Pandemi dan Euforia Moge dalam Bingkai Perdamaian Aceh

Oleh : Maimun Samudera


Melihat informasi yang berkembang saat ini, dimana para manusia dimuka bumi sedang melawan badai pandemi dan ancaman resesi yang semakin hari bergerak tajam.

Aceh sebagai salah satu bagian didalamnya, pertambahan jumlah kasus yang terus meningkat, tentu perlu kita cemaskan bersama, apalagi kepatahun publik yang sangat minim dengan himbauan-himbauan receh.

Agustus bulan yang sangat indentik dengan duo nasionalisme dimana momen didalamnya etno nasionalisme ke Acehan dan Nasionlisme ke Indonesianan, ada dua fakta Sejarah perjalanan bangsa Republik Indonesia dan Aceh Khususnya, dimana Agustus dapat kita sebutkan sebagai bulan Kemerdekaan dan Perdamaian.

Aceh hari ini, setelah 15 Tahun berdamai setelah adanya konsesus Politik dan lahir bebrbagai lembaga kekhususan dan Keistimewaannya. Harusnya setelah 15 Tahun tanpa Perang, Hak-hak Rakyat sebagai Korban konflik sudah terealisasi dengan baik dan tepat sasaran, mengingat tidak sedikit Anggaran yang dikucurkan untuk Aceh berbenah diri dalam Bingkai NKRI, tapi nyatanya 15 Tahun Perdamaian ACEH, Rakyat Aceh belum mampu berdamai dengan kenyataan hidup akibat Pemerintahan yang korup dan kebijkan salah kaprah serta berpihak pada kalangan atas.

Baca Juga:  Menyoal Bimtek Keuchik Ala LEMPANA di Aceh Timur

Kondisi hari ini, dampak Pandemi Covid-19 yang semakin carut-marutnya ekonomi Rakyat dan kesejahteraan yang layak adalah mimpi yang terus menjadi mimpi bagi mereka ditingkat tapak. Pada tataran kebijakannya Pemerintah Aceh dalam hal ini, sanagat tidak serius dalam keberpihakannya untuk berpihak dan terus bersama rakyat bahu-membahu melawan Covid-19, hal ini dapat kita ambil indikatornya dari kepatuhan publik dan janji kosong Pemerintahan Kita, Refocusing Anggaran yang tidak jelas penggunaannya.

Pemerintah Aceh yang terhormat, saya selaku anak bangsa sangat tersakiti, ketika Rakyat dan para Korban Konflik belum selesai dengan persolan primer (Kebutuhan) hidupnya, tapi malah mempertontonkan sesuatu yang hura-hura dan menghamburkan Uang Rakyat.

BRA sebagai otoritas yang fokus untuk penangan korban perang, harusnya tatanan kebijakannya berpihak pada mereka yang pernah terluka dan tersiksa, merekalah yang harus diutamakan, diberdayakan dan dicerdaskan.

Meskipun telah dibatalkan, hari ini, kita patut kecewa sebesar 300 Juta uang Rakyat dihamburkan untuk membiayai hobi orang-orang yang katanya sudah selesai dengan hidupnya, Pesta MOGE yang dibalut dengan Euforia Perdamaian adalah kebijakan yang perlu kita lawan bersama.

15 Tahun Perdamaian Aceh bukan Euforia yang Rakyat harapkan, terlebih pada kondisi yang sekarang ini yang serba tidak menentukan. Perdamaian Aceh adalah suatu peristiwa yang patut kita syukuri seraya mengirimkan doa-doa untuk mereka yang mendahului kita demi harkat dan martabat bangsanya, nayatanya BRA dan Lembaga Eksekutif Aceh selaku Pihak penguasa Anggaran malah melakukan hhura-hura diantara kita, dimana bau amis (Bee Hanyii) darah keluarganya yang tetap segar diingtan.

Baca Juga:  Dilema Qurban dan Covid19 di Aceh

Wahai BRA, MOGE & PLT

Dalam momentum 15 Tahun Perdamaian Aceh, bukan hura-hura dan Euforia seseat yang diharapkan Rakyat. Mensyukuri nikmatnya Perdamaian bukan dengan Pesta MOGE, sama sekali tidak relevan dengan harapan rakyat, masih cukup banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan oleh pimpinan, anda-anda yang sudah diatas bekerjalah dengan akal sehat dan hati nurani.

Janda Konflik, Yatim DOM dan Rakyat Aceh masih menaruh harapan besar untuk perubahan nasibnya melalui kebijakan dan keberpihakan anda.

BerMOGE lah sesuka Anda dan jangan salahkan mereka yang mengucapkan sumpah serapahnya.

Kita Patut Kecewa!!

Penulis merupakan pegiat Media Sosial di Aceh