
TAKENGON, Pagi itu, Rabu, 26 November 2025, sekitar pukul 05.00 WIB, langit Mendale masih gelap, cahaya subuh sayup-sayup menyelinap masuk, Jalimin Gayo baru saja selesai menunaikan shalat subuh. Hujan sudah lebih dari sepuluh hari mengguyur Tanah Gayo tanpa henti, tapi pagi itu berbeda. Ada suara berat dari perut Gunung Ulung Gajah, gemuruh panjang yang membuat ubun-ubun dingin dan dada terasa mengempis.
Jalimin, adalah seorang petani kopi Gayo. Sebelumnya berprofesi sebagai wartawan di media Serambi Indonesia.
Istrinya, Mahyana Ulfa, masih mengenakan mukena ketika membuka pintu depan. Dari luar, suara teriakan menggema, oang-orang berlarian di simpang Empat depan rumah, memanggil, memperingatkan, memohon siapa pun untuk segera keluar dan lari menyelamatkan diri. Jalanan seperti medan perang, jeritan anak-anak, isak ibu-ibu, deru motor, dan langkah kaki yang panik.
Ketika Jalimin melihat ke arah gunung, ia tahu hidupnya berubah dalam satu detik. Air keruh bercampur tanah, batu-batu besar, dan kayu sepanjang tubuh manusia meluncur dari Ulung Gajah seperti kuda pacu yang tak terkejar. Banjir bandang itu turun dengan kecepatan dan kekuatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Kita harus pergi sekarang!” seru Jalimin pada istri dan anak-anaknya, Queena Aurora Athifa (15), Rainier al-Ahza (12), dan sang adik ipar, Putri (30).
Ia mengambil tas berisi ijazah dan dokumen penting di bawah ranjang, hanya itu yang sempat diselamatkan, lalu melemparkannya ke bagasi mobil. Waktu untuk berpikir sudah habis. Istrinya dan dua perempuan lainnya naik sepeda motor masing-masing, mengikutinya dari belakang.
Tapi ketika keluar ke jalan raya, yang mereka temui hanyalah buntu ,ke arah Paya Tumpi, badan jalan sudah dipotong banjir. Air dari parit melompat setinggi kap mobil. Ke arah Kala Lengkio, jalan sudah menjadi sungai. Jalimin memutuskan belok menuju Bebuli, walau tanah longsor kecil mulai turun dari kiri-kanan gunung.
Di depan Homestay Horas, mereka terpaksa melaju menembus longsoran setinggi lutut orang dewasa. Mobil dan motor berguncang hebat, namun berhasil melewatinya. Mereka berhenti sementara di depan Café Tujuh Semeja. Tapi hati Jalimin tidak tenang, ada satu tas ijazah milik Putri yang tertinggal di rumah.
Ia mengambil keputusan berisiko, kembali.
Bersama Rainier, ia naik motor Vario biru dongker milik Queena, melewati lagi longsoran di Horas yang semakin tebal, sesampainya di rumah di Dusun Mentari, Mendale, mereka tertegun. Halaman telah menjadi kolam besar setinggi dada orang dewasa. Batu, kayu, dan pecahan tanah mengapung di mana-mana. Rumah itu masih berdiri, namun tak ada jaminan bisa dimasuki dengan selamat.
Setelah berjuang menyingkirkan kayu tersangkut di pagar, Jalimin menyerah. Air naik terlalu cepat. Arus terlalu kuat. Rumahnya bukan lagi tempat kembali, tetapi ancaman.
Ia dan Rainier berjalan menembus arus setinggi dada anaknya. Dingin. Tajam. Dalam kepanikan itu, Rainier hanya menggenggam baju ayahnya, takut terlepas.
Ketika kembali ke Bebuli, longsor semakin besar. Motor mereka tak bisa lewat. Mereka memarkirnya di lorong Sagi Onom, lalu merangkak melewati longsor yang menutupi jalan. Saat itu, Jalimin melihat dua mobil jenis off-road terperangkap. Dalam hitungan menit, batu sebesar bus Pelangi menghantam dari atas. Kayu-kayu gelondongan ikut turun, menghancurkan mobil-mobil itu dan pagar Homestay Horas. Dua mobil dan satu excavator hilang ditelan lumpur. Jalimin hanya bisa menatap ngeri, menyadari: seandainya ia telat dua menit, mungkin ia dan anaknya sudah ikut lenyap.
Mereka akhirnya tiba kembali di Loyang Putri Pukes, dimana jalur menuju Bintang juga tertutup longsor. Hari mulai siang. Perut kosong. Hujan tak berhenti. Orang-orang sama-sama terjebak. Mereka berbagi biskuit dan air mineral dari karyawan Café Tujuh Semeja.
Dan ditengah hujan yang menyayat kulit itu, Queena menangis ketakutan. Ia berdiri berjam-jam, tak berani duduk, jika tanah bergerak lagi, mereka hrus lari.
Mereka berdzikir, Air mata bercampur hujan. Hanya doa yang terasa kokoh pagi itu.
Hari udah siang, mereka belum sarapan pagi. Perut akhirnya diisi dengan roti biskuit dan air mineral yang diberikan oleh karyawan Tujuh Semeja yang ikut terjebak. Selain mobil Jalimin, empat mobil lain ikut terjebak, dua diantaranya mobil karyawan Tujuh Semeja tadi.
Dari kejauhan, Jalimin melihat Kampung Mendale sudah berwarna kuning. Mereka terjebak di tengah-tengah, di depan dan belakang tanah longsor, di kiri atas gunung suara gemuruh seperti petir, di kanan Danau Laut Tawar hujan terus mengguyur deras. Balikin dan keluarga memilih keluar dari mobil dan berdiri sejauh 5 meter dari mobil untuk berjaga-jaga jika terjadi longsor. Dua sepeda motor parkir di samping mobil, sementara satu sepeda motor terjebak dan parkir di pinggir jalan Sagi Onom tadi.
Di tengah guyuran hujan itu, Queena Aurora Athifa menangis ketakutan. “Kami seperti anak tikus diguyur hujan, kami berdiri berjam-jam, dan tidak duduk untuk berjaga-jaga, biar cepat lari,” Kisah Jalimin.
Menjelang sore, Jalimin memarkir mobil dan dua motor di depan Homestay Loyang Pukes milik Karimansyah, mantan birokrat Aceh Tengah. Saat itu ia sedang membersihkan beberapa bagian dari homestay. Ia mempersilakan Jalimin berteduh disana.
Pukul 06.00 sore, atas saran Karimansyah, Jalimin memanggil perahu boat Mendale yang melintas. Dengan perahu BUMK Mendale Jalimin dan keluarga menyeberang ke Dermaga Alfitrah, lalu berjalan kaki menuju Masjid Agung Ruhama Takengon. Tempat biasanya mengungsi sampai saat ini.
Ia mendengar, hampir seluruh warga Mendale, Kala Lengkio, dan Lot Kala mengungsi ke Masjid Al Abrar Kebayakan. Tapi Jalimin memilih ngungsi di Masjid Ruhama karena lebih mudah dicari dari Dermaga Alfitrah.
Keesokan harinya, longsor besar kembali turun pukul 04.00 WIB. Rumah Jalimin tertelan hampir seluruhnya. Yang tersisa hanyalah dinding bagian bawah itu pun penuh lumpur tebal. Lebih dari 30 rumah di Dusun Mentari lenyap ditimbun tanah dan air. Puluhan sepeda motor hilang atau rusak berat.
Takengon menjadi kota mati. Sinyal telepon mati. BBM habis. Harga beras melonjak menjadi Rp500.000 per karung 15 kg. Nasi bungkus berisi telur bulat dijual Rp20.000 dan jumlahnya terbatas. Banyak warga hanya makan biskuit dan air untuk bertahan hidup.
Perjalanan Jalimin Gayo dan keluarganya adalah satu dari ratusan kisah ketabahan warga Mendale dan Tanah Gayo. Mereka kehilangan rumah, harta benda, dan rasa aman. Namun satu hal tersisa, daya hidup. Dan itu sudah cukup untuk memulai lagi meski dari lumpur, dari puing, dari rasa takut yang masih menggantung sampai hari ini. (Red)








