Sepenggal Amanah Wali Hasan Tiro Untuk Generasi Aceh

Oleh: AUZIR FAHLEVI SH,

Hari ini rabu 3 Juni 2020, tanpa terasa sudah 10 tahun lamanya, seorang yang amat berjasa dalam histori perjuangan dan perdamaian aceh berpulang ke Ilahi rabbi.sosok heroik itu adalah Almarhum Yang Mulia Paduka Tgk Hasan Muhammad Ditiro, yang meninggal dunia pada Tanggal 3 Juni 2010 lalu.

Wali Hasan Tiro merupakan sosok dan pribadi yang bersahaja, berkelas dan memiliki daya intelektual yang luar biasa, keberadaannya tidak hanya dikenal ditingkat lokal atau nasional saja, tapi juga di kancah internasional.

Keyakinan perjuangannya melalui organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dinilai sebagai gerakan kiri dan makar oleh Pemerintah indonesia, Wali Hasan Tiro diuber dan akhirnya Wali Hasan Tiro memilih mengasingkan diri keluar negeri.

Spiritualitas perjuangannya diluar negeri tidak pernah berhenti, dengan berbagai cara dan siasat, Wali Hasan Tiro selalu bisa membuat masalah Aceh menjadi sorotan dunia internasional, Wali Hasan Tiro mampu membangun empati dan simpati masyarakat dunia untuk mengalihkan perhatiannya terhadap Aceh atas berbagai konflik kekerasan dan vertikal antara Aceh dengan Pemerintah Indonesia.

Rasanya hampir semua orang tahu bahwa sosok Wali Hasan Tiro adalah pribadi yang berkarakter dan sangat konsisten dengan apa yang menjadi komitmen perjuangannya, terlepas pada masa itu beliau bersebrangan dengan Pemerintah Indonesia tapi kalau kita ikuti rekam jejak beliau dan histori pengalaman organisasi seperti pernah aktif di Pemuda Republik Indonesia(PRI) dan Staf Penerangan Kedubes RI di PBB dan lain lain, rasanya tidak mungkin bila kemudian seorang Wali Hasan Tiro berkonfrontasi dengan Pemerintah RI.

Baca Juga:  Benda Diduga Bom di Flyover Banda Aceh Terikat Bendera Bulan Bintang

Itu cerita lampau, Wali Hasan Tiro telah pergi selama-lamanya meninggalkan kita semua selaku generasi Aceh masa hadapan peperangan dan deretan konflik kekerasan yang pernah mewarnai aceh adalah bagian dari sejarah yang tidak boleh dilupakan.aceh boleh saja “Gagal” memerdekakan diri sebagaimana tujuan dan cita-cita mulia Wali Hasan Tiro dengan perjuangan GAM nya, tapi itu tidak kemudian menjadikan kita sebagai generasi Aceh yang kerdil dan tidak maju.

Wali Hasan Tiro memang telah tiada tapi sejatinya kita harus ingat bahwa tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mampu “Memerdekakan” Aceh dari keterpurukan, kemiskinan dan kesenjangan sosial yang melilit Rakyat Aceh, betapa banyak kader dan anak ideologis Wali Hasan Tiro yang pernah dan kini menjadi pemimpin (Gubernur, Bupati/Walikota bahkan Wali Nanggroe) di Aceh, tidakkah mereka ingat sedikit saja tentang pesan dan amanah Wali Hasan Tiro?

Wali Hasan Tiro tidak pernah berwasiat agar ketika beliau meninggal lalu dibangun museum atau nama jalan atas namanya, Wali Hasan Tiro dalam berbagai kesempatan ketika masih hidup selalu mengamanahkan 3 hal penting kepada generasi Aceh yaitu Turie Droe dan Tusoe droe serta tidak rendah diri ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Baca Juga:  Aceh, Dari Sultan Merah Johansyah Hingga Nova Iriansyah (813 Tahun)

Hal terpenting lainnya yang harus kita ingat dan garis bawahi dari pesan dan amanah seorang Wali Hasan Tiro yaitu kita boleh saja kehilangan tahta dan harta benda, namun kita tidak boleh kehilangan harga diri (dignity) sebagai sebuah bangsa.

Our Fight is not about power, it is about dignity, it is only when all Acehnese have our dignity restored that we will be free”, ini adalah salah satu kutipan dalam buku Biography Wali Hasan Tiro yang artinya perjuangan kami bukan untuk kekuasaan, melainkan untuk sebuah harga diri, ketika seluruh rakyat Aceh sudah memiliki harga diri, maka pada saat itulah ia akan merdeka.

Setidaknya kita patut mengingat dan tidak melupakan sosok “Pahlawan Sesungguhnya” dibalik perjuangan dan perdamaian Aceh, hari ini genap 10 Tahun sudah Kepergian Wali Hasan Tiro,mari kita senantiasa mendoakan supaya Allah SWT melapangkan kuburnya dan diampuni segala dosa-dosanya..Amiin..Alfatihah!

Penulis Merupakan Ketua GeMPAR Aceh, Mantan Ketua Front Aneuk Nanggroe Aceh (FANA)