap anasir GAM.

Media pada waktu itu menyebutnya, “Kota dingin tidak lagi dingin”. Memang setidaknya demikian bagi GAM yang merasa “bocor” terpaksa lari ke luar daerah dan sebagian masuk ke dalam hutan. Masalahnya bagi orang-orang yang memilih bergerilya di “semak bluke” tidak punya senjata.

Dengan kondisi itu, terpaksa membangun propaganda yang seolah GAM Wilayah Linge kuat, padahal faktanya benar-benar sangat lemah. Senjata yang hanya beberapa itu, mobilitasnya harus tinggi. Sekali terlihat di Buntul, besok harus terlihat Timang Gajah dan seterusnya.

Di samping itu, penguasaan terhadap berita di media mainstream; setidaknya koran Serambi Indonesia dan Harian Waspada harus masuk berita dari pernyataan GAM Wilayah Linge yang tidak saja tentang perang, tetapi juga mempengaruhi kebijakan “Pemerintahan kabupaten” dan mengatur keamanan transportasi darat; angkutan umum dan barang.

Khusus kepada pasukan, diwajibkan untuk mandi dan berpakaian rapi serta bersepatu ketika akan turun ke kampung. Penampilan tidak boleh lusuh dan bagi para perokok harus “menghisap” rokok mahal; Dji Sam Soe, Marlboro lokal dan Marlboro soft pack dari luar negeri. Pasukan dilarang keras menghisap rokok murah di depan masyarakat, seperti Randu Alam dan 153.

Tidak jarang juga menantang perang TNI/Polri di suatu tempat yang jauh dari keramaian agar pasca perang tidak ada masyarakat yang menjadi korban; kami sering menantang perang di Bukit Kucing, Gunung Batu Kapal, perbatasan Aceh Timur dan Bener Meriah dan kawasan lainnya yang sepi dari masyarakat.

Penulis Merupakan Mantan Panglima GAM Wilayah Linge