LINTAS NASIONAL – BIREUEN, Hingga tengah malam, korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Desa Meunasah Mamplam Kecamatan Simpang Mamplam terus bertambah hingga ratusan siswa.
Para siswa mengalami muntah-muntah setelah menkonsumsi Menu keringan MBG yang diantar ke rumah masing-masing pada Kamis 26 Februari 2026 sore.
Informasi yang diterima media hingga Pukul 00.30 dinihari korban keracunan yang dirujuk ke Puskesmas Simpang Mamplam sudah mencapai ratusan siswa.
Kepala Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani, mengatakan hingga Jumat dinihari korban keracunan MBG sudah mencapai Ratusan siswa dan masih terus bertambah.
“Kami langsung memberikan pertolongan pertama, kita sangat kewalahan, karena petugas dan peralatan medis terbatas ditambah jumlah korban hingga ratusan siswa,” ujar Suryani
Ia mengatakan pihaknya telah mengerahkan seluruh petugas yang ada, bahkan ada yang dibawa ke Puskesmas puskesmas tetangga bahkan ada yang dirujuk ke RSUD Fauziah.
“Sebagian korban juga ditangani di Sejumlah Polindes dalam Kecamatan Simpang Mamplam, karena keterbatasan kapasitas, sejumlah pasien terpaksa dirujuk ke puskesmas lain.
Ia menyebutkan para siswa mulai berdatangan ke puskesmas setelah berbuka puasa. Mereka diduga mengalami gejala keracunan setelah menyantap MBG yang dibagikan sore harinya.
“Korban datang setelah berbuka. Mereka diduga keracunan usai mengonsumsi MBG,” ujarnya.
Sumber Media ini di Simpang Mamplam mengatakan paket makanan tersebut diantar langsung ke rumah siswa selama Ramadan.
“Mereka mengonsumsi setelah diantar ke rumah, setelah sore hari,” kata seorang warga.
Informasi yang dihimpun menyebutkan MBG tersebut disalurkan oleh Yayasan Bumi Produksi Gizi. Selama bulan puasa, distribusi dilakukan dengan sistem door to door untuk menghindari pembagian di sekolah.
Zamzami, perwakilan Yayasan Bumi Produksi Gizi, mengatakan pihaknya masih menelusuri penyebab dugaan keracunan itu.
“Kami sedang mengecek di pemasok, di mana permasalahannya. Karena kami mengambil bahan dari supplier UMKM lokal. Informasi sementara mungkin di menu bakso,” ujarnya.
Ia mengatakan tim yayasan telah diturunkan untuk memeriksa seluruh rangkaian proses, mulai dari bahan baku hingga penyajian.
“Apakah dari menu atau proses lainnya, semua harus dicek,” kata Zamzami.
Menurut dia, selama Ramadan yayasan juga menyediakan menu kering sebagai alternatif. Seluruh menu, katanya, telah melalui pengawasan ahli gizi. Namun ia mengakui belum mengetahui jumlah pasti korban maupun penyebab kejadian tersebut.
“Kami berharap tidak ada korban lanjutan. Soal pertanggungjawaban, tentu kami bertanggung jawab dan akan mengevaluasi agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Zamzami.
Hingga berita ini diturunkan, jumlah siswa yang diduga terdampak masih terus bertambah dan sebagian masih dalam penanganan tenaga medis. (AN)








