
LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Ratusan Ha Sawah di Enam Desa di Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen kering diakibatkan tidak adanya suplai air dari aliran Irigasi Pante Lhong, Teupin Mane, Juli.
Sawah yang kering tersebut berada di Gampong Pulo Lawang, Teupok Baroh, Paloh Seulimeng, Blang Seupeung dan Blang Gandai, dan Abeuk Usong, Kemukiman Blang Blahdeh, Kecamatan Jeumpa, Bireuen.
Persoalan keringnya sawah di enam Gampong tersebut sudah terjadi selama puluhan tahun, semenjak awal mulanya dibangun irigasi yang berhulu di Daerah Aliran Sungai Krueng Peusangan, teupatnya di Teupin Mane, Juli.

Hal itu diungkap Ibrahim Sulaiman, salah seorang petani warga Desa Teupok Baroh kepada Lintasnasional.com, Jum’at sore, 15 Oktober 2021, bersama puluhan petani sawah lainnya.
Ibrahim mengungkapkan, sejauh ini para petani di enam gampong itu selalu kesulitan air, sehingga tiap Tahun mengalami gagal panen.
Para petani di enam Gampong itu mengeluh akan kondisi sawah yang mulai kering sehingga banyak padi yang baru ditanam kerontang dan perlahan menguning, lalu mati.
Setiap tahun, kata Ibrahim, selepas musim tanam tiba, masalahnya adalah suplai air dari irigasi yang sudah dibangun sejak tahun 1993.
Padahal, tambahnya, setiap tahunnya iragasi tersebut selalu ada perawatan, bahkan tahun ini dikutip uang dari kampung-kampung untuk pembuatan pintu air yang rusak. Alasannya supaya air ke sawah dapat dialirkan.
“Itu diakibatkan minimnya suplai air untuk sektor pertanian, khususnya sawah. Kata penjaga pintu air ada kendala di pintu air,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, permasalahan tersebut semakin tahun semakin komplek, bahkan para petani sawah tidak tahu harus mangadu kemana. Karenanya, para petani di lima gampong itu hanya menggantung nasib pada air tadah hujan.
“Di sini kami menamam padi ketika musim hujan tiba, sebab tak bisa mengharapkan suplai air dari irigasi. Sejauh ini irigasi sama sekali belum bisa memberi manfaat kepada petani sawah,” ujarnya.
Selain itu, Ibrahim menjelaskan alasan yang selama ini mereka dapatkan, baik dari Keujrun Kecamatan maupun penjaga pintu air yang berada Gampong Blang Rheum yang selalu mengatakan bila pintu air dibuka ke kemukiman Blang Blahdeh maka airnya akan meluap dan membanjiri Gampong Cot Iboh.
Alasan yang komplek dan bertele-tele itu, sebut Ibrahim, tak dapat diterima logika. Pasalnya, ketika musim bajak sawah pintu air dibuka, toh tidak meluap ke Gampong Cot Iboh.
“Saat musim bajak pintu air dibuka, tapi ketika sudah musim tanam pintu air ditutup, dan yang amat tak masuk akal lagi ketika musim hujan pintu air juga dibuka, namun tak ada pihak yang komplain akan banjir,” ungkapnya.
Hal senada juga diutarakan Arahman Yusuf, kepada lintasnasional.com ia meluapkan kekesalannya terkait masalah yang menurutnya tidak sepele.
“Akibat dari tidak adanya suplai air ini berakitat fatal kepada sesama petani. Bahkan kerap terjadi cek-cok dan keributan sesama petani karena merebut suplai air di malam hari,” katanya.
Menurut Arahman, mereka telah beberapa kali datang menyampaikan permasalahan itu kepada penjaga pintu air, namun sampai hari ini pintu air tersebut tak kunjung dibuka.
“Untuk menaman padi kami hanya mengharap rahmat hujan dari Allah SWT,” katanya.
Sementara itu, Arahman menyebutkan, para petani tidak meminta apa-apa, selain meminta saluran irigasi yang maksimal untuk bisa menaman padi selayaknya, demi kebutuhan hidup.
“Kami berharap persolan ini dapat diatasi oleh pihak terkait, di Pemkab Bireuen sebab selama ini kami sudah bertahun-tahun dalam keadaan yang sedemikian parah saat menanam padi,” tutupnya.
Hingga berita ini dirilis, pihak media belum mendapat keterangan dari penjaga pintu irigasi dan pihak terkait lainnya, terkait kondisi dan permasalahan yang dihadapi ratusan petani di Kecamatan Jeumpa. (Adam Zainal)








