Mahasiswa KKN Unimal Gelar Trauma Healing di Peusangan Siblah Krueng

Mahasiswa KKN Relawan Unimal saat melaksanakan kegiatan trauma healing di SDN 6 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, pada Sabtu 31 Januari 2026. Foto : Ist

LINTAS NASIONAL, BIREUEN – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Relawan Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe melaksanakan kegiatan trauma healing bagi siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Peusangan Siblah Krueng, pada Sabtu 31 Januari 2026.

SDN 6 Peusangan Siblah Krueng sendiri berada di Desa Pante Baro Gle Siblah, salah satu desa yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.

Kegiatan trauma healing yang dilaksanakan mahasiswa KKN Relawan Unimal bersama DPL,  Ir. Nanda Savira Ersa, S.T., M.T., sebagai upaya pemulihan semangat belajar siswa pasca kondisi darurat yang terjadi.

Kegiatan tersebut diikuti dengan antusias oleh seluruh siswa setempat. Mahasiswa juga mengajak siswa untuk mengikuti berbagai aktivitas edukatif dan menyenangkan, seperti melaksanakan senam pagi sehat bersama, bermain permainan, mewarnai dan bernyanyi bersama.

“Kegiatan itu dirancang guna untuk membantu mengurangi rasa trauma sekaligus menumbuhkan kembali keceriaan mereka,” sebut Nanda.

Nanda menambahkan, kegiatan trauma healing itu bertujuan untuk memberikan dukungan psikososial kepada siswa agar tetap memiliki semangat belajar, meskipun berada dalam situasi yang belum sepenuhnya pulih.

“Melalui pendekatan bermain dan belajar, mahasiswa KKN Relawan Unimal berupaya menciptakan suasana aman, ceria, dan penuh kebersamaan,” ungkap Nanda.

Sementara itu, salah seorang guru SD Negeri 6 Peusangan Siblah Krueng, Mardiana, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada mahasiswa KKN Relawan Unimal yang hadir di sekolah mereka.

“Kehadiran mahasiswa disini sangat membantu kami dalam mengembalikan semangat belajar anak-anak, walaupun masih dalam kondisi darurat,” ujar Mardiana.

Mardiana menambahkan, keterlibatan mahasiswa sebagai pendamping siswa selama kegiatan trauma healing berlangsung sangat membantu siswa, karena bisa berinteraksi secara langsung.

“Semoga, kegiatan trauma healing ini dapat membangu anak-anak untuk kembali merasa nyaman dilingkungan sekolah dan termotivasi untuk terus belajar serta beraktivitas seperti biasa,” tutup Mardiana. [] (red/ah)