Aceh, Dari Sultan Merah Johansyah Hingga Nova Iriansyah (813 Tahun)

Penulis (kiri) Bersama Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah

Oleh: Nab Bahany Ahmad

Dalam literatur yang saya baca, sebagian besar sejarawan sepakat, bahwa Sultan Meurah Johan Syah (1205-1235 M) adalah Sultan pertama pendiri kerajaan Aceh, di Aceh Besar. Jauh sebelum berdirinya kerajaan Aceh Darussalam yg didirikan oleh Sultan Ali Mugayat Syah (1514-1530 M).

Dalam banyak referensi yg kita dapatkan menyenutkan, bahwa Sultan Meurah Johan Syah, sebagai Sultan pertama yg mendirikan kerajaan Aceh ini berasal dari Lingge tanah Gayo (sekarang Aceh Tengah). Ini artinya, Sultah Aceh pertama adalah seorang putra dari Gayo.

Yang kalau kita pelajari sejarah gelar ‘meurah’ secara lebih dlm lagi, akan kita temukan bagaimana hubungan Meurah Johan Syah pendiri kerajaan Aceh pertama di Aceh besar, dgn Meurah Puteh di kerahaan Pidie, dan Meurah Silu di Pase Aceh Utara. Itu semua terhubung kait dgn kerajaan Lingge di tanah Gayo.

Tapi hubungan itu akan kita bahas dlm kesempatan yg lain. Di sini kita akan fokus pada sejauh mana peran dan kontribusi, yg pernah diberikan masyarakat Goyo dulu dlm membesarkan kerajaan Aceh. Tidak hanya masa Sultan Meurah Johan Syah (1205-1235 M).

Tapi juga setelah Sultan Ali Mugayat Syah (1514-1530 M), mempersatukan semua kerajaan di Aceh dlm sebuah kerajaan besar yg diberi nama kerajaan Aceh Darussalam. Temasuk di dalamnya kerajaan Lingge dari Gayo, sejak 1514 bergabung dlm kerajaan Aceh Darussalam.

Meskipun, kerajaan Lingge itu telah bergabung dgn kerajaan Aceh Darussalam, mereka dapat terus menjalankan sistem pemerintahannya tersendiri, dgn segala aturan pemerintahannya sendiri. Karena sistem kerajaan Aceh Darussalam saat itu adalah Federal.

Datu Beru dan Gajah Putih

Bicara hubungan Gayo dgn kerajaan Aceh Darussalam, tentu saja tak lepas dari sejarah Datu Baru dan Gajah Putih. Datu Beru adalah seorang Hakim Agung dari kerajaan Lingge (Gayo), yg sangat berpengaruh di kerajaan Aceh Darussalam. Datu Beru diangkat oleh kesultanan Aceh sebagai ketua Makamah Pengadilan Darut Dunia di kerajaan Aceh.

Baca Juga:  "Makmeugang", Tradisi Warisan Nenek Moyang di Aceh

Dari profil yg kita dapatkan tentang sosok Datu Beru ini, ia adalah sosok yg alim, dan sangat adil dlm memutuskan perkara-perkara hukum di kerajaan Aceh. Nama Datu Beru sekarang diabadikan pada Rumah Sakit Daerah Kabupaten Aceh Tengah.

Sebagai Ketua Mahkamah Pengadilan di kerajaan Aceh, Datu Beru pernah menangani perkara pembunuhan Benermeriah (abangnya Sangeda) yang melibatkan Raja Lingge 14. Benermeriah dan Sangeda, keduanya adalah anak dari Raja Lingge 13.

Jadi, karena pembunuhan Benermeriah terbukti suruhan Raja Lingge 14 pd algojo istana, maka Datu Beru sebagai ketua Mahkamah Pengadilan Darud Dunia di kerajaan Aceh, yg menangani perkara Raja Lingge 14 memutuskan hukum Qisas, yang membunuh harus di bunuh.

Maka, sebelum eksekusi pembunuhan dilakukan PD Raja Lingge 14, Datu Beru sebagai Ketua Mahkamah Pengalan menanyakan pada Ibu Benermeriah, dgn pertanyaannya begini:

“Anak Ibuk Benermeriah sudah tiada (sdh meninggal), dan sekarang Ibuk tinggal bersama seorang adiknya Benermeriah, yaitu Sangeda. Sekarang paman Sangeda (Raja Lingge 14) juga akan tiada setelah menjalani hukum Qisas. Apakah Ibu rela, setelah Sangeda kehilangan abangnya Benermeriah, sekarang Sangeda akan kehilangan lagi pamannya?”, tanya Datu Beru pd si Ibu Benermeriah.

Atas segala pertimbangan, akhirnya si Ibu Benermeriah memaafkan Raja Lingge 14, atas pembunuhan yg dilakukan terhadap ponakannya Benermeriah. Dengan sdh adanya pemaafan dari Ibu Benermeriah pd Raja Lingge 14, maka batallah penjatuhan hukum Qisas terhadap Raja Lingge 14 yg diputuskan oleh Datu Beru di mahkamah pengadilan Darud Dunia kerajaan Aceh. Raja Lengge 14 pun selamat dari hukum Qisas.

Kemudian, menyangkut Gajah Putih yg dibawa dari kerajaan Lingge utk dipersembahkan kpd Sultan Aceh, dlm beberapa referensi yg saya dapatkan, Gajah Putih itu adalah jelmaan dari Benermeriah pd adik Sangeda, agar Sangeda dapat mempersembahkan sebuah Gajah Putih kepada seorang putri Sultan Aceh yg sangat diminatinya.

Baca Juga:  Membaca Gelagat Zaman

Setelah 813 Kemudian

Siklus sejarah memang selalu berulang. Walau dlm masa yg tdk bisa ditentukan. Atau bahkan utk diprediksi sekalipun. Siapa sangka, setelah Sultan Meurah Johan Syah putra dari daratan tinggi Gayo yg mendirikan kerajaan Aceh pertama 1205, sekaligus sebagai Sultan pertama memimpin kerajaan Aceh.

Setelah itu, dlm siklus sejarah yg sangat panjang, yaitu setelah 813 tahun kemudian, kepemimpinan Aceh kembali mengulang sejarahnya, yakni dgn kehadiran seorang putra daratan tinggi tanah Gayo menjadi orang nomor satu di Aceh, yaitu bapak Nova Iriansyah, yg kini menjadi Plt. Gubernur Aceh.

Tentu, zaman kepemimpinan Aceh masa Sultan Meurah Johan Syah, dgn zaman kepimpinan Aceh masa Gubernur Nova Iriansyah saat ini memang sangat jauh berbeda, dikarenakan selang masa yg sangat jauh pula. Dan kita tak bisa menggambarkan perbandingannya, bagaimana gaya Sultan Meurah Johan Syah dulu memimpin kerajaan Aceh, dgn gaya pak Nova Iriansyah dlm memimpin Aceh sekarang ini.

Tapi bukan itu yg mau kita bilang, ingin kita petik di sini adalah bamaimana proses kehaonisan sejarah yg telah pernah berlangsung, antara orang daratan dari tanah tinggi Gayo dgn orang pesisir di kerajaan Aceh.

Bahwa dari gambaran sejarahnya dulu tak ada dikotomis, apa lagi yg namanya primordialis. Semuanya menyatu dlm sebuah tatanan, apa yg kemudian disebut sebagai peradaban Aceh. Artinya, Aceh ini adalah sebuah bangsa yg pernah menyatu dlm sebuah peradaban.

Dan karena penyatuan peradaban itulah, yg telah mengantarkan Aceh di abad 16-17, menjadi sebuah kerajaan Islam terbesar kelima di dunia.

Tentu Aceh tak mungkin lagi mengulangi kejayaan sejarah itu. Tapi paling tidak, sejarah telah banyak mengajarkan kita dlm memimpin dan membangun sebuah bangsa, utk dikenang oleh generasi setelah kita.

Penulis Merupakan Budayawan, Tinggal di Banda Aceh