Abu Mudi dan COVID19, Antara Percaya dan Tidak!

Oleh: Mirnani Muniruddin Achmad, M.A

Tahukah saudara,
Setiap hampir tiba masanya Bulan Ramadhan ataupun penetapan 1 Syawwal..
Abu Mudi selalu menjadi pemberi angin segar bagi ummat Islam khususnya rakyat Aceh dalam perbedaan penetapan tanggal tersebut.

Kenapa tidak?
Abu selalu menyarankan kami murid-muridnya untuk tetap mengikuti apa yang telah ditetapkan pemerintah, selama itu tidak bertentangan dengan hukum Allah SWT.

Hati tentram dan kami tinggal tunggu pengumuman dari Pemerintah
Tak ada lagi dawa-dawi, walau ada perbedaan tak sampai menjadi keributan,
Bukan tanpa alasan, Abu sendiripun mengambil teladan ini dari Ulama-ulama besar Aceh terdahulu, yakni Abon Aziz (Abon Samalanga), Abu Tanoh Mirah dan Abon di Tanjongan.

Ulama terdahulu yang selalu menyarankan untuk mengikuti apa yang disampaikan “Ulil Amri”, dalam hal ini yang dibidangi Menteri Agama Indonesia.

Dan sekarang, Kita Rakyat Aceh khususnya sangat berduka dengan ditetapkan Abu dengan positif Covid-19, Penyakit yang sudah berganti tahun masih saja menghantui dunia, tanpa kejelasan obat yang ada.

Ada yang menanggapinya sedih, kecewa,
Ada yang menanggapinya tenang dan tetap dalam berdo’a, Namun tak sedikit pula bahkan marah sampai saling menyalahkan.

“Sabotase?
Tak percaya adanya Covid-19
Corona nyoe corona jeh! Dan berbagai macam dugaan lain yang di”tuduh” kan kepada pihak Rumah Sakit maupun Pemerintah.

Padahal Covid -19 benar adanya seperti disampaikan oleh Menteri Kesehatan Terawan dan dikuatkan kembali dengan pernyataan WHO bahwa Covid-19 sebagai pandemi global.

Baca Juga:  Refleksi 17 Agustus, Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Masyarakat Aceh Ditengah Pandemi Covid19

Dan yang menyampaikan hal ini adalah Pemerintah melalui ahlinya di bidangnya kesehatan, Menteri Kesehatan.

Artinya apa?

Covid-19 Bukan main-main.
Walaupun ada isu yang menyatakan Covid-19 hanyalah “permainan” sejumlah orang yang berkepentingan, Intinya Kita hanya mampu melihat yang lahiriah saja,
Urusan hati bukanlah kapasitas kita sebagai manusia biasa Itu semua kita serahkan kepada Allah SWT. Bukankah kita punya akhirat? tempat tetapnya keadilan nanti kelak.

Dan saya yakin, Abu adalah orang yang taat pada pemerintah, Abu yang selalu mengikuti protokol kesehatan yang disarankan pemerintah, Kenapa Abu bisa Covid-19?
Anggap saja ini cobaan Allah SWT kepada kita agar terus mendo’akan ulama kita dan tentu saja membua kita lebih dekat dengan Allah, yang jelas tugas kita taat kepada pemimpin, Ikuti protokol kesehatan, pakai masker, biasakan cuci tangan dan lain sebagainya, lakukan selama itu untuk kebaikan kita.

Jangan juga sampai menjadi PARNO gara-gara penyakit ini, Seolah kalo sudah positif Covid-19 akan segera mati, Covid-19 hanya penyakit, dan kita harus yakin, Allah telah menyediakan obat disetiap penyakit yang Allah berikan, kecuali KEMATIAN…

Allah melarang kita hambaNya untuk berputus asa, Tugas kita berusaha dan berdo’a, Bukankah kita punya Allah sebagai tempat kita menyerahkan segalanya?

Baca Juga:  Hidup di Aceh, Sebagai Pemilik, Pengelola atau Gerombolan Pencuri?

Walaupun saya juga berada pada pihak “Bingung”, yang harus menanggapi status Abu sebagai pasien Positis Covid-19, walau hanya lebih kurang 5 tahun menjadi santriwati MUDI Mesra Samalanga, namun ikatan kuat antara guru dengan murid tak bisa lepas begitu saja, Nasi pun terasa hambar hari itu.

Sedikit tidaknya merasa merinding dan teringat kembali bagaimana rasanya ketika Sahabat Umar bin Khattab yang tak percaya ketika Nabi Muhammad SAW telah wafat.

Tak ada yang salah di sini, ini hanya karna memang rasa cinta rakyat Aceh kepada Ulama sangat menggebu sejak zaman dahulu, Saya yakin, jika saja bisa berganti posisi dengan Abu, banyak yang ingin menggantikan Abu di rumah sakit.

Inilah Aceh, yang sudah turun temurun mencintai Ulama Sang Pewaris Para Nabi,
Kita do’akan saja semoga Abu segera diberikan kesembuhan oleh Allah SWT,
Selipkan sedikit saja do’a di setiap usai shalat kita dan do’akan agar Abu kembali bisa menerangi kita ilmunya yang bermanfaat.

Untuk Abu, teruslah berjuang demi kami murid-muridmu yang masih membutuhkan siraman ilmu dari Abu.

Aaamieeen ya Rabbal ‘Aalamiin.

Penulis merupakan Guru MIN 13 Pidie Jaya, alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya