Hilang Kesabaran Ajari Anak Belajar Online, Ibu Muda Ini Bunuh dan Kubur Anaknya

LINTAS NASIONAL – JAKARTA, Kebijakan belajar daring (online) yang diterapkan pemerintah sejak Pandemi COVID-19, memunculkan sebuah dampak yang mengerikan.


Seorang ibu muda di Jakarta berusia 26 tahun bernama Lia Handayani, gelap mata karena kehilangan kesabaran saat mengajari anaknya belajar online. Dia menghabisi nyawa salah satu anak kembarnya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD.

Dari data yang terhimpun, bocah malang itu bernama Keysya Safiyah, lahir di Jakarta tanggal 29 Agustus 2012, atau ketika usia Lia masih 16 tahun.

Lia, yang lahir di Jakarta pada 29 April 1994, diketahui menikah di usia muda dengan Imam Safie, seorang pria kelahiran Jakarta, 16 Juni 1993. Lia dan Imam menikah pada tahun 2011, atau ketika usia Lia masih 15 tahun dan Imam masih 16 tahun.

Dari hasil pemeriksaan polisi, diketahui kalau bocah itu tewas setelah dipukul oleh Lia, dengan gagang sapu ijuk berulang kali dan didorong ke lantai.

“Ketika belajar menulis sesuatu dan diarahkan, ketika sang anak tidak mengerti diajari oleh orangtua, kemudian dia emosi. Kemudian melakukan pemukulan, ini dilakukan bukan sekali saja,” kata Kapolres Lebak AKBP Ade Mulyana dikutip Indozone.id, Selasa 15 September 2020.

Baca Juga:  Hati-Hati, Pelaku Pemotongan BLT Akan Ditindak Tegas

Dari hasil pemeriksaan, polisi juga mendapati fakta bahwa penganiayaan terhadap bocah tersebut sudah sering dilakukan oleh Lia.

Imam, sang suami, sempat marah dan mengamuk kepada Lia ketika mengetahui salah satu anak kembar mereka meninggal. Namun karena tak ingin ketahuan tetangga di Jakarta, mereka diam-diam membawa jasad anak mereka dengan sepeda motor ke empat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Kendeng, Desa Cipalabuh, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten, pada 26 Agustus lalu.

“Anak sempat diberi minum supaya tidak lemas, kemudian ide dari mereka keluar cari udara segar. Hingga menggunakan sepeda motor (pergi) di sekitaran Tangerang. Saat berbonceng empat, si Adek diketahui tidak bernafas dan tidak bergerak lagi. Paniklah mereka,” pungkasnya.

Menempuh jarak bermil-mil jauhnya dari Jakarta, pasangan muda itu berboncengan empat; Imam, Lia, anak kembar mereka yang masih hidup, dan jasad anak kembar mereka yang sudah mulai kaku. Mereka membawa jasad anak mereka itu jauh-jauh dengan alasan makam nenek si bocah juga ada di situ.

Baca Juga:  Dua Buronan BNN Asal Aceh Utara Ditangkap Polres Tapanuli Utara

Sesampainya di TPU Gunung Kendeng, Imam dan Lia sempat bingung memikirkan bagaimana menguburkan anak mereka. Lantas, tanpa memikirkan akibatnya, Imam meminjam cangkul milik salah seorang warga setempat, bernama Halimi.

Dengan cangkul itulah dia menggali kuburan anaknya. Diliputi rasa takut akan ketahuan, Imam dan Lia menguburkan anaknya itu tanpa memandikan dan mengkafaninya secara layak. Jasad anak itu mereka kubur dalam balutan pakaian yang terakhir dipakainya.

Berselang hampir dua pekan, Imam dan Lia akhirnya ditangkap. Perbuatan mereka mula-mula terendus oleh warga yang kepadanya mereka meminjam cangkul.

Kini pasangan suami istri muda itu mendekam di balik jeruji besi tahanan Polres Lebak. (Red)