Proyek Irigasi Paya Geurugoh Bireuen 6,2 Milyar Dibangun Cilet-cilet Tanpa Saluran Pembuang

LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Pembangunan Saluran pembuang Daerah Irigasi Paya Geureugoh Kecamatan Gandapura yang bersumber dari APBK Bireuen Tahun 2020 senilai 6,2 Milyar menuai polemik dan tidak sempurna.


Pantauan lintasnasional.com pada Rabu 13 Januari 2021 di lapangan Saluran yang dikerjakan lebih kurang sepanjang 1,6 KM tersebut belum selesai dikerjakan sementara bagian yang sudah selesai sudah mulai retak dan bergelombang.

Menurut informasi yang yang diterima proyek tersebut sudah di PHO karena sudah mulai dikerjakan pada 14 Agustus 2020 dengan masa pelkasanaan 140 hari kalender namun hingga Januari 2021 masih dikerjakan.

“Aleh kontraktor baro, aleh pemborong pekerjaan awak baro, sang matee lampu watee di peugeot, saluran retak dum,” kata salah satu warga di lokasi pembangunan irigasi

Sementara itu irigasi yang dibangun tidak adanya saluran pembuang sehingga mengakibatkan para petani tidak bisa membuang air yang tergenang di sawah para petani di 7 Desa.

“Saluran dibangun cilet-cilet, tidak adanya pipa pembuang dari sawah ke saluran sepanjang irigasi, maka jadilah kolam baru di sawah masyarakat,” lanjutnya

Kepala Dinas PUPR Bireuen Fadhli Amir yang dikonformasi ke nomor 082367811xxx tidak menjawab telepon dan tidak membalas sms yang dikirimkan oleh pihak media.

Proyek irigasi tersebut dibawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bireuen yang dikerjakan oleh PT, Menara Suria Sakti beralamat di Jalan Medan-Banda Aceh Gampong Matang Geulumpang Dua Meunasah Dayah Kecamatan Peusangan.

Pasalnya semenjak dibangunnya irigasi yang terletak di Gampong Tanjong Bayu tersebut puluhan Hektar sawah digenangi air seperti lautan karena saluran yang dibangun tidak berfungsi sehingga petani gagal turun ke sawah sejak bulan September 2020 lalu.

Sekretaris Desa Cot Rambat Kecamatan Gandapura Sabri mengatakan semenjak dibangunnya irigasi tersebut ratusan petani gagal turun ke sawah karena sawah tergenang air, sebelum dibangunnya Irigasi meskipun musim hujan air hanya tergenang paling lama 3 hari.

“Saluran pembuang sepanjang 1,6 KM yang dibangun tidak berfungsi sama sekali membuat para petani tidak bisa membuang air yang tergenang sehingga gagal bercocok tanam, padahal diperkirakan saat ini sudah memasuki musim panen,” ujar Sabri pada Rabu 13 Januari 2021.

Katanya, sebelum dibangun jaringan irigasi tersebut, para petani dengan sangat mudah membuang jika sawah tergenang hujan dan mendapatkan air meskipun di musim kemarau.

“Para petani sangat dirugikan semenjak dibangunnya saluran irigasi yang tidak berfungsi tersebut, ada 7 Desa yang mengalami kondisi seperti itu diantaranya, Gampong Cot Rambat, Tanjong Bungong, Pulo Gisa Tanjong Mesjid, Blang Kubu, Tanjong Raya dan Mon Jeurijak Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen,” kata Sabri juga menjabat Keujruen Blang

Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu petani, M. Yahya ia juga mengeluhkan kondisi persawahan yang sudah berbulan-bulan digenangi air.

“Irigasi tersebut bukannya membawa manfaat tapi merugikan para petani, disaat musim hujan, kemana airnya kami buang, padahal irigasi yang dibangun menghabiskan dana milyaran tapi tidak berfungsi sama sekali,” kata M. Yahya sambil menunjukan puluhan Ha Sawah yang tergenang air.

Ia sangat berharap Pemkab Bireuen memperhatikan nasib para petani di daerah tersebut karena saat ini mereka tidak bisa turun ke sawah.

“Masyarakat disini 80 persen merupakan petani sawah, saat seperti ini kami hanya bisa duduk diam dengan memandang sawah seperti lautan, kami minta kepada Bupati Bireuen dan pihak terkait untuk segera mencari solusi,” kata M. Yahya (DM/Red)