Pengamat: Jika Ingin Menang di 2024 Mualem Harus Punya Konsep yang Jelas

LINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Publik Aceh kembali ramai setelah Ketua Umum Partai Aceh (PA) Muzakir Manaf berencana mengandeng Ramli MS sebagai pendampingnya calon wakil Gubernur pada Pilkada tahun 2024 mendatang.

Sebelumnya Partai Aceh jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan Muzakir Manaf (Mualem) sebagai calon Gubernur Aceh pada Pilkada tahun 2024 nanti, namun belum belum memutuskan Calon Wakil.

Namun sehari kemudian juru bicara Partai Aceh Nurzahri mengklarifikasi bahwa penentuan calon Wakil Gubernur mendampingi Mualem belum final dan belum ada keputusan Partai Aceh, hingga akhirnya isu ini, tidak lagi menjadi isu hangat.

Atas pemberitaan tersebut, tentu terjadi pro dan kontra di kalangan internal terkait duet pasangan Mualem dan Ramli, MS.

Menanggapi manuver Politik Mualem dan Partai Aceh, pengamat politik dan kebijakan pubilk Aceh Usman Lamreung memprediksi, Partai Aceh dan Mualem sudah istiqomah maju merebut kursi nomor satu Aceh pada pilkada tahun 2024, sementara Partai lain masih malu-malu dan belum pede untuk mengungkapkan Balon Gubernur dan Wakil Gubernur

Meskipun baru-baru ini sempat muncul Nama Nasir Djamil dari Partai Kejadian Sejahtera (PKS) namun masih belum final dan masih terkesan malu-malu balak-blakan ke publik

“Partai Aceh sejak tahun 2020 sudah mendeklarasikan Mualem sebagai calon Gubernur Aceh, dan ini sudah final, tidak ada nilai tawar lainnya. Namun sejak di deklarasikan Mualem sebagai calon Gubernur, kita belum melihat visi masa untuk depan Aceh, dan program program unggulan Aceh keluar dari berbagai ketinggalan dengan Propinsi lain,” ungkap Akedemi UNAYA tersebut pada Jumat 10 September 2021

Menurutnya, Partai Aceh masih berkutat pada isu-isu MoU, dan berbagai turunan implementasi UUPA, padahal dalam berbagai turunan tersebut perlu disiapkan program-program skala periotas Aceh masa depan, yang selanjutnya dijual pada rakyat.

Salah satunya skala periotas harus disiapkan oleh Cagub dan Cawagub mendatang bila Aceh berakhir anggaran DOKA/Otsus, karena dampaknya sangat besar, dan ini harusnya menjadi dasar pijakan agar masa depan Aceh agar tetap mampu keluar dari kemiskinan, dan mendapatkan kesejahteraan.

“Calon Gubernur sudah harus punya obat jitu, agar Aceh terobati dan sembuh kembali dari sakit, kembali bangkit biarpun dana otsus berakhir. Harus ada konsep, dan visi yang jelas, agar masa depan Aceh yang dicita citakan para syuhada tercapai,” saran Usman Lamreung

Kata Usman Partai Aceh di Pilkada/Pileg tahun 2024, juga harus menjadi pertimbangan, karena ini masa-masa sulit, tentu menjadi pertarungan hebat untuk mampu merebut kembali hati rakyat Aceh.

“Bila hati rakyat Aceh tidak lagi bersama dengan Partai Aceh, tentu akan menjadi dilematis, pastinya kekuatan politik lokal runtuh, tanpa lagi bargaining dengan pemerintah pusat. Pada akhirnya apa yang diperjuangkam selama ini menjadi sia-sia,” imbuhnya

Hal itu harus menjadi PR besar buat Partai Aceh, pada Pileg/Pilkada 2024 pemilih bukan lagi rakyat Aceh ideologis, namun rakyat Aceh milenial yang sangat sedikit memahami sejarah perjuangan Aceh, tentu bakal sangat sulit buat Partai Aceh untuk menyakinkan mereka memilih Partai lokal tersebut.

“Sudah seharusnya Partai Aceh tidak lagi menganggap dirinya sebagai kekuatan lokal saat ini, bila sampai saat ini masih belum melakukan reformasi internal, termasuk pengkaderan, agar berbagai dampak yang akan terjadi bisa diantisipasi dan masa depan partai Aceh masih tetap menjadi pilihan hati rakyat Aceh,” pungkas Uman Lamreung (Red)