Sugiono, Pemuda Kelahiran Aceh, Anak Ideologis Prabowo di Pucuk Gerindra

Sugiono (kanan) foto bersama Prabowo Subianto.

SUGIONO, meski masih muda dia memiliki karier mentereng di Partai Geridra. Di usianya yang menginjak 41 tahun, dia sudah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra. Pemuda Jawa kelahiran Takengon, Aceh, 1978 silam ini memang banyak dipercaya Pak Prabowo mengatur agenda-agenda kegiatan strategis, termasuk di Partai Gerindra.


Mungkin bagi kebanyakan publik di tanah air, nama Sugiono tidaklah terlalu populer. Dia tidak sepopuler Hasyim Djojohadikoesoemo (adik Pak Prabowo), Prof Suhardi (Ketum Gerindra), Fadli Zon (Waketum Gerindra), Ahmad Muzani (Sekjen Gerindra) atau pentolan partai lain yang kerap tampil di televisi-televisi nasional. Tetapi bagi mereka yang memiliki kedekatan emosional dengan Pak Prabowo, maka nama Sugiono tidak asing lagi.

Sugiono merupakan sosok pemuda cerdas yang ada di lingkaran terdekat Prabowo. Bahkan tak sedikit yang mengatakan, bahwa pria yang pernah menimba ilmu di Norwich Military Academy-Amerika ini merupakan anak ideologis Prabowo Subianto. Dia juga punya doubel gelar akademik magister managemen dan magister bisnis. Prabowo memang gemar mengumpulkan pemuda-pemuda intelek untuk menjadi kawan diskusi, dan itu sudah berlangsung sejak lama.

Sugiono Mengenyam pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Satu angkatan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang kini menjadi Ketua Umum Partai Demokrat menggantikan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca Juga:  Nurul, Gadis Aceh yang Dipertemukan Lewat Medsos dengan Ayahnya Warga Malaysia Saat Usia 19 Tahun

Sugiono juga merupakan mantan prajurit TNI. Dia pernah aktif sebagai prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pangkat terakhirnya adalah Letnan Satu.

Dia lalu mendapat gelar sarjana dari program studi teknik komputer di Norwich University, Amerika Serikat. Sempat tinggal dan bekerja di Rhode Island, AS.

Kariernya lalu berlanjut menjadi sekretaris pribadi Mantan Pangkostrad Letjen TNI Purn. Prabowo Subianto. Jauh sebelum Gerindra dibentuk, Sugiono sudah mendapat kepercayaan untuk mendampingi Prabowo yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan sekaligus ketua umum partai.

Hingga kemudian, dia menanggalkan dinas kemiliterannya. Lanjut berpolitik di Partai Gerindra yang dibentuk pada 2008.

Sugiono lalu eraih double degree dari University of Konstanz di Jerman yakni magister manajemen dan magister bisnis.

Pada 2014, Sugiono menjadi wakil ketua umum sekaligus anggota dewan pembina Gerindra. Termasuk yang termuda di antara yang lainnya. Kala itu, Prabowo menyebut Sugiono dan beberapa kader muda Gerindra lainnya sebagai kesatria jedi.

Dalam epos Star Wars yang ditenarkan Hollywood, kesatria jedi adalah orang-orang yang memiliki kemampuan khusus. Cara berpikir yang bijak, cerdas dan juga pandai bertarung.

Baca Juga:  Sosok Brigjen M. Hasan, Mantan Dandim Aceh Timur yang Kini Jabat Danjen Kopassus

Sugiono, selain aktif sebagai pengurus Gerindra, juga memimpin organisasi Gerakan Rakyat Dukung (Gardu) Prabowo. Mesin politik Gerindra di Pemilu dan Pilpres 2014.

Lihat juga: DPP Gerindra Demisioner, Cuma Tersisa Prabowo dan Sekjen
Sugiono hampir selalu terlihat dalam kegiatan Prabowo. Dia begitu dipercaya. Setelah tidak menjadi sekretaris pribadi pun dia tetap terlihat mendampingi Prabowo di beberapa kegiatan.

Pada Pilpres 2019, Sugiono dipercaya menjadi Direktur Kampanye Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi. Posisi yang sangat strategis dan berperan penting dalam penentuan arah kampanye, meski akhirnya Prabowo-Sandi harus kalah dari pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kini, Sugiono duduk sebagai anggota Komisi I DPR. Dia menjadi anggota dewan dari daerah pemilihan Jawa Tengah I yang mencakup wilayah Kota dan Kabupaten Semarang, Kota Salatiga serta Kabupaten Salatiga.

Di struktur kepengurusan Gerindra yang baru, dia juga dipercaya sebagai wakil ketua harian. Jabatan strategis bagi kader muda dalam struktur Gerindra untuk membantu tugas-tugas Ketua Umum yang kini merangkap sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Maju. (Red/CNN)