LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Ketua GP Ansor Bireuen, Khaidir, menyampaikan protes keras terkait penggunaan sekitar 500 unit mobil operasional Bank Syariah Indonesia (BSI) di Aceh yang ber plat BK (Sumatera Utara).
Hal itu disampaikan Khaidir kepada media ini pada Kamis 2 Oktober 2025, menurutnya, langkah tersebut tidak mencerminkan komitmen BSI untuk mendukung pembangunan ekonomi daerah, khususnya melalui kontribusi Pajak kendaraan bermotor di Aceh.
“Ini jelas merugikan Aceh, dengan jumlah kendaraan sebanyak itu, seharusnya pajaknya masuk ke kas daerah dan bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat. BSI sebagai bank yang beroperasi besar di Aceh mestinya mendukung penuh pertumbuhan ekonomi daerah, bukan justru mengalihkan potensi pajak ke Provinsi lain,” tegas Khaidir
Selain persoalan kendaraan operasional, GP Ansor Bireuen juga menyoroti minimnya keterlibatan putra-putri Aceh pada posisi strategis di tubuh BSI.
Menurut Khaidir, kehadiran BSI di Aceh harus dibarengi dengan pemberdayaan sumber daya manusia lokal, sehingga masyarakat Aceh benar-benar merasakan manfaat langsung dari keberadaan Bank Syariah terbesar di Indonesia ini.
“BSI tidak hanya dituntut hadir secara fisik, tetapi juga harus memberi ruang lebih besar bagi putra-putri Aceh di level manajerial dan strategis, dengan begitu, ada transfer pengetahuan, keterlibatan nyata, dan kebanggaan masyarakat terhadap BSI. Kami mendukung BSI, tapi kebijakannya harus selaras dengan kepentingan daerah,” tutup Khaidir. (Red)








