Part III, Gerilyawan GAM Linge: Sesulit Apapun Tidak Lupa Bercanda

Oleh: Fauzan Azima


Pada awal tahun 2001, pasukan GAM Wilayah Linge melakukan ekspedisi ke Sagoe Lokop Serbejadi, Wilayah Peureulak untuk membangun hubungan “diplomatik” sesama pasukan Gayo, yang kebetulan sedang bermasalah dengan “perampok” yang mengatasnamakan pasukan GAM.

Berdasarkan laporan pasukan GAM Lokop Serbejadi, ada “pasukan liar” yang mengatasnamakan Pimpinan GAM Wilayah Peureulak dan menguasai sarang burung, merampas harta masyarakat dan tidak menghormati kerja pasukan serta struktur Sagoe Lokop Serbejadi.

Dengan kekompakan pasukan GAM Wilayah Linge bersama Sagoe Lokop Serbejadi, akhirnya pasukan liar itu dapat diringkus, senjatanya disita dan dipersilahkan pulang ke kampung halamannya dalam 1×24 jam. Sejak itu, pasukan Lokop Serbejadi lebih fokus dan mandiri mengurus pasukannya sendiri tanpa intervensi “pasukan liar” yang mengatasnamakan pimpinan GAM WIlayah Peureulak.

Menempuh perjalanan ke Lokop Serbejadi harus melewati Medan yang berat. Apalagi turunan dari Puncak Gunung Sembuang ke kampung, seperti berjalan menuruni papan tulis. Sangat curam dan rasanya lutut lemah dan longgar. Perkampungan di bawah tampak sejurus dengan ujung kuku kaki.

Walau kampung terlihat jauh, kami tetap bersemangat menuruni gunung menuju kampung Sembuang, yakni kampung yang berada di lembah Gunung Sembuang.

Saya ditemani Tengku Halidin Gayo alias Pang Jangko Mara (Wapang GAM Wilayah Linge) Tengku Kadim (Panglima Sagoe Blang Seunong, Wilayah Peureulak), Anak Lubuk (Pasukan Wilayah Peureulak), Datu Samarkilang, Tengku Fauzan Blang (Perhubungan GAM Wilayah Linge).

Kami berlomba menuju kampung. Dalam bayangan pasukan di sana pasti menyediakan makanan. Maklum selama dalam perjalanan makan tidak sempurna. Sebelum masuk kampung kami mandi di Sungai Sembuang. Kami tidak ingin terlihat lusuh di depan masyarakat dan Pasukan Lokop.

Selesai mandi kami bergegas masuk kampung dan disambut layaknya tamu agung oleh pasukan GAM Sagoe Lokop Serbejadi dan masyarakat Kampung Sembuang. Sementara Tengku Kadim tertinggal di belakang.

Kami dipersilahkan istirahat pada sebuah rumah yang sudah disiapkan. Daerah Lokop Serbejadi waktu itu benar-benar berdaulat. Pos TNI/Polri hanya berada Penaron, jaraknya puluhan kilo meter dengan menempuh jalan yang sulit untuk sampai ke Lokop Serbejadi.

Tengku Kadimpun datang dengan membawa pakaian yang baru saja dicucinya. Tidak ada yang menyambutnya. Kami semua diam seolah tidak mengenalnya.

“Siapa dia?” tanya saya kepada pasukan GAM Lokop setengah berbisik sambil melirik Tengku Kadim.

“Kami kira dia bersama Ama satu pasukan” kata pasukan itu.

“Sejak dari tadi dia mengikuti kami” kata saya meyakinkan.

“Tapi dia bawa pistol, Ama!” pasukan itu agak ragu.

“Dalam situasi seperti ini, apapun bisa terjadi. Tolong awasi orang itu. Jangan-jangan dia mata-mata” kata saya.

“Baik Ama” kata pasukan itu.

Sejak itu kemanapun Tengku Kadim pergi selalu dikawal. Bahkan masuk kamar mandi pun selalu diawasi dua orang pasukan. Sesekali Tengku Kadim datang ke tempat kami, tetapi kami diam saja. Tidak peduli kepadanya seolah tidak mengenalnya. Semakin meyakinkan dua orang pasukan itu, bahwa Tengku Kadim bukan dari pasukan kami.

“Ada apa dengan kalian? Kemana saya pergi kalian selalu mengekor” Tengku Kadim mulai sadar dan marah pada pasukan itu.

Saya cepat memberi isyarat kepada pasukan itu untuk segera pergi dan memberi kesan kepada mereka bahwa saya bertanggung jawab terhadap “orang asing” Tengku Kadim.

“Begitulah sayangnya kami kepadamu, Tengku Kadim, kami sengaja beri dua pengawal yang setia” kata Pang Jangko Mara.

Kami semua tertawa. Tengku Kadim sudah faham bahwa kami sedang “mengerjai” dirinya. Baginya tidak masalah ada pengawalan melekat, tetapi dia merasa risih, kalau sampai buang air di sungai pun tetap dikawal.

Pada malam harinya, Tengku Kadim memaksakan diri berceramah tentang perkara dan alasan Aceh Merdeka. Sedang kami ingin istirahat saja karena sudah hampir seminggu tidur kami tidak sempurna, tetapi Tengku Kadim memaksakan diri harus berceramah. Terpaksa kami mengikuti keinginannya.

Kami khawatir pidatonya terlalu panjang, saya minta Pang Jangko Mara duduk di sampingnya. Baru lima menit Tengku Kadim bicara, Pang Jangko Mara mulai menarik kainnya pelan-pelan sampai kain sarungnya melorot. Dia berusaha membetulkan kembali sarungnya sambil meneruskan pidatonya. Jangko Mara menariknya kembali sampai dia kehilangan konsentrasi dan tidak fokus lagi ke materi pidatonya dan akhirnya dengan terpaksa menghentikannya.

“Pang Jangko Mara ni, kita sedang serius berceramah, dia terus mengganggu” Tengku Kadim marah. Kami semua menahan tawa. Masyarakat pun satu per satu pulang, kami pun akhirnya bisa tidur pulas.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba 30-an pasukan GAM Wilayah Linge, setelah operasi tersesat, sampai ke Kampung Sembuang. Di antara pasukan itu; Tengku Salman, Pang Tapa, Pang Datu dan Pang Win KK. Mereka mengeluhkan tidak makan beberapa hari di hutan belantara.

“Apakah Indomie pun tidak ada untuk dimakan?” tanya saya pura-pura tidak tahu. Tengku Salman tersenyum kecut dan agak kesal dengan pertanyaan saya. Dalam hatinya, kalau ada Indomie saja, tentu mereka tidak akan cerita tentang kelaparan.

Begitulah pasukan GAM Wilayah Linge dalam situasi yang terjepit pun masih sempat-sempatnya bercanda. Kadang-kadang sesama pasukan layaknya “stand up comedy” bercerita yang dilebih-lebihkan kepada pasukan lainnya.

“Tahukah kalian, siapakah orang Gayo yang paling besar tubuhnya” tanya seorang pasukan. Tidak ada yang tahu jawabannya dan sebagian mengatakan dengan terus terang, tidak tahu, agar cepat mengetahui jawabannya.

“Dia adalah Azzuhir Mogan, bukan saja tubuhnya besar, juga jari-jarinya sebesar jempol kaki kita. Bayangkan, setelah selesai makan, nasi-nasi yang lengket di sela-sela jari jemarinya, ketika dia mengayunkan jari jemarinya, nasi yang jatuh itu bisa mengenyangkan satu ekor ayam” cerita itu disambut gelak tawa seolah sedang tidak terjadi perang antara GAM dan RI.

Penulis Merupakan Eks Panglima GAM Wilayah Linge